Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LAHH BODO AMAT



 Oleh: Naufal Hanafiah
   
    Dalam kehidupan kita pasti punya cara tersendiri dalam menjalani, menikmati, dan menghadapi hidup. Kita di dunia pun tidak terlahir sendiri, ada banyak manusia dan berbagai macam jenis tabiat,sikap dan pola pemikirannya. Setiap manusia pula punya tujuan, keinginan, cita-cita dan pilihan hidup masing-masing, dengan seperti itu tadi, bisa kita simpulkan bahwa kita punya hak untuk memilih jalan dan cara hidup kita sendiri.
Kita, dalam hidup yang plural dan majemuk ini  seringkali kebingungan dalam memilih langkah dan cara hidup, kita ragu  apakah yang kita akan lakukan ini nanti mulus atau tidak dan berbenturan dengan banyak pemikiran orang lalu orang-orang akan mencemoh dan mencaci apa yang kita lakukan dan pada akhirnya kita tidak jadi melakukan sesuatu. Kita terlalu takut akan kata-kata dan cibiran “tetangga”, kita terlalu memikirkan apa kata dan tanggapan para “tetangga”, kita terlalu mengira-ngira kira-kira “apa ya kata tetangga nanti”?, pada akhirnya kita takut untuk melakukan sesuatu dan memilih sesuatu dalam hidup, sebab terlalu khawatir akan salah, cemohan,cibiran dan omongan orang.
     Pernahkah anda berpikir bahwa kita seringkali memikirkan secara serius sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan, bahkan sama sekali tidak perlu. Hidup itu kan pilihan, setiap orang kan punya cara dan prinsip hidupnya masing-masing, punya cita-cita dan keinginan masing-masing, bahkan kita juga lebih tahu bahwa kita itu cocoknya di mana dan seperi apa. Contoh ketika anda punya rencana ingin mondok,sebab kita sadar kita kurang dan ingin mendalami ilmu agama dan ingin menyebarkan kebenaran, ya kalau itu benar dan memang pilihan anda, ya mondok aja, so pasti ada banyak “tetangga” yang nyinyir “mau jadi apa ya kalo mondok? Nanti jadi jorok, gudiken, belum lagi nanti mau kerja apa coba, ijazah juga enggak ada, jaman gini mah cari kerja kan susah, kuno  ah”. Jika anda memikirkan dan menanggapi serius nyinyiran tetangga tadi, pasti anda akan ragu akan mondok atau tidak. Ketika kita ingin jadi budayawan dan sastrawan karena memang menurut anda punya bakat disitu atau punya minat dan keinginan tinggi, ya sok..lakuin aja, dan tetangga mungkin akan berkata “budayawan? Ih kuno bgt dah, malah klenik ngeri gitu, jaman modern gini iya kali jadi budayawan, sastrawan juga,gondrong-gondrong nulis nggak jelas,masa depannya ngapain coba”. Ketika kita suka dengan seorang wanita, tak peduli fisik dan materi kalau memang cinta(sama2 cinta) ya monggo, tetangga be like nyinyir “eh kamu kan lumayan ganteng,carilah yg sedikit cantik dan kaya,kalo sama dia apa nggak nambah beban?”.
    Tutup telinga anda dan bersikap BODO AMAT, kalau menurut anda itu pilihan anda dan anda memang suka yang pilih dan lakukan saja selama tidak merugikan orang lain, BODO AMAT dengan omongan tetangga. Dalam bukunya Mark Manson berjudul The Subtle Art of Giving a F*ck “kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memerdulikan lebih banyak hal(apalagi omongan tetangga), tapi tentang memerdulikan hal yang sederhana saja, hanya perduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting”. Jangan terlalu memikirkan omongan dan anggapan orang lain, hidup itu kata orang jawa wan sinawang, bahagiamu belum tentu bahagia saya, senang anda belum tentu senang saya, enak anda belum tentu enak saya, sesuai bagi anda belum tentu sesuai bagi saya. Nggak usah terlalu dipikir omongan tetangga, wong tetangga aja juga nggak mikir pas ngomongin kita, so BODO AMAT!.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar