Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TOHA

Oleh : Ahmad Nasrul Maulana

Bau Kasturi menyeruak masuk ke dalam hidung, segar semerbak dengan sedikit tiupan udara yang menerpanya. Kicau Camar yang bertengger manis di ranting kering bidara, terlihat sentosa atas lingkungan yang masih permai ini. Sejauh ini mataku hanya menatap lekat hamparan Aster yang terkoyak pasrah dimainkan oleh angin di sisi kiriku. Jika berpaling ke kanan, maka akan nampak saung kecil dikelilingi bambu yang mulai menua dengan setapak kecil membentang ke arahnya. Asri, bersih, seakan masih ada yang bersedia mengurusnya. Namun, hingga detik ini retinaku masih kosong, seperti tak ada kehidupan disini. Dimana ini ??, aku tak tahu, sontak sebuah tangan memukulku dari belakang, dingin nan halus, menyisakan bau harum di kerudungku. Aku tak mampu menatap wajahnya sepintas pun. Sejurus kemudian, pelataran hijau saung tersebut bersesak padat ratusan orang duduk bersila menghadap ke saung dengan jubah putih membalut tubuhnya serta sehelai imamah membungkus rambutnya. Aku hanya menelah ludah tak percaya, semua menggemakan shalawat serentak, khusyuk, hingga tak ada yang perduli keberadaannku. Pikiranku kini semakin menjadi-jadi, bimbang, panik. Siapakah mereka gerangan ?? kesyahduan yang sesaat ku rasakan kini telah raib dalam satu kali hantaman oleh kehadiran wajah asing penuh keraguan.

“Hai kau. . . Ikutlah dengannya !!” telunjuk gempal jatuh dihadapanku sembari menuding kuat ke arah pemuda yang berjalan santai menuju saung. Aku tak tahu sosok bertempramen gempal yang memerintahku itu. Perlahan mulai ku langkahkan kakiku sesekali melirik kaum berjubah putih yang masih terus mengumandangkan shalawat penuh kelantangan. Keresahanku kini mulai memuncak, setelah ku tahu bahwa satu pun dari kaum itu tak ada yang menyadari keberadaanku. Pemuda itu kini semakin dekat dengan jerambi saung, lantas ku percepat langkahku untuk menyusulnya. Tepat di hadapan pintu, pemuda itu berhenti sejenak tanpa sedikitpun menoleh ke arah mana pun dan berujar sepatah pun. Sejauh ini aku belum melihat semburat wajahnya, naluriku bergumam bahwa dia adalah orang baik dan berilmu, dibuktikan dari saat dia berjalan menuju ke saung, sebagian kaum berjubah putih itu menciumi tangannya. Lantas dia membuka pintu dan menutupnya kembali. Firasatku mulai berkecamuk dan membawa ragaku untuk menarik gagang pintu kayu itu dan membukanya perlahan. Aku terperanjat, mendadak  pandanganku mulai sayup diikuti gema suara dari kaum berjubah putih melirih dan hilang. Tubuhku lemas, seolah tertarik ke dimensi lain. Gelap, kelam, hingga akhirnya mataku terpejam tak sadarkan diri.

“Nis. . . bangun cepat !!” suara khas itu memekikkan telingaku.
“Nisa’ ayo bangun, sudah siang ini.” Cerocos panjang lebar Nadia untuk membujukku agar beranjak dari ranjang reotku sedikitpun tak ku hiraukan, aku hanya merubah posisiku menjadi duduk lantas diam terpaku dan melamunkan kembali atas apa yang menimpaku semalam tadi. Yaa. . . pasal pemuda beraroma wangi itu, pasal kaum berjubah putih yang masih menyisakan rasa penasaran.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu, panggilan ditujukan kepada saudari Nisa’ul Kamilah, dimohon untuk datang ke Surau.” Toa itu bergemuruh seantero pesantren, berulang-ulang, sebab tak sedikitpun aku menggerakkan tubuhku. Hingga pada panggilan ke lima, saat nama Datuk disebutkan di akhir pengumuman, sontak aku bergegas bangkit dan berjalan gontai menuju ke surau. Namun, keganjilan kembali menghujam diriku, beberapa pasang mata melirikku penuh kecurigaan.
“Dari mana kau mendapatkan parfum seharum ini Nis ??,” tanya Aisyah yang sejak dari depan kamar mengekori langkahku.
“Benar Yis, tak pernah aku mencium bau sesegar ini.” timpal Mona sembari mengelus-elus dan membaui kerudungku.
“Parfum ?? mana mungkin aku bangun tidur pake parfume, lahh wong mandi aja belum.” ujarku meyakinkan.
“Tapi Nis ??”
“Maaf aku harus ke surau menemui Datuk”
“Nisa’ . . . .” Teriak Mona sia-sia.
Tiba di surau, aku merapikan kerudungku alakadarnya, ya . . di surau ini tempat biasa aku dan Datuk  bersua, mendengar petuah masyhurnya, bercengkrama sehat ihwal agama dan tak jarang pula Datuk mengijazahkan amalan-amalan muskil yang sukar untuk dijalankan olehku dan teman-temanku.

“Masuklah Nak. . !!.” Suara parau itu lebih dahulu terucap sebelum sepatah salam ku lontarkan dari mulut keringku.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakahtuhu Datuk” ucapku dengan nada lebih rendah ala santriwati sebagai tanda ketawadlu’an dan ketakdimannya kepada muallimnya.

Hening sesaat, sebelum qodim ndalem Datuk menyuguhkan secawan teh  hangat dan beberapa bongkah kismis dengan olesan samin membalutnya. jantungku terus berdegup sembari menatap mulut kering Datuk  yang perlahan basah oleh liur sebab tak henti-hentinya mengkomat kamitkan dzikir rutinnya. Aku terbungkam oleh suasana, kala Datuk mengakhiri dzikirnya dengan membasuhkan kedua tangannya ke wajahnya.

“Mabruk Nak. . .Alaiki Mabruk !!” Teriak Datuk dengan mengangkat ke dua tangannya seraya tersenyum renyah ke arahku. Aku tertukik, diam tanpa isyarat, apa maksud semua ini ??, yang ku tahu bahwa kata Mabruk berasal dari bahasa Arab yang maknanya selamat, dimana di dalamnya tersirat rasa kebahagiaan yang mendalam. Sedang Datuk ??
“Kau Nak, coba ceritakan semua hal yang telah menimpamu semenjak Datuk memberimu ijazah hari itu hingga kini !!” pinta Datuk lantas menyeruput teh hangatnya.

Dengan nada agak berat, aku terbata-bata menceritakan hal-hal ganjil menimpaku sejak empat minggu yang lalu hingga kini, dimana Aku, Mbak Arum, Fatonah dan Halimah berkumpul di surau ini tengah malam tak lain untuk memenuhi panggilan Datuk,  iya. . .hanya empat santriwati yang diminta, sebab kitalah yang mampu dan mau bersungguh-sungguh dalam menjalankan sesuatu, tutur Datuk. Derai hujan yang melebat turut serta mewarnai suasana mencengkam kala itu, hewan malam berteriak kencang sebab terusik persinggahannya seakan menambah nuansa hening malam yang mulai kalut oleh sinar purnama yang meredup. Kami melingkar, sedang Datuk duduk besila membelakangi kami. Setelah usai melantunkan bacaan-bacaan dalam secarik kertas yang diberi Datuk siangnya, kami diminta untuk berpuasa satu bulan penuh oleh Datuk, bagi kami berempat, hal tersebut ringan untuk diistiqomahkan. Namun, saat Datuk melanjutkan kalimatnya sebelum meninggalkan kami di surau,
“Dan malamnya, kalian rutinkan baca wiridan ini. Ingat !! kalian baca hanya diantara pukul satu hingga dua, selebihnya, maka akan sia-sia. “
Kami berempat saling tatap, lantas menelan ludah untuk memberi ruang tenggorokan kami agar tidak kering sebab membaca wiridan panjang dan berulang yang masih asing bagi kami.
Sehari, dua hari hingga seminggu puasaku dan amalan malamku berjalan dengan lancar, hingga minggu ke dua, peristiwa ganjil menerpa mimpiku. Dua pemuda paruh baya berdiri tegap, tepat di antara keduanya, duduk pria sepuh diatas kursi dengan menenteng segelas air putih. Aku mengenal dua diantara mereka, seorang dari pemuda itu adalah Habib Syech Abdul Qodir Al-Jaelani yang  sering ku lihat gambar wajahnya di perpus pesantren, sedang pria sepuh itu adalah muasis pesantren ini. Namun tidak pada pemuda satunya, dia hanya tersenyum manis dan memandangiku penuh tanpa berujar sedikit pun. Segelas air putih itu kemudian dimintaku untuk meminumnya dan menyisakannya seperempatnya. Lantas aku terbangun, dan baru sadar bahwa posisiku berada di makam muassisku yang letaknya tepat di belakang surau.

Masuk minggu ke terakhir, puasaku masih rutin namun tidak pada amalan tengah malamku, semua terasa berat dan menurunkan lemah gairahku. Ku dapati kabar bahwa Mbak Arum mengangkat bendera putih saat masuk minggu ke tiga, Fatonah di minggu pertama dan Halimah di minggu ke tiga pula, mereka berpendapat bahwa amalan ini tak seperti amalan lain yang diberikan oleh Datuk. Sukar, muskil dilakukan, aku pun merasakannya namun tetap ku teguhkan dinding keimananku agar tak rapuh terkikis oleh nafsu arogan nan serakahku.

Di malam penghujung, dimana malam ini adalah akhir dari perjuanganku dalam mengistiqomahkan puasa dan amalan malam dari Datuk, aku terbangun tepat pukul dua belas malam, lantas mengambil wudlu dan melanjutkan dengan shalat sunnah malam seperti biasanya. Namun naïf, suatu hal yang tak pernah ku pinta dan ku mau itu hadir merasukiku. aku terjaga pulas usai shalat sunnah itu, lalu terbangun pukul dua kurang seperempat menit. Dengan kuat hati, ku tetap membaca amalan itu diiringi derai butiran bening mengalir di pipi lembutku. Rasa sesal berkecamuk sengit di hatiku, aku terus membacanya serta berharap di waktu sesingkat ini dapat menuntaskannya. Aku terus menghujati diriku sendiri sebab kalah dalam puncak peperangan. Aku menuntaskan bacaanku pukul dua lewat lima menit. Tangis pecah sejadi-jadinya dariku.

“Ya Allah, jika memang seluruh amalan panjang dari Datuk gagal sebab kelalaianku malam ini, aku rela Ya Allah, sejauh ini aku pun menjalaninya atas dasar keikhlasan hanya untuk-Mu” ratapku dalam do’a.
Demikianlah, aku menceritakan peristiwa-peristiwa ganjil semenjak Datuk memberiku amalan hingga saat ini. Malam kemarin adalah malam terakhirku mengakhirkan amalanku, tadi malam aku bermimpi bersua dengan pemuda beraroma harum dan kaum berjubah putih. Usai Datuk menyimaknya, beliau mempersilahkanku untuk meneguk teh hangat yang mendingin oleh angin. Datuk angakat bicara,
“Mabruk Nak, sejauh itu kau telah berhasil, kau tahu nak, siapa saja orang yang kau temui dalam mimpimu ?” ujar Datuk sambil memainkan jenggot putihnya.
Aku menggelengkan kepala sebagai tanda ketidak tahuanku terhadap pertanyaan Datuk.

“ Tiga orang yang kau temui dalam mimpimu di minggu ke dua, mereka adalah Syech Abdul Qodir Al Jaelani, sedang pria tua yang duduk di tengah itu Kakekku atau pendiri pesantren ini, dan yang satunya ialah Nabi Khidir AS. Mengapa beliau hanya tersenyum tanpa berujar sepatah kata pun kepadamu?? Sebab ilmumu belum cukup kuat Nak, untuk memperolehnya “  papar Datuk sembari terus memainkan jenggotnya.

“Kau tahu apa maksud dari meminum air kala itu ?? itu berarti bahwa Muassis pesantren ini, telah Ridho atas ilmu yang telah kau dapat selama mengabdikan diri disini selama enam tahun. Lalu mengapa beliau meminta untuk menyisakannya ?? sisa itu adalah hal-hal yang akan membuat ilmumu menjadi sia-sia” lanjut Datuk.
Aku tertegun terbuai dalam kesyahduan jawaban Datuk, sejurus kemudian bulir air mataku tak mampu lagi ku bendung.
“Dan yang paling membanggakan dari pencapaianmu Nak, adalah semalam kau bertemu dengan pemuda beraroma harum dan kaum berjubah putih, kau tahu siapa mereka Nak ?? dia adalah baginda Nak, Toha, Nabi Muhammad SAW. Kau tak mampu bertatap langsung dengannya sebab kau membaca amalan Datuk melebihi pukul dua di malam terakhirmu, tapi jika kau tidak tertidur malam itu, kau akan mampu menatap wajahnya Nak..Adapun kaum berjubah putih itu adalah para sahabat-sahabat Toha yang gugur dalam peperangan membela agama Allah, sekali lagi mabruk Nak “ tangisku semakin terisak setelah ku tahu semua keganjilan yang menggelayuti pikiranku. Ku dapati Datuk pun tak kuasa menahan air matanya setelah menguak semuanya kepadaku. Terima kasih Datuk, selamanya kau akan menjadi guru besarku. Aku berjanji akan senantiasa mengamalkan semua ilmuku jika telah terjun ke khalayak. Wahai Toha, Sholawatku setiap malam Jum’at yang ku gemakan dari toa surau ini sebagai tanda rinduku dan do’aku atas dirmu, keluargamu dan semua sahabatmu.




Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar