Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BISAKAH KITA MENJADI NABI?


Oleh: Muhammad Anis Fuadi

Dalam agama Islam teori kenabian telah menjadi perdebatan yang sangat kuat hingga saat ini. Akan tetapi, perhatian umat islam belum terlalu besar pada hal ini. Namun,  teori kenabian ini menjadi tema perdebatan yang sangat menarik dalam pemikiran serta  pendapat para ahli filosof dan sufi. Sehingga memunculkan perspektif yang berbeda-beda. Bahkan, beberapa diantara pendapat mereka dapat memunculkan pandangan-pandangan kontroversial terkait eksistensi nabi. Argumen-argumen yang mereka utarakan seakan membuka jalan untuk adanya klaim bahwa kenabian setelah Nabi Muhammad memang ada.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 40 yang berbunyi:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki di antara kalian. Akan tetapi, beliau adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha mengetahui terhadap segala sesuatu. (QS. al-Ahzab: 40).

Dengan adanya ayat diatas maka wajib bagi seorang mukmin untuk mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah sekaligus penutup para nabi. Akan tetapi, pada pembahasan kali ini penulis akan lebih menitikfokuskan pada permasalahan menarik terkait teori-teori kenabian menurut para filosof dan sufi.

Mengenai teori kenabian, seorang filosof rasionalis Ar-Razi memaparkan bahwa para nabi tidak berhak mengklaim dirinya sebagai orang yang memiliki keistimewaan khusus, baik pikiran maupun ruhani, karena semua orang itu adalah sama, dan keadilan Tuhan serta hikmahnya mengharuskan tidak membeda-bedakan antara seseorang dengan yang lainnya. Perbedaan antara manusia timbul karena berlainan pendidikan dan berbedanya suasana perkembangannya. Lebih lanjut dikatakannya, tidaklah masuk akal bahwa Tuhan menciptakan para nabi, padahal mereka tidak luput dari banyak kekeliruan.

Ditambahkan oleh al-Hujwiri seorang teoritis tasawuf beliau mengemukakan bahwa nabi ada yang didapat dengan cara iktisabi. Nabi secara iktisabi dapat diperoleh melalui olah spiritual dengan riyadhah dan mujahadah secara terus menerus sampai mencapai derajat kewalian dan di puncak derajat kewalian, sang wali kemudian bisa juga disebut sebagai nabi. Sebagaimana statement kontroversial beliau yakni "ghayatul wilayah, bidayatun nubuwwah" yang berarti puncak kewalian adalah awal kenabian. Pernyataan inilah yang kemudian menambah polemik diantara para filosof dan sufi. Dalam satu sisi mengklaim bahwa tidak mungkin kenabian yang sudah jelas tercantum dalam alquran terbantahkan, di sisi lain menyatakan bahwa kenabian akan terus-menerus ada.

Penjelasan terdahulu oleh seorang sufi kondang, yaitu al-Imam al-Ghazali tentang kenabian tertuang dalam bukunya Maarij al-Quds beliau berargumen bahwa para nabi berbeda dan berada di atas manusia pada umumnya. Al-Ghazali menyatakan bahwa kenabian adalah anugerah dan pemberian Ilahi yang tidak bisa diperoleh dengan upaya meskipun upaya dan pemerolehan perlu untuk mempersiapkan jiwa dalam menerima wahyu, dengan tindakan-tindakan ibadah yang disertai latihan berpikir dan perbuatan-perbuatan yang tulus dan suci. Jadi kenabian bukanlah kebetulan murni (tanpa kepatutan alamiah) sehingga setiap mahluk yang merayap dan berjalan dengan kakinya bisa menjadi penerimanya, bukan pula ia diperoleh melalui upaya murni sehingga setiap orang yang berpikir bisa memperolehnya.

Begitu pula penjelasan dari Ibnu Khaldun yang sepakat dengan pendapat Al-Ghazali, beliau menerangkan bahwa setinggi-tingginya batas spiritual manusia tidak bisa menandingi jiwa seorang nabi yang diubah menjadi kedirian malaikat yang lebih tinggi. Kesempurnaan yang diperoleh seorang mistikus sekalipun hanya bisa dicapai oleh jiwa-jiwa yang baik dalam kehidupan yang akan datang, sementara kesempurnaan kenabian hanya terbatas kepada para nabi, dan tidak bisa diperoleh dengan upaya atau memperoleh apapun.

Wallahu Alamu bi Shawab

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar