Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SELAMAT TINGGAL


Oleh : Meisya Eva Natasya

Abah adalah seorang kyai yang sangat hebat dan sangat berarti di mata saya. Alasan saya kenapa bilang seperti itu tak lain karna beliau adalah sosok kyai yang berbeda dengan kyai lain. Beliau mempunyai sisi yang berbeda yang mana tidak dimiliki kyai-kyai yang lainnya. Bagaimana tidak, semangat yang beliau  punya dan keikhlasan beliau mendidik santri-santri hingga tiba masa akhirnya sangatlah luar biasa.
Sejauh ini semangat itu tidak tertandingi oleh siapapun, sekalipun itu santri-santri yang diajarnya. Dengan penuh penderitaan dan berkorban mati-matian demi mendirikan pesantren, cacian dan hinaan sama sekali tak mengubah dan menggeser  niat dan tekad beliau. Abah berhasil mengharumkan pesantren hingga berhasil menjadi besar dan terkenal dimana-mana. Tiada penghargaan yang pantas diberikan untuk beliau kecuali Allah yang akan membalasnya.
Dulu keadaan pesantren belum seperti sekarang yakni masih penuh kekurangan. Tanah becek sebab adanya hujan, jemuran yang terus-terusan rusak, fasilitas yang sangat kurang sehingga menghajatkan santri untuk belajar dimana saja. Tapi masa itu sudah termasuk pada masa kejayaan pesantren yang mana tak semerintis dulu. Santri-santri yang penuh giat dan gigih mengorbankan waktunya demi membangun gedung-gedung yang ada di pesantren agar bisa dinikmati oleh kader dan generasi penerus setelahnya. Dengan ikhlas mereka brgotong-royong dan bahu membahu demi pondok. Mengikuti pelajaran pun sangat jarang dilakukan.
Akan tetapi hebatnya santri dulu tidak kalah dengan sekarang. Bahkan santri dululah yang lebih hebat di banding dengan santri sekarang. Barokah yang mereka peroleh selama nyantri membuat mereka menjadi orang-orang yang besar dihadapan masyarakat. Barokah juga membuat mereka menjadi orang-orang yang bermanfaat seperti yang diharapkan oleh abah sendiri. Santri dulu cenderung ngalap barokah dengan mengabdikan dirinya demi pesantren. Itulah yang diwejangkan oleh abah yai kepada santri-santrinya.
Beda dengan santri sekarang yang cenderung selalu ingin serba instan dan kurang akan rasa solidaritas sehingga bisa dikatakan bahwa mereka kurang mengenal dan memahami makna dari sebuah perjuangan.  Fasilitas yang sudah disediakan tidak mereka manfaatkan dengan baik. Gemblengan yang abah dawuhkan yang mana selalu menganjurkan santri-santrinya untuk cinta membaca jarang bahkan tidak pernah mereka jalankan. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri itulah yang ada pada realita sekarang. Padahal jika mereka mau menyadari gemblengan abah amatlah besar manfaatnya. Banyak sekali bekal yang abah berikan untuk persiapan hidup dimasyarakat haqiqi kelak.
Yang paling saya ingat ketika abah mengajar yakni cara mengajar Abah yang selalu senyum dan banyak metode unik yang digunakan untuk memahamkan seluruh santrinya. Akan tetapi bagian yang paling mengenang ialah gemprongan beliau. Karna tak henti-hentinya beliau menggemprong periode kami disaat beliau mengajar. Periode kami memang tergolong santri yang bandel dan kurang adanya rasa sari’ul khotir, jadi wajar saja jika berbagai macam gemprongan sudah abah lontarkan demi menyadarkan kami saat itu.
Begitulah, Abah adalah sosok kyai yang tak kenal lelah, selau sabar mendidik santri-santrinya sekalipun butuh waktu beribu-ribu kali untuk mengingatkannya. Seperti yang ada dalam gemblengan beliau yakni “ ahli ilmu adalah sekalipun ia mendengar berpuluh ribu-ribu kali maka ia tidak akan bosan dan selalu mengingatnya. Maka, Abah bukan hanya seorang pendidik. Abah adalah seorang motivator, Abah adalah bapak, Abah adalah pejuang hebat”.
Selain menimba ilmu di pesantren Darussalam Gontor beliau juga memilikii banyak ilmu berdasarkan berbagai pengalaman hidup yang beliau jalani semasa kesulitan. Berbagai kesulitan beliau alami sehingga cobaan yang berat sekalipun menjadi kacang goreng bagi Abah Yai.
Akan tetapi perlu kita sadari bahwa tidak mungkin selamanya Abah bersama dan berada disamping kita. Setiap manusia yang hidup maka akan menjumpai sebuah kematian. Begitu juga dengan Abah. Dengan penyakit yang di deritanya selama berpuluh-puluh tahun lamanya abah berhasil mewujudkan mimpinya. Beliau merintis pesantren dari nol, hingga pada akhirnya mampu membangun pondok khusus putra. Cita-cita mulia itu senantiasa menjadi keinginan kuat Abah semasa ahidupnya. Dan dimasa terakhirnya semua itu berhasil beliau wujudkan dengan begitu hebatnya.
Sungguh merupakan inspirasi dan motivasi nyata bagi kita semua, umur 70 tahun bukanlah umur yang muda lagi bahkan sudah tidak waktunya lagi untuk mewujudkan sesuatu yang dirasa bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi mendirikan sebuah pesantren itu butuh dana yang besar, pemikiran yang dalam, dan menguras tenaga. Patut dihargai bahwa disamping Abah, berjalanlah dengan serentak dan lurus kader-kader penerus generasi yang siap membantu Abah membesarkan pesantren. Seluruh asatidz asatidzah dan juga santri-santri yang memiliki rasa cinta yang amat besar.
Abah memiliki banyak santri, Abah memiliki begitu banyak pengabdi yang tanggap. Untuk apa semua itu? Tak lebih tujuannya adalah generasi penerus abah yai untuk bisa memajukan pesantren dalam berdakwah mengajarkan kalimatullah, dan lebih mengharumkan nama pesantren.
Agar bisa meneladani Abah, dan mengikuti jalan beliau, mari menjadikan segala pengalaman dan wejangan dari Abah sebagai acuan untuk perubahan diri yang lebih baik lagi. Mari mempertahankan apa yang baik dan menghilangkan apa yang tidak baik yang mana sudah menjadi budaya di pesantren ini. Sebagai santri, mari kita giat cinta membaca karena membaca adalah jendela dunia yang mana bisa menghalangi santri untuk tidak kosong dan jiga mendapatkan banyak wawasan. Mari kita semua melengkapi apa yang kurang dari pesantren sehingga sesuatu yang kecil bisa menjadi besar, dan dengan melewati suatu proses itu maka kesempurnaan akan tercipta. Mari terus miliki jiwa ikhlas yang di contohkan abah, dan terus mengayomi yang muda dan menghormati yang tua. Selalu belajar mencari dimana letak kebijaksanaan agar segala masalah yang ada nanti akan terasa mudah dan ringan semata.
Selamat Jalan, Abah! Selamat berjuang Para Asatidz Asatidzah dan penerus! Selamat belahjar saudara-saudaraku santriwan-santriwati!

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar