Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENJEMPUT BAGINDA NABI



Oleh : Thibbiatul Mirza Amalya

Jubah putih terangnya kini telah terhampar, sunyi senyap suasana mematung menyimak melodi tutur katanya yang begitu indah. Begitupula para penuntun cahaya illahi yang datang berbondong-bondong penuh jihad, resapi segala ilmu kalamnya yang terucap. Dia berdiri kokoh berteman tongkat tuanya berdakwah. Membuai para insan untuk menjunjung tinggi baginda Nabinya. Inilah kejora yang datang sebelum waktunya telah tiba.
Begitulah kurang lebih malam yang indah bagi kami. Walau langit gelap itu tak bertabur bintang yang mengedipkan matanya setelah kami mendongak pada langit. Tapi, dibawah naungannya terdapat insan gagah yang memancarkan cahaya nan berkilau. Tepat di malam Maulid Nabi 1441 H yang begitu penuh dengan keberkahan-Nya. Dia mampu memantrai kami dan seluruh saudara kami dengan segala tindak tuturnya penuh hikmat.
“Dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah kita berbahagia dan bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. Berbahagialah kita semua telah dikirimkan kepada kami sosok suri tauladan yang dijadikan contoh dalam kehidupan kita setiap hari. Celakalah kami jika tidak mengenalnya dengan begitu dekat. Betapa kejamnya kami lebih mengenal baik selain sosoknya selama ini. Tak ada kata terlambat jika kita mau mengenalnya lebih dekat lagi.” (QS.10:08)
Dakwah quraninya penuh makna dan ma’ajiisnya penuh keindahan. Itulah yang membuat jendela jiwa kami tak terkedip sekalipun serta mulut kamipun tak menutup. Begitu menganga mengagung. Tutur kata yang dilontarkan dari lisan kesuciannya, detikkan hati, mantapkan hati, penuhi segala asa, begitu tersanjung menyimak setiap kalamnya. Begitu indah dan piawai menuturkannya, seolah tak dibiarkan bibir ini berhenti mengucap kata kekaguman untuknya.
Angin berhembus sepoi, menghembus sepoi. Rasa menggigil mulai dirasakan, tak terasa waktu terus berputar hingga malam mulai mengelam memetang. Lontaran-lontaran kalam tetap tertutur dari lisan kesuciannya. Mulai pencerahan tentang akhlaq sosok baginda rasul, hingga anjuran pengaplikasian akhlaq seorang rasul-rasul kecil penuntun cahaya (kami dan saudara-saudara) dalam kehidupan millennial ini.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. Ya Allah berikanlah sanjungan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berikanlah berkah kebaikan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kebaikan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” Shallu ala Nabi.
Melantun memanja, melodi shalawat yang berbisik namun terdengar hingga langit bagai angin keberkahan. Tetap indah dan menghipnotis jiwa kami untuk mencintai Rasul Muhammad SAW. Sungguh kami terhipnotis dan terhanyut kedalam lantunan shalawatnya. Kami pun ikut menyertakan shalawat kami penuh dengan kekhusyuan dan hikmat hingga kajian sucinya mencapai penutupan. Berpisahlah kami dengan rasa kesedihan yang menyelimuti.
               
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar