Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KUTUKAN TIGA KABISAT

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Mungkin kau tak perlu tahu tentang muasal diriku dan keluargaku, kau mungkin tak percaya bahwa ini semua adalah kutukan dari kakekku yang dulu pernah dikecewakan anaknya yaitu ayah, sebenarnya ini semua ulah kakek sendiri yang selalu berbuat keji tanpa tahu diri. Namun ia begitu keras kepala dan gegabah atas apa yang telah ia perbuat hingga perlahan menghancurkan hidupnya sendiri. Kakek dihukum oleh paduka atas tindakan anormal yang ia lakukan. Bukan kakek namanya kalau penderitaannya hanya dirasakan seorang diri,  tanpa tahu dosa ia menyebut nama ayah,  ibu,  adik dan aku saat proses pemberian mantra kutukan yang dibaca oleh paduka agung yang kemudian ia  harus menirukan usainya. Sialan,  Kakek keparat itu mengganti namanya dengan nama keluargaku. Sebab itulah kini keluargaku tertimpa kutukan naif dari orang tua payah itu. Dan yang lebih menjengkelkan lagi ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Kini aku bermukim di tengah hutan bersama jutaan jenis tumbuhan dan hewan. Karena itu aku dipanggil Florenza oleh mereka. Hampir sepanjang hari ku habiskan dengan berjalan menyusuri lebatnya hutan Rusia untuk mencari Edelwis, tak lain sebagai suplemen asupan energiku. Aku memang seperti manusia biasa namun ada sedikit perbedaan antara aku dan manusia umumnya. Aku bisa memahami isyarat fauna,  mampu mengendalikan seluruh flora serta mengatur pertumbuhannya. Saat malam bertandang, aku terlelap di pelukan hangat dedaunan di ranting pohon yang mencakar langit, jadi aku tak bisa terjaga di sembarang pohon. Jika aku sedang berada di wilayah yang tak satu pun tumbuh pepohonan tinggi maka aku meminta kepada mereka agar membuka tubuhnya lalu masuk untuk bersemayam di dalamnya.
            Tak selamanya aku berkelana menapaki luasnya rimba dengan suasana gembira. Musuh terbesarku selama ini adalah Schall dan kumpulan Cephalotus yang selalu mengusik kehidupan para serangga kecil tak berdaya. Schall adalah hewan semacam ulat daun namun uniknya mereka bisa berkamuflase layaknya bunglon. Mereka bermimikri untuk mengelabui tumbuhan yang dihinggapinya, jadi secara diam-diam daun mereka perlahan habis sebab digerogoti kaum Schall. Aku sendiri terkadang sangat geram mendapati banyak pohon yang berkabung sebab unsur pembangun kecantikan mereka cacat atau bahkan hilang. Sontak aku memanggil kawanan burung untuk menyerang dan memberontak mereka. Sebenarnya aku juga tak tega menyakiti mereka, Tapi bagaimanapun juga keadilan harus tetap ditegakkan sekalipun terkait hal-hal kecil. Tugasku hanyalah menciptakan kedamaian antar flora dan fauna, jika ekosistem mereka tertata dengan sehat maka banyak keuntungan yang bisa mereka peroleh. Bukan hanya mereka, tapi manusia pun akan merasakan keharmonisannya.
Jika berbicara tentang Ayah, ibu dan adik perempuanku. Mereka tidak tinggal bersamaku. Kita berempat berada di klen yang berbeda-beda. Aku dikutuk sebagai gadis penjaga alam yang tugasnya sudah ku ceritakan tadi. Ayah sebagai penjaga bumi yang tugasnya memberi kesuburan tanah,  jadi ayah bersemayam di dalam tanah. Ibu sendiri dikutuk sebagai penjaga lautan,  Ia tinggal di perairan Rusia bersama ribuan jenis hewan maupun tumbuhan laut. Sedangkan adik,  Ia berbaur dalam keindahan aurora, setiap kali aurora muncul di angkasa maka akan terlihat tubuh adik yang berwarna bak gemerlap aurora. Kata paduka,  kutukan ini akan berakhir jika telah melewati tiga kali tahun kabisat. Dimana tahun kabisat hanya terjadi selama empat tahun sekali, jadi masih sangat lama aku harus berbaur dengan alam dan pribuminya.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar