Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

UREGENSI LITERASI BAGI KAUM MILENIAL DI ERA DIGITAL

Oleh : Siti Rahmatillah Abu Bakar

Sekarang kita sedang memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang di mana pada era tersebut perkembangan dunia teknologi berlangsung secara melejit, sehingga manusia pun  memanfaatkan akan kehadirannya. Seperti penggunaan mesin-mesin industri yang canggih sehingga manusia tidak membutuhkan waktu yang lam untuk menghasilkan barang. Berbeda halnya pada masa revolusi industry 1.0 muncul, pada masa ini manusia bekerja murni dengan menggunakan otot mereka dan tentu memerlukan waktu yang lama. Pertanyaanya bagaimanakah generasi millenials menyikapi dan memanfaatkan potensi revolusi industry 4.0 tersebut?.

Sebagai generasi milenial tentu kita mempunyai peran untuk memaksimalkan manfaat akan kehadiran revolusi industry 4.0 tersebut, yang pertama kita harus pandai menganalis, mengolah berbagai informasi dengan literasi yang tinggi. Kita perlu menggaris bawahi bahwa disamping terciptanya mesin-mesin yang canggih, hal terbesar yang dihasilkan oleh revolusi industri 4.0 adalah internet of things sehingga di mana pun dan dikapan pun manusia bisa akses dengan mudah Khususnya di kalangan mahasiswa yang melakukan riset secara online. Tetapi tidak menutup kemungkinan setiap informasi yang diriset baik itu media pembelajaran ataupun berita-berita yang muncul sebagiannya bersifat hoax. Sehingga dari sinilah tugas kita sebagai generasi millenials untuk pandai memilah hal tersebut, baik secara kualitasnya maupun secara faktualnya. Jika dianalogikan sendiri membaca, berdua diskusi dan bertiga aksi maka hal ke dua dan ke tiga tidak akan berjalan dengan kondusif jika hal yang pertama dilewatkan.

Dengan tingginya minat dan daya literasi menjadikan generasi bangsa ini menjadi generasi yang produktif paham esensi dan juga mampu menciptakan generasi yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Apalagi Indonesia sekarang sedang mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik melalui pendidikan yang formal, non formal  maupun keadaan lingkungan yang kondusif.

Sebagian besar esensial dari gampangnya terpecaya oleh berita hoax itu karena dangkalnya ilmu pengetahuan. Dan kurangnya ilmu pengetahuan itu disebabkan oleh kurangnya minat dan daya membaca, jauh dari rutinitas diskusi sehingga tatkala ingin mengkritik suatu hal yang melenceng, misalnya kebijakan pemerimntahan yang tidak sesuai maka sama halnya membahayakan diri sendiri dikarenakan tidak tau esensi apa yang harus dibenahi serta solusi apa yang akan dihadirkan.

Selain meningkatan minat dan daya literasi dalam upaya mencegah berita hoax, pemerintah juga harus merealisasikan fungsional Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE nomor 11 tahun 2008) undang-undang ini mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik atau teknologi informasi secara umum.

Menurut data dari UNESCO menjelaskan bahwa minat dan daya membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah, dari banyaknya penduduk di Indonesia hanya terhitung 0,001%.. Sehingga hal ini dapat diartikan  bahwa dari banyaknya penduduk di Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca. Dan disamping itu pula dari 61 negara yang ada di dunia Indonesia menempati pada urutan ke 59. Sehingga hal ini merupakan problematika yang hakiki. Lalu apa yang menjadi solusinya?

Tentu saja solusi sederhana yang akan dihadirkannya yaitu mendirikan dan mengembangkan komunitas literasi, biar bagaimanapun wadah untuk mendukung  lingkungan juga sangat berpengaruh, kemudian yang kedua yaitu semangat membaca dan juga menulis. Jika kita ingin bersikap kritis maka hal tersebut harus didahului dengan literasi. Begitu pula jika kita ingin berdiskusi bahkan turun aksi.

Jika tidak didahului dengan membaca kemudian tidak dimantapkan dengan saling tukar pikiran, sama halnya kita membahayakan diri sendiri. Belajar dan berpikir haruslah seimbang, seperti halnya yang dikatakan oleh Pak Proklamator bahwasanya belajar tanpa berpikir itu percuma dan berpikir tanpa belajar itu berbahaya. Oleh karena demikian mari sama-sama menjadi insan yang produktif dan bereksistensi dalam meningkatkan kualitas diri serta memanfaatkan potensi diri untuk memberikan kontribusi pada negeri melaui peran literasi pada generasi. Salam literasi untuk mu generasi ibu pertiwi.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar