Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SAJAK DI SURAT IBU


Oleh : Dyah Ayu Fitriana

Malam itu, berdua kita bercengkerama tanpa kata. Ibu menyaksikan gumaman nyanyianku dari jauh, dan aku menelisik tawa ibu yang  membuat candu. Selalu begitu. Jarak memang sesekali membuat kita menjadi sama-sama orang asing yang saling mencintai. Kadang untuk bertanya sesuatu padaku, ibu menimbang berulang kali. Kadang untuk menjawabnya akupun harus mengulur sekian hari. Tapi bukankah itulah yang mesra dari kita?
Aku masih ingat, di suatu terik yang dihiasi oleh peluhmu. Aku menyaksikan tetesan Cinta bercampur kepenatan membasahi pelataran rumah kita. Bunga-bunga memerah dan dedaunan membiru. Suaramu parau dan sedikit menipu, "Wanita memang dilengkapi dengan rasa bahagia dalam setiap lelahnya." Aku memilih untuk mendengar dan diam. Lalu saat wajahmu terlelap aku baru saja tersadar. Barangkali "lelah" adalah sahabat baik kita, Bu. Ia membagikan kebahagiaan yang sama. Dan untukku ada pada teduh tidurmu setelah itu.
Lalu di setiap tanggal sebelas bulan dua, engkau mengulas sajak yang sama tentang masa kecilku yang sebagian besar telah terlupa dan deretan doa-doa yang aku tau setiap malam setia membuatmu terjaga. Betapa kejamnya ingatanku, dan betapa tulusnya tresnamu.
Suatu kali, di ujung surat Abasa, tetiba mataku basah. Yauma yafirrul mar'u min akhiih, wa ummihii wa abiih, wa shohibatihii wa baniih. Kenyataan pahit, bahwa kita diciptakan untuk kembali lupa, dan aku takut menjadi beringas karena siksa.
Bu, Tuhan secara sengaja menjadikan kita dua insan yang pernah tinggal dalam satu tubuh. Aku, hidup dan berkembang di dalam rahimmu. Tidur manis, sementara engkau tak jarang kubuat menangis.
Sembilan bulan sekian hari, aku menjadi manusia baru, memberi banyak senyuman diwajahmu namun juga menumpuk segala jenis cucian yang harus kau bersihkan di sela tidurku, aku hanya tergelak, menangis, menyusu, dan meminta ini itu. Lalu ketika tumbuh kenangan itu lenyap seakan ia tercipta hanya untuk kau nikmati dan tangisi sendiri. Betapa tidak adilnya, dan betapa tresnamu padaku itu jauh lebih tinggi daripada keadilan.
Di bulan delapan tanggal empat kali ini, baru kulahirkan sajak untuk surat-suratmu yang telah menumpuk dan berdebu. Mencintaimu adalah perihal usaha mencegah lupa dan terus menerus belajar hakikat cinta.


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar