Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KISAH HUJAN DARI SANG GURU


Oleh: Mutiara Rizqy Amalia

Turunnya tirta saat hujan asam membuat setiap individu mengingat kenangan, mememenjarakan asa dan menghentikan langkah. Namun, dibalik setiap rintikan tirta menunjukkan keagungan Sang Maha Cinta, Sang Maha Segala. Allahumma soyyiban naafi'aa (Ya Allah jadikanlah hujan yang Engkau turunkan membawa manfaat). Dan namaku Naafik, seorang mahasiswa semester akhir yang penuh kisah tentang hujan.
Pagi itu, mentari tak menyapa bumi, awan abu menutupi sinarnya, gerimis hujan tak henti-hentinya menyirami tanah pertiwi sejak dini hari. Aku berteduh di bawah pohon alpukat yang mulai berbuah, tangan kiriku menenteng sepatu yang mulai basah terkena genangan air, tangan kiriku merangkul tas hitam yang berisi laptop dan bahan-bahan skripsi yang akan aku konsultasikan ke dosen pembimbing tercinta, Pak Musallim. Entah mengapa saat aku mau pergi konsultasi selalu turun hujan, dan Pak Musallim tidak menerima alasan apapun dan menyuruhku menerjang hujan dalam setiap kondisi dan situasi apapun. Tujuan beliau agar aku dapat menerjang setiap permasalahan yang mrnghadang di hadapanku.
Hujan pun mulai reda, lantas aku langkahkan kaki menuju ruang kecil namun menentramkan hati, iya ruang kerja Pak Musallim penuh dengan kaligrafi dan selalu kudengarkan murottal di dalamnya. Di ruang itu Pak Musallim sudah siap mengecek seluruh tulisanku.
"Eh.. Fik Assalamu'alaikum, gimana kabarmu? Masih semangat ya!" Sapa Pak Musallim
"Wa'alaikumussalam, alhamdulillahhh luar biasa semangat kalo ada smean pak hehehe" jawabku.
Beliau adalah salah satu dosen yang selalu siap siaga dalam situasi dan kondisi apapun. Selalu mengisi ulang semangat, dan tiada hentinya membawa alat kecil di jarinya, tasbih elektronik.
Tak lama aku duduk telepon Pak Musallim berdering, rupanya ada rapat mendadak. Pak Musallim memang salah satu orang tersibuk di kampusku, tapi sifat rendah hatinya yang selalu nampak dan membuatku jatuh hati kepada beliau dan sudah kuanggap sebagai bapakku.
"Assalamu'alaikum.... MasyaAllah Karimah, iya-iya ayah sebentar lagi pulang" jawaban beliau saat telepon.
Kukira ada rapat mendadak yang membuat pertemuanku dengan beliau dibatalkan lagi, ternyata ada hal lain. Karimah, iya dia adalah putri dari Pak Musallim. Selalu ada berita yang mengejutkan yang tidak aku ketahui tentang Karimah. Memang benar, Pak Musallim sudah menganggapku seperti anaknya, tapi beliau tidak pernah bercerita apapun mengenai Karimah. Faktor privasi keluarga mungkin yang menjadi alasannya.
"YaAllah Fik, maaf ya? Ayo samean ikut bapak ke rumah wes" ajakan beliau kepadaku
"hehehe enggeh Pak" jawabku.
Akhirnya aku ikut ke rumah beliau dengan mengendari mobil mewahnya. Dengan menerjang hujan deras di dalam mobil terjadi banyak percakapan yang mengarah pada Karimah.
"Bapak ini punya anak cantik, dia hebat seperti bundanya hahahha"
"wah alhamdulillah pak, seneng ya pak bersyukur. Saya makin ngefans ke njenengan hehehe"
"tapi semuanya tidak terlepas dari kehendak Allah kan fik?"
"hehehe enggeh pak, leres"
Sesampainya di rumah beliau, aku tertegun dan sontak terdiam. Rumah beliau bak istana megah dilengkapi masjid di samping rumah, masjid itu ramai anak-anak kecil berteduh dan melihat teman-teman mereka bermain bola dan hujan. Namun, dalam pikiranku bertanya, siapa mereka? Dan apa yang mereka lakukan di rumah Pak Musallim.
"kenapa fik? Jangan kaget kalo banyak bocil-bocil di rumah hehehe" sahut beliau. Rupanya beliau peka raut wajahku.
Lantas kami memasuki istana itu, dan aku duduk di atas sofa coklat, ruang tamu itu ukuran 10x8m dihiasi pernak-pernik buah tangan dari penjuru dunia, dan tidak lupa selalu ada dekorasi islami di sekelilinya. Selalu saja Pak Musallim membuat kejutan-kejutan tak terduga.
"Bentar fik tak tinggal ke belakang dulu" kata beliau.
"enggeh pak monggo" sahutku lirih.
Aku membuka laptop dan mengecek ulang tulisan-tulisanku. Sesekali aku melihat sekitar, mengamati betapa beruntungnya Pak Musallim, dan betapa solehnya beliau.
"piarrr"
Terdengar suara vas bunga terjatuh.
Aku spontan kaget dan bertanya, apanyang terjadi di belakang? Apa yang harus kulakukan? Lalu kulangkahkan kakiku menuju sumber suara, dan aku mengintip dari kejauhan ada Pak Musallim dan istri dengan anak perempuan berjilbab hijau tosca panjang menaiki kursi roda, baju anak itu basah semua. Siapa anak perempuan itu? Apa dia Karimah, putri sulung Pak Musallim? Tapi mengapa dia menaiki kursi roda?
"ehh fik, sini bantu bapak" suara Pak Musallim tang mengetahuiku sedang mengintip dari jauh.
"ini lo fi, anak bapak yang paling cantik, cantik seperti bundanya, tangguh setangguh bundanya. Waktu umur 2 bulan Karimah sempat kena korban tabrak lari waktu hujan deras sama bundanya, dan koma selama 8 hari. Dan Karimah divonis cacat seumur hidup, dan ini yang menyebabkan bapak banyak tirakat, ya karna anak saya. Bapak ingin Karimah melihat orangtuanya tidak putus asa. Karimah ditinggal bundanya seketika. Ini alasan bapak selalu menyibukkan diri, biar bapak ndak berlarut-berlarut mengenang kepergian bundanya Karimah, dan selalu menyukai hujan. Hujan mengajarkan banyak pelajaran, diantaranya sabar dan syukur. Menjadi orangtua harus terlihat tangguh dan memang harus benar-benar tangguh, harus bisa tirakat untuk keluarga terutama istri dan anak".
Sedikit kisah perjalanan Pak Musallim untuk keluarga, mampu tirakat untuk istri dan anak. Berjuang menerjang badai setiap permasalahan dengan sabar dan syukur. Di balik orang hebat akan selalu ada jurang curam yang membuatnya naik ke bukit.












Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar