Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SELAMAT DATANG BULAN SANTRI

Hasil gambar untuk SANTRIOleh : Muhammad Ikhsan Kamaluzaman
          Tak terasa kita memasuki bulan Oktober, yang berarti kita akan merayakan HSN (Hari Santri Nasional) yang ke 5. Santri memiliki banyak makna tergantung siapa yang mendefinisikannya. Tahun ini santri semakin menyita perhatian publik. Setidaknya ada 3 hal menarik yang menjadikan santri semakin dibicarakan akhir-akhir ini. Pertama, terpilihnya KH. Maruf Amin sebagai Wakil Presiden. Kedua, disahkannya RUU Pesantren menjadi UU Pesantren. Dan yang ketiga, polemik film The Santri yang diluncurkan oleh PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).
            Tapi pada kesempatan kali ini saya tidak akan membicarakan 3 hal tersebut, karena sepertinya 3 pembahasan itu harus ditulis terpisah dan dibahas secara mendalam, pada kesempatan kali ini saya ingin membahas bagaimana santri berperan terhadap nilai-nilai toleransi yang ada di Indonesia. Tentu yang dilakukan oleh para santri sudah benar-benar cukup untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi. Tetapi cara yang dilakukan oleh para santri masih kurang menyentuh dunia milenial saat ini yaitu dunia digital. Masih sulit ditemukan tulisan para santri yang memenuhi dunia digital, bahkan tulisan-tulisan bernada kebencian yang masih banyak berseliweran di medsos kita. 
Kontra Narasi Ekstremis menjadi salah satu gaya tulisan khusus yang dibutuhkan medsos saat ini. Tapi apa sih itu Kontra Narasi Ekstremis? Sebenarnya para santri sudah sangat kenal dengan Kontra Narasi Ekstremis terutama para pengurus pondok, pegiat literasi, dan aktivis social media. Akan tetapi sampai saat ini masih banyak pondok pesantren yang kurang menyadari akan ancaman narasi ekstremis tersebut. Oleh karena itu, CSRC bekerja sama dengan beberapa pesantren di beberapa provinsi untuk mengadakan workshop seperti ini guna mengingatkan kembali bahwa bahaya narasi ekstremis harus lebih dibentengi terutama di kalangan pesantren.
            Perbincangan seputar kontra narasi di Indonesia masih terbilang baru. Bahkan, studi Internasional baru membahas ini 3 tahun terakhir. Kejadian seperti tragedi 11 September 2001 yang sudah menyadarkan kita dan membuat Islamophobia dia beberapa negara Eropa semakin membuat umat islam minoritas terpuruk di beberapa Negara. Tak hanya di Internasional di Indonesia pun seringkali terjadi bom bunuh diri. Menurut data BNPT bom bunuh diri sudah banyak sekali terjadi. Diantaranya sejumlah Gereja di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Sukabumi, Mojokerto, Kudus, Mataram, Paddys Pub dan Sari Club di Bali, Hotel JW Marriott I, Kantor Kedutaan Besar Australia, Hotel JW Marriot II dan Ritz Carlton Jakarta, Kantor Polresta Cirebo dan Kantor Polresta Poso dan masih banyak lainnya.
Sampai saat ini sudah banyak sekali tokoh tokoh besar bangsa yang sering melakukan kontra narasi ekstremis. Sebut saja seperti Gus Mus, Cak Nun, Prof Nadirsyah Husein, dan lain lain. Tapi sayangnya sekali lagi tulisan mereka kurang diviralkan sehingga tidak muncul ke permukaan. Alhamdulillah di tahun tahun terakhir ini ada akun sosmed yang sudah mulai bermunculan untuk kontra narasi ekstremis.
            Sebut saja situs duta islam, NU Online, ala_nu dan banyak lagi lainnya. Setidaknya ada 3 langkah mudah dalam kontra narasi ekstremis yaitu 1. Reframing peristiwa konflik 2. Kontra Analogi 3. Mendelegitimasi kepahlawanan tokoh ekstremis. Dengan 3 cara itu minimal bisa membentengi kawan kawan tercinta kita untuk tidak terjerumus ke dalam jurang ekstremisme.
            Dan jika kita membaca kembali narasi ekstremis diatas banyak menggunakan kaidah balaghah seperti tikrar, thibaq, muqobalah, istiaroh, dan tasybih. Para gawagis dan nawaning tentu lebih faham ini ketimbang saya. Oleh karena itu bagaimana balaghah ini digunakan kita agar bisa mengcounter mereka. Karena balaghah itu lissalam (untuk kedamaian) bukan lil irhab (terorisme).

            Itulah sedikit perkenalan kita terhadap dunia kontra narasi ekstremis. Pembahasan kali ini untuk memotivasi kita sebagai santri untuk mulai melek terhadap dunia literasi dan mulai mencoba untuk menulis, karena dakwah dengan tulisan pada hari ini menjadi satu lading dakwah yang benar-benar bisa bermanfaat untuk banyak orang dimanapun ia berada.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar