Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

THE CHANCE TO CHANGE



Nety Novita Hariyani


            Seperti biasa, sepi adalah kata yang menjadi teman baik. Merangkai kata dengan begitu asik, pergi dengan seribu mimpi, pulang menjadi angan untuk kembali menuangkan rindu. Bukan tak memiliki teman, hanya tak banyak yang cocok dijadikan teman. Bukan menjauh, hanya tak ada yang ingin mendekat walau sekedar senyum singkat. Aku baik-baik saja, menapaki setiap luka dengan senyum bisuku. Angin, telah menjadi saksi bisu. Merangkulku, namun tak seerat pelukan ibu. Menghela untuk menyatakan tak sanggup, senyum ibu seketika meredup. Menghentikan senyumnya tak mungkin kulakukan. Seperti air yang mengalir, ikuti saja arusnya.
            Sore ini, kutuangkan segenap resah dengan berintrospeksi. Tak ada kata rapuh yang akan singgah, kuharap. Semoga bahagialah yang akan selalu menetap. Mengapa orang menjauh? Pasti ada yang salah denganku. Lewat kertas-kertas yang secara garis besar bertuliskan “Sulit bergaul, apalagi tersenyum” menggerakkan sedikit hati ini untuk berubah. Namun bukan berubah untuk menjadi orang lain pastinya.
“Mbak wafa ya?” Ujar salah seorang pengemudi motor yang berhenti tepat di depanku berdiri.
“Iya, siapa ya?” Dahiku mengernyit.
“Loh saya ojek online yang mbak pesan” ujarnya dengan penuh kesabaran.
“ehehehehehehe” aku tersenyum tipis tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
“ke jalan jeruk ya bu!”
“siap mbak, budal!”
(Ibu? Hah? pengendara ojol ini seorang perempuan?) batinku bertanya-tanya penuh keheranan.
            Lagi, aku baru menyadari hal ini. Kesalahanku terletak pada keluguanku dalam menyadari sesuatu, kurang peduli sekitar juga menjadi indikator kuat yang kuakui menjadi kekuranganku selama ini. Ibu? Bagaimana kabar ibu disana? Ternyata merantau menyeka rindu begitu lamanya. Anakmu sudah tumbuh besar, tapi perangainya perlu dibenahi lagi. Ibu ojol ini mengingatkanku padamu bu, rindu yang tak kunjung ada titik temu.
            Dia hebat bu, tak menjadikan perbedaan sebagai batas akhirnya. Disaat orang lain menetap di zona nyaman, dia keluar dalam zonanya. Seorang pekerja keras yang berusaha menunjukkan bahwa perempuan tak harus terkekang oleh tradisi yang mengikat selama ini, melakukan pekerjaan rumah sepenuhnya. Darinya aku belajar, bagaimana keikhlasanmu dalam merawat. Darinya juga aku paham, apapun akan kau lakukan demi terpenuhinya kebahagiaan untuk anak-anakmu.
“mbak, kita udah sampai”
nggeh, bu” jawabku dengan penuh sopan, walau sedikit terkejut karena tak menyadari bahwa kami telah sampai ke tempat tujuan.
“semangat ya bu. Ibu pasti bisa!” seketika ada yang menyela ditengah pembicaraan singkat kami.

­_Finish_



                                                                                                   Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar