Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TAMU-TAMU YANG DATANG BERKUNJUNG

Oleh : Nur Sholikhah

Pagi itu kulihat orang-orang begitu ramai berkunjung ke rumah kecilku. "Ada apa?" tanyaku. Tidak biasanya rumahku seramai ini, biasanya hanya terlihat satu atau dua orang yang mengetuk pintu. Mengapa hari ini berbeda?

Tampak ibu sedang menundukkan wajahnya di samping tempat tidur bapakku. "Sedang apa ibu?" gumamku. Untuk apa ia berdiam diri di situ memandang kasur yang sudah kosong tanpa siapapun yang berbaring di sana. 

Sesekali kudengar ia sesenggukan, dan aku masih terdiam. Air matanya ternyata telah tumpah sedaritadi, kerudungnya basah karena ia gunakan untuk mengusap air mata yang tak kunjung mengering. Hidungnya memerah seperti sedang menahan sesuatu yang telah lama terbungkam. Ingin kutanya pada ibu, apa yang telah terjadi sebenarnya? Tapi melihat ibu diam begitu niatku beringsut. Memilih diam dan merasakan keheningan di sekitarku. 

Setelah beberapa saat kemudian kulihat sanak keluargaku memasuki kamar ini. Lalu membereskan apa-apa yang terlihat berantakan, selimut, bantal, guling dan beberapa handuk kecil yang masih agak basah. Wajah mereka juga tampak sendu, tak ada senyum yang menyeringai, juga kata-kata yang tiba-tiba terasa membeku. 

Semakin aneh saat para tetanggaku datang membawa bahan-bahan pokok. "Untuk apa semua bahan makanan itu? Mereka kira kita tidak bisa cari makan sendiri apa?" gerutuku. Setiap dari mereka membawa ember yang berisi beras, kantong yang berisi mi dan gula. Beberapa juga ada yang membawa amplop dan memberikannya ke ibu, ah mungkin itu hanya amplop kosong. 

Aku beralih ke dapur yang biasanya jarang kulihat asap mengepul, tapi hari ini memang aneh. Dapur ibu ramai oleh para tetangga, ada yang sibuk mencuci peralatan dapur, ada yang sibuk memasak dan berbicara seolah-olah sedang mengatur sebuah acara. 

Sementara para tetanggaku yang lelaki sibuk di samping rumah, tepatnya di dekat sumur yang sudah sedari dulu mengalirkan kebahagiaan. Di sana ditata sebuah bayang, sabun mandi, daun kelor dan segentong air. Yang lainnya sibuk di depan rumah, memotong kayu, merangkai bunga dan hal-hal yang tak kumengerti lainnya. 

Ada apa dengan hari ini? Mengapa semua orang tiba-tiba datang dan pergi. Ada yang sesekali terisak, termenung, tertunduk seperti ibu. Ada yang sibuk berkasak-kusuk membicarakan tentang seseorang. Mengapa harum bunga tiba-tiba menusuk hidung? Padahal kau tahu sendiri, di depan rumahku tak ada lagi tanaman bunga. Semua sudah layu sejak bapak tampak sayu. 

Dalam pikiranku masih banyak tanda tanya. Sementara aroma bunga semakin menyeruak memaksaku untuk mengungkap. Kuhampiri ibu yang kini sudah berpindah tempat, duduk bersama para tetangga di ruang tamu dengan mata sembapnya. 

Para tetangga tiba-tiba menghampiriku, begitupun dengan pamanku. Paman malah merengkuh tubuhku yang tiba-tiba menjadi lemas, ia memelukku sambil berucap kata-kata yang tidak jelas. Apa karena suaranya yang begitu lirih atau karena keramaian yang ikut membisikkan kata-kata perih? 

"Nduk, sabar ya nduk. Kamu tidak sendiri, masih ada ibu juga paman di sini."

Hanya itu kalimat yang terdengar jelas di telingaku. Sebelum akhirnya aku merasa tubuh ini begitu ringan, melayang, jatuh entah ke tanah atau awan. Yang pasti, ketika terbangun aku sudah berada di kamarku sendiri. Sepi, tak tampak satu orang pun di sini. Tapi masih kudengar sayup-sayup keramaian di luar sana, suara orang mengeluarkan kata-kata dan air mata. Aku menjadi takut, sangat takut. Tubuhku beringsut, mataku basah, pipiku hangat. Apa yang kukhawatirkan terjadi, apa yang bapak perintahkan benar-benar terpenuhi. 

"Bu, orang-orang yang di luar sana mbok ya dikasih makan. Kasihan mereka udah datang ramai-ramai tapi tak ada hidangan."

"Siapa sih Pak? Di luar rumah lho sepi. Bapak sedang bermimpi. Bapak belum sholat kan? Ayo sholat dulu!"

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar