Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KH. ABDUL FATTAH HASYIM


    Oleh : Ainu Habibi

     Beliau dilahirkan di sebuah dusun kecil yang bernama kapas, Jombang. Tepatnya pada tahun 1911 (sekitar decade 20-an) dimana Rakyat Indonesia masih berada dalam genggaman pemerintahan Belanda. Beliau adalah putra pertama dari empat bersaudara atas pasangan suami istri KH. Hasyim Idris (Kapas, Jombang) dengan Ibu Nyai Hj. Fathimah Binti KH. Chasbulloh Bin KH. Abdussalam (Tambakberas Jombang). Adapun saudara pertamanya bernama Maisyaroh (istri KH. Nur Salim, Mayangan) kemudian KH. Abdul Wajib dan yang terakhir bernama KH.Faiq Hasyim (tinggal di Kediri).
     Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu dimulai dari gemblengan ayah Beliau sendiri yakni KH. Hasyim yang terkenal dengan sosok ahli tarekat. Dan beliau tidak setengah-setengah dalam mendidik putra-putrinya. Maka tak heranlah Beliau yang sejak kecil di didik dengan tegas dan keras sehingga tumbuh menjadi sosok yang memiliki disiplin dan berdedikasi tinggi.
     Kehidupan beliau yang tak lepas dari dunia pesantren yang sarat akan berbagai disiplin ilmu. Telah membawa timbulnya “CHUBB” pendidikan beliau di Tambakberas, kemudian beliau meneruskan ke pondok pesantren panji, Sidoarjo selanjutnya beliau mondok ke Tebuireng, Jombang. Ketika mondok di Tebuireng beliau inilah kecemerlangan ilmu beliau mulai tampak sehingga sang guru yakni KH. Hasyim Asy’ri memberikan kepercayaam kepada beliau (tangan kanan) semisal beliau sering kali menjadi “badal” manakala sang guru berhalangan untuk hadir memenuhi undangan dakwah di daerah-daerah, bahkan beliau juga sempat ditugaskan mengajar selama beberapa tahun di daerah Bojonegoro.
      Beranjak dewasa, maka semakin dekatlah masa untuk menempuh hidup baru tepatnya pada tahun 1938, akhirnya beliau mengakhiri masa lajangnya dengan menerima perjodohan orang tua beliau dengan putri KH. Bisyri  Syamsuri dari Denanyar, Jombang yang bernama Nyai Hj. Musyarofah yakni masih famili beliau sendiri dari nasab sang kakek yakni KH. Chasbulloh atau saudara sepupu beliau.
     Setelah menikah, beliau menetap di Denanyar sehingga banyak santri yang hhijrah ke Denanyar yang ingin mengaji kepada beliau. Semua itu karena ketelatenan dan keuletan beliau dalam mendidik santri-santri sewaktu beliau masih menjadi tangan kanan gurunya. Namun beliau hanya sempat mengajar sampai pada tahun 1942 karena beliau merasa terpanggil untuk kembali ke Tambakberas menggantikan ayahnya yang telah berpulang ke Rahmatullah dengan diikuti santrinya sebanyak 40 santri. Meskipun demikian, beliau pulalah yang turut memprakarsai berdirinya Madrasah di Pondok Pesantren Denanyar.
      Baru beberapa saat di Tambakberas, beliau mulai mendapati masalah besar yakni Madrasah harus ditutup karena adanya larangan dari pemerintah yang pada saat itu berada dalam genggaman Jepang. Betapa rumitnya masalah ini, sebab bagaimanapun juga rakyat Indonesia harus mendapatkan pengajaran yang mana sangat berperan sebagai wahana terbaik dalam proses belajar mengajar. Sebagai ketua pengurus Madrasah, maka beliau merasa bertanggung jawab penuh atas hal ini (sebelumnya diketuai oleh KH. Abdur Rochim yang telah wafat). Beliau diangkat sebagai ketua pengurus Madrasah oleh KH. Abd. Wahab Chasbulloh. 
      Atas inisiatif KH. Abd. Wahab Chasbulloh, dibuatlah rekomendasi kepada pemerintah Jepang agar Madrasah dapat dibuka kembali. Namun permohonan yang mengatas namakan Ranting NU tersebut ditolak dengan alasan bahwa Jam’iyyah NU belum mendapatkan izin untuk melanjutkan pergeraknnya. Namun perjuangan sang Kyai tak hanya sampai disitu saja, kemudian beliau (KH. Wahab) mengajukan rekomendasi yang ke-dua kalinya dengan mengatas namakan guru atau pengajar Pondok Pesantren Tambakberas yang akhirnya diterima juga oleh pemerintahan Jepang., maka Madrasah pun dapat dioperasikan  kembali dengan syarat KH. Abd. Fattah sendiri yang harus bertindak sebagai ketua dengan wakil Bpk. Mukmin (Tegal, Jawa Tengah) dan beberapa orang yang turut membantu beliau, diantaranya adalah:
1.      KH. Abdul Djalil (Bulak Mojokrapak, Jombang)
2.      KH. Abdur Rochim (sepupu Kyai Djalil)
3.      Bpk. Zubair (Tegal Jawa Tengah)
4.      Bpk. Shoichah (Tambakberas, Jombang, ayah Bpk. Ashori)
Meraka semua harus disumpah dihadapan pemerintah Jepang, dengan ancaman apabila tidak melaksanakan segala sesuatu yang telah disyaratkan oleh pemerintah Jepang, maka mereka akan dihukum mati. Kemudian Madrasah dioprasikan kembali pada bulan Dzul Qo’dah tahun 1362 H. yang dibuka lngsung oleh Wedana Jombang pada saat itu. 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar