Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CANTIK SAJA TIDAK CUKUP


Oleh : Neng Sumiyati

Segala hal yang berkaitan dengan keindahan, memang kerap kali diakitkan dengan perempuan, seolah menjadi takdir tersendiri dalam label tersebut, ada keindahan yang terukur misalkan mata atau hidung.Karena label keindahan tersebut juga, seolah menegaskan bahwa perempuan sangat menyukai keindahan, maka tidak heran jika hal-hal yang akan membuat diri mereka indah dan mempesona selalu menjadi sorotan utama di era ini.
Namun paradigm ini akan menjadi sebagai pelengkap saja, apabila kita berada di sebuah Pesantren, yang mana bukan hanya ilmu pengetahuan umum saja yang dipelajari namun ilmu agama juga demikian.Kaum perempuan yang menimba ilmu di Pesantren disebut dengan Santriwati, yang mana mereka memiliki paradigm yang mengatakan bahwa bukan hanya keindahan diri yang menjadi sorot utama namun kualitas diri yang harus perlu direncana.
Bu nyai atau istri dari pimpinan Pondok Pesantren menjadi salah satu manifestasi perempuan yang patut kita amati, seperti bu nyai Muniroh Iskandar di Pondok Pesantren Nur Khodijah 3, Denanyar, Jombang, Jawa Timur.Salah satu sosok yang masih saya kagumi hingga sekarang, walaupun baru pertama kali kami bertemu.
Salah satu kepribadian beliau, yang tidak sengaja kami menyaksikannya sendiri yaitu tentang rasa tanggung jawabnya sebagai istri dari seorang pimpinan pesantren.Setelah shalat Isya kami memutuskan untuk sowan kepada beliau, ketika kami mengetuk serta menunggunya di depan rumah beliau, salah satu dari ibu-ibu yang bertugas di dapur pondok pesantren mengatakan bahwa beliau sedang berada di asrama santri.Tiba-tiba saja kami mendengar suara tegas dari sosok perempuan yang belum pernah saya temui tersebut, yang ternyata beliau sedang membantu para pengurus pesantren untuk mengarahkan para santri agar segera masuk ke kelas masing-masing untuk belajar agama di malam tersebut.
Suara dari pengeras suara yang berada di sudut asrama santri tersebut seolah menjadi pengingat penting bagi santri, yang mana terbukti setelah adanya pengarahan dari bu nyai mereka segera bergegas untuk pergi ke kelas masing-masing.Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka, dan ternyata bukan beliau yang membukakan pintunya untuk kami, melainkan salah satu dari santriwati senior.
Kami pun dipersilahkan masuk di ruangan yang mana ketika kami memasukinya disambut oleh senyuman dari lukisan almarhum KH.Iskandar yang merupakan salah satu dari menantu almarhum KH.Bisri Syansuri, yang tentu namanya sudah tidak asing lagi.Kami menunggu beberapa menit untuk bisa bertemu langsung dengan beliau, dalam penantian tersebut yang saya rasakan hanyalah sebuah kebingungan dan ketakutan tentang bagaimana saya harus bersikap serta berbicara sebaik mungkin dengan beliau, hal ini disebabkan karena posisi duduk saya yang sangat dekat dengan beliau.
Ketika beliau datang dengan senyum ramahnya, seketika saya merasakan suasana hangat yang sebelumnya saya rasakan hanyalah hawa ketakutan, salah satu yang terbesit saat itu juga kekaguman saya terhadap penghormatan beliau terhadap tamu, hal tersebut dibuktikan dengan awalan dari percakapan kami yang dimulai dengan pengajuan beberapa pertanyaan terkait nama, asal serta alumni dari pesantren mana, maka dari itu selama percakapan berlangsung beliau tidak menggunakan bahasa jawa selurunya, namun dicampur dengan bahasa Indonesia, mengingat rata-rata dari kami berasal dari luar pulau Jawa.
Ditengah wawancara yang kami lakukan, beliau melihat santriwati yang tidak belajar serius, karena lokasi belajar mereka persis didepan kami hanya dibatasi dengan pintu.Maka sontak beliau keluar lalu mengingatkan mereka untuk fokus dan tidak memerhatikan kami yang sedang melakukan wawancara dengan beliau, salah satu cermin bu nyai yang memang benar-benar berperan sebagai perempuan yang seharusnya.
Karena beliau pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta, dan ternyata salah satu dari anaknya pernah belajar di Pondok Pesantren Darunnajah, maka semakin membuat saya beserta rekan yang sama-sama menimba ilmu disana merasa bersyukur dan bahagia.Pengetahuan yang beliau miliki cakupannya sangat luas, bahkan bahasa yang beliau gunakan sangat terdengar enjoy dikalangan kita, yang berarti beliau benar-benar menempatkan dirinya ketika berbicara dengan siapapun.
Salah satu pesan bagi kita semua khususnya perempuan, yang memang bukan hanya kecantikan yang mempresentasikan dari kita yang sebenarnya, tetapi akhlak yang harus dijunjung sedemikian rupa.Beliau berpesan begini kepada kami “ nduk, lek ngaji sing temenan. Itu bekalmu.Belajar yang benar serta tunaikan tanggung jawab sebaik-baiknya, mempercantik diri itu penting, tapi akhlak apalagi, itu prioritas utama”.




Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar