Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RUMAH



Oleh: Ilman Mahbubillah

Rumah adalah tempat bagi semua yang kembali, tempat dimana banyak doa-doa ku bersemayam, tempat semoga-semogaku pulang dan menemukan tujuan. Seperti hari itu, motor yang kunaiki sudah dijejali dengan beban tubuh serta isi dari tas yang kudapatkan ketika ayah memberinya karena aku juara kelas. Menyalipku dari belakang sekumpulan motor jantan dengan asap khas knalpotnya yang menyeruak sesak dihidungku. Kutatap mereka satu persatu seolah seorang saudara yang esok tak bisa lagi kutemui.
Kucoba fokus kembali, berusaha tidak peduli. Ku tutup kaca helm, lalu mengendarai motor dengan suara rem depan yang mulai meminta pertanggung jawaban dari sang pemilik atas apa yang sudah ia lakukan padanya. Ilusiku menguap, detik bersiur tanpa angka, suara berdesak tanpa makna. Kuhirup sisa udara sejuk selepas turun embun di pagi hari, lalu memprosesnya menjadi suplemen paru-paruku yang baru saja diperkosa oleh karbon dioksida knalpot.
Beberapa klakson terdengar, karena aku berhenti kala kakek pensiunan itu mengambil barang dagangannya yang jatuh akibat kerasnya hantaman angin lalu memutuskan ikatan tali dari potongan ban renta dimakan oleh usianya itu menjatuhkan puing puing yang rencananya menjadi  sumber perantara rezeki untuk istri dan anak-anaknya dirumah.
Ya benar, rumah. Tempat paling asri dan damai ketika dipandang, tempat pulang setelah banyak kepenatan. Tempat cintaku berkembang biak dan lestari, tempat cintaku menetap dan abadi. “Hus!” Halusinasiku kembali mencoba membuat dejavu nya sendiri. Lalu temanku, yang baru baru ini terdesak karena kewajibannya belum saja terealisasikan mengajakku berbincanng dengan suaranya yang menunjukkan perutnya pagi ini belum terisi nutrisi.
“Nanti di Pom bensin berhenti dulu ya !!, Kayaknya motornya butuh makan, hehe”. Ucapnya dengan mengilustrasikan sedikit sindiran padaku.
Setiba di Pom bensin kuamati setiap sudut detailnya sambil menikmati antrean panjang demi mendapat suplay subsidi yang terpaksa kuambil karena kondisi dompet yang dilanda kekeringan akibat akhir bulan. Kemudian tiba lah giliranku, tapi ketika petugas hendak meletakkan alatnya pada mulut tangki bensin seketika ia batalkan sebab suara anak kecil yang berlari dengan menyebut namanya. Kulihat kembali pelukan 10 tahun yang lalu pernah kurasa, dan membangkitkan jua imaji ku tentang rumah.
Rasanya aku segera menarik gas motor ini agar dengan cepat melaju dengan memotong tiap kobaran angin yang menderu dan membuat suasana jadi syahdu. Dalam diriku aku bertanya kembali, apakah benar aku masih disiksa oleh rindu yang seremeh ini pada usiaku yang semi dewasa tapi masih jua kekanak-kanakan. Ah, pikirku aku tidak terlalu lemah, aku bisa menghadapi persoalan seperti ini dengan tanpa rumus mata kuliah statistika yang menyiksa batin teman-temanku karena hasilnya.
Haha, aku tersenyum memandang mereka dengan sesekali menoleh pada orang-orang dan temanku dibelakang yang sumringahnya seperti anak-anak yang mendapatkan angpau hari raya karena selepas motor ini mendapat makanannya, ia juga dapat memanjakan perutnya dengan dalih tidak membawa dompet dan secercah uang pun agar kucuran dana mengalir melalui jalan lain selain dari sakunya.
Anak itu kemudian kembali pada ibunya dengan suntikan semangat baru yang akan dibawanya dan tentunya juga membagikan kebahagiaan pada kawan sebayanya. Lanjut derai dedaunan yang sama juga membersamai tentram suara latukan burung pada pohon lalu teblek tangan temanku menegur. Teguran itu sontak membuatku sadar kembali dengan bapak petugas itu yang menunggu ongkos yang harus kubayar, kulihat tangan keriputnya yang dibasahi dengan sedikit cairan bensin yang sehari-hari sudah seperti sau tangan yang melapisi tangannya.
Mataku sekonyong ketika kukendarai kembali motor ini dan melihat arus jalan yang serupa dengan derasnya hujan kala lebat tak sempat menyela apalagi menyelipkan diri diantara mereka.
“Ishh, kalau kau cuma nunggu nggak sampai-sampai kita nanti”. Desak temanku yang muali tidak sabar dengan situasi ini.
Hingga datang bunyi sirine yang seketika menjadi monolog dan menyita mata pengendara untuk menepi memberi jalan bagi jiwa yang sedang berjuang dalam tiap helaian nafasnya demi kembali menemui keluarganya dirumah. Ah! Lagi-lagi kata rumah meracuni pikiranku. Adapun setelahnya, aku mengambil kesempatan ini untuk kembali meneruskan perjalanan rinduku yang kutempuh bersama hujaman klakson truk dan lemparan percik genangan aspal yang mewarnai keadaan alami sekitar jalan didepan pasar.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar