Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEEGOISANKU MEMBUATKU DURHAKA


Oleh : Daiyatul Choirot

Kala itu masih terbilang tanggal-tanggal awal bulan Juli, aku masih terbilang juga agak sensitive dengan kata-kata kembali ke pondok, apalagi jadi santriwati baru di pondok, seakan-akan ada beban 10 ton di kaki dan di pundak, dengan alasan pertamaku mungkin waktu liburan masih terbilang masih sekitar satu bulan kurang, dan aku harus balik ? tanyaku dalam hati. Dan kejadian seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi di hadapan kedua orang tuaku, karna itu sudah menjadi habit ku.

Niatku yang ingin berangkat sendiri kala itu akhirnya gagal gegara orang tuaku yang melarang dan berkeinginan mengantarku, keputusan yang mendadak juga menurutku, untung belum pesen travel pikirku dalam hati. Tapi entah mengapa juga tepat hari itu aku merasa moodku dari pagi emang lagi bad banget, mulai dari merapikan baju buat berangkat sampai pas keberangkatan, yang  mana niat ku mau berangkat pagi biar sampai malang bisa agak sore, tapi bener-bener tidak sesuai niat. Aku jadi berangkat habis ashar, karna harus nunggu orng tua pulang dari sekolah, dan baru kutanya alasan kenapa ingin mengantarku. “ayah mau nganter surat undangan ke mbah marzuqi da”, jawab ibuku. Dari situ aku mulai berfikiran tidak enak, ini nggak mungkin aku sampai malang sekitar jam 9 malem, mesti lebih.

Ternyata bener, adzan maghrib aku baru sampai di jombang, dan dalam keadaan malam minggu kala itu, hmm betapa macetnya, hingga kami akhirnya memutuskan untuk sholat jama’ qhosor maghrib dan isya’, sampai akhirnya kami bisa keluar dari jalan macet dan menemukan warung makan depan pondok Denanyar, gegara adikku hampir mau nangis karna kelaparan, namanya juga lagi bad mood ditanya apa aja juga mesti jawabannya gitu, hmm hmm dan hmm, apalagi masalah laper, yang kala itu berubah tiada kata-kata lapar kala itu, tapi namanya juga orang tua apalagi ibuk, ibuk tidak bisa kalau tahu anaknya gak mau makan, jadi meskipun 2 atau 3 sendok harus kemasukan nasi, hingga muncak-muncak lah rasa bad moodku hingga aku agak menaikkan nada omongku kepada ibuku, “kalo gak mau makan ya gak mau, aku gak laper, aku mau nyampek pondok sekitar jam 9 kalo gak 10”. Entah setan yang bagian apa kala itu merasukiku. Tapi ibuk hanya bisa diam kala itu, dan aku yang sampai sekarang keinget ngerasa bersalah tingkat dewa banget.

Sampai pada pukul 23.00 kami memasuki wilayah malang, “da ini hafal gak jalan nya, kan udah wilayah malang ?” Tanya ayahku, “ya nggak lah namanya juga baru berapa bulan di malang, mana ku tahu” jawabku dan ayahku hanya bisa senyum kala itu, hingga akhirnya teman ayah, sebut saja gus farih, membuka google maps. Tapi yang terjadi kita malah kesasar sampai beberapa jam, yang pertama ke tidar, villa bukit tidar, dan sekitar joyogrand. Itupun karna kesalahanku aku bilangnya perum cemara tidar, sampai akhirnya baru ku tahu kalo google maps salah dan dirubah, hingga pas tepat di depan pondok gasek, gus farih sadar, “oowwhh ini kan pondok mbah marzuqi ya” “inggeh” jawabku “kalo samean bilang sekitar pondok nya mbah marzuqi saya ya tau nduk” tegasnya “inggeh supe kulo” terusku. Dan kami tepat sampai di depan pondok jam 24.00. langsung ku ketuk gerbang pondok, salam, telvon orang yang ku kenal. Tapi nihil, tanpa jawaban semua. Dan setelah itu aku berasa baru sadar dari apa yang telah aku lakukan sebelumnya, ku lihat wajah-wajah orang-orang yang mengantarku kala itu, letih, capek, kesel, dingin semua jadi satu. “tadi ayah udah bilang gimana kalo nginep di temen gus farih, di batu ?, tapi kamu gak denger”. “terus sekarang kita mau istirahat dimana?” tanyaku dengan keadaan sangat sangat dan sangat bersalahku, “ya udah ayo naik semua nya ayo nyari tempat penginapan yang deket sini” tegas gus farih.

Akhirnya kita keliling sekitar daerah tidar dan hasilnya pun nihil, “gimana kalo kita tidur di masjid saja, berhubung kita kan juga belom sholat, dan badan kita butuh cepet-cepet rebahan” kata gus farih, karna kalo difikir-fikir kalo di penginapan dengan keadaan jam 01.00 dini hari apa gak terlalu buang-buang uang juga nanti kita kembali ke pondok kan juga ba’dha subuh. “iya gus” jawab kami, dan pilihan terakhir kita kembali lagi ke perumahan bukit cemara tidar lebih tepatnya kita istirahat di masjid baiturrahman, aku sholat dengan keadaan nahan tangisku, “ya allah durhaka banget aku, gegara keegoisanku, aku mengorbankan ini semua” tangisku dalam hati. Sampai akhirnya mereka terlelelap dan aku hanya  bisa memandangi mereka dengan rasa bersalahku, ibuk yang kala itu tidur dalam keadaan memakai mukenah semakin menyayat hatiku kala itu, lalu ku bangun sejenak gimana keadan ayah, gus farih dan adek sepupuku fikirku, ya allah ternyata mereka tidur di luar, apa gak kedinginan ya allah, aku hanya bisa beristighfar kala itu.
Perjuangan dan pengorbanan orang tua memang tanpa batas.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar