Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tentang Kota yang Menyimpan Luka

Oleh: Nur Sholikhah


              Wilayah perkotaan kian hari kian ramai saja. Deru suara kendaraan bermotor beradu di jalan raya. Belum lagi suara klakson mobil atau motor di pertigaan dan perempatan lampu merah. Gas beracun dikeluarkan setiap harinya tak peduli meski hari kian beranjak senja.

            Inilah kehidupan di kota, kota yang katanya tak pernah mati karena sebagian penghuninya  terbangun penuh 24 jam. Lampu-lampu tak pernah tidur, bahkan semakin banyak yang berpendar meski malam kian kelam. Kafe dan warung berdiri  merapat di tepi jalan raya maupun di tepian kota. Hingga sawah-sawah yang tersisa terpaksa digusur dan diuruk bangunan megah.

            Kota memang memiliki ciri khas tersendiri. Kehidupan yang penuh dengan rutinitas padat dan kegiatan yang tak henti-hentinya bergulir. Jalan yang tak pernah sepi walau hujan deras membasahi bumi, kecuali jika hari raya idul fitri karena sebagian besar penghuni singgah ke tempat yang seharusnya ia kembali.

            Taman-taman sengaja dibangun sebagai sarana berkumpul di hari libur, juga sebagai tempat di mana mereka dapat merasakan hembusan angin di antara bunga-bunga dan rerumputan yang bergoyang. Padatnya rutinitas membuat mereka jarang bercengkrama dengan alam. Setiap harinya hanya memandang jalan yang kian ramai, laptop yang selalu dipenuhi tugas-tugas, ruangan yang sempit dan barang-barang yang membuat manusia menjadi manja.

            Setiap hari kesibukan tampak menyelimuti, ada yang sibuk mengantar-jemput anak-anak mereka yang bersekolah jauh dari rumah, ada yang sibuk pergi ke kantor mengerjakan tugas-tugas, ada yang pergi ke kampus untuk menuntut ilmu atau hanya sekedar mengisi waktu, dan kesibukan-kesibukan penduduk kota lainnya. Entah sadar atau tidak, para penduduk kota terbiasa diselimuti dengan ketakutan dan kegelisahan di setiap harinya. Takut datang terlambat ke sekolah atau ke kantor, takut turun jabatan, takut gaji dipotong, dan takut akan hal-hal lainnya. Ada banyak hal yang mereka takuti, ada banyak peristiwa yang mereka hindari. Terutama kematian dan rasa sepi.

            Mengapa rasa sepi?

Di balik keramaian kota dengan aktivitas yang super padat terdapat rasa sepi yang menganga. Rasa sepi yang dimiliki orang-orang tertentu, orang-orang yang menjadi korban rindu. Siapa? Bisa jadi para orang tua dan anak-anak yang dikalahkan dengan kesibukan orang-orang yang dicinta. Orang tua yang tinggal di rumah megah yang dibangun oleh anaknya, sedangkan anaknya sering kali ke luar kota menyelesaikan tugas pekerjaan dan tuntutan. Dan akibatnya rasa sepi datang di balik kemegahan.

Begitupun dengan para anak-anak yang jadi korban kesibukan, mereka diantar sekolah oleh sopir atau terkadang orang tuanya sendiri. Pulang sekolah menjelang sore, di rumah hanya bertemu pembantu dan benda-benda mati. Sekolah pun tidak cukup, berbagai les privat diikuti. Anak-anak dipaksa tiba-tiba mengerti tanpa sepenuhnya memahami. Akhirnya malam menjadi saat yang tepat untuk merajut mimpi dan orang tuanya pulang saat anak-anak sudah memejamkan mata sampai pagi.

Entah, terkadang ada sebuah ketakutan yang menyelimuti. Takut jika nanti di kota akan banyak panti jompo dan penitipan anak berdiri. Rasa sepi akan merajalela, meski denyut nadi kota kian terasa. Suara klakson akan sering terdengar karena lalu lintas semakin padat. Tiada lagi lahan kosong tempat tanah bernafas. Pohon-pohon tiada lagi bebas membentangkan dahan. Dan mungkin orang-orang akan merasa asing pada dirinya sendiri, lupa akan kegembiraan orang-orang yang menanti ia kembali.
Kota, aku bangga. Tapi mengapa harus ada luka yang menganga?



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar