Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RUANG KELAS


Oleh : Hilwah Tsaniyah
 
Dua tahun yang lalu tepat di sini, di ruangan kelas yang penuh dengan sejuta kenangan di dalamnya. Aku di sini untuk sekedar melihat tempat dimana keluh kesah dan rasa senang itu dirasakan bersama-sama aku sedang kembali dari tanah rantauan yang nun jauh di sana. Aku berdiri dan memperhatikan setiap inci dari ruanga ini. Meja dan kursi yang berpasangan dan berjejer dengan rapi itu telah usang, sama seperti saat terkahir kali aku lulus dan meninggalkan sekolah ini. Hanya cat dindingnya saja yang telah berubah menjadi warna kuning yang membuatnya terlihat paling mentereng di antara sawah-sawah yang baru di tanami padi.
Keadaan kelas ketika jam kosong dan tak ada guru pengganti yang mengajar yang terekan jelas di otakku, kami menggunakan waktu luang tersebut dengan ada yang mengobrol bersama teman sebangku bahkan beberapa murid perempuan membuat kelompok kecil, juga ada yang mengulang pelajaran untuk jam pelajaran selanjutnya atau hanya sekedar merebahkan kepalanya di meja belajar kemudian menuju ke alam mimpinya masing-masing.
Sedangkan aku memilih untuk menonton video yutub untuk menghilangkan penat dari menghitung rumus-rumus yang sejak pagi tadi memenuhi otak dan pikiranku. Hanya aku murid perempuan yang di tempatkan di bangku paling belakang dan seorang diri, tempat duduk kami memang sudah diatur oleh wali kelas dan kebetulan jumlah murid perempuan yang ada di kelas kami berjumlah ganjil. Namun aku tak pernah mempermasalahkannya, bahkan aku bersyukur akan hal itu.
Sama seperti Bimo salah satu murid laki-laki yang duduk seorang diri di bangkunya karena siswa laki-laki yang juga kebetulan  berjumlah ganjil. Namun berebeda denganku dia duduk di bangku urutan ke dua dari depan, karena semua murid laki-laki yang hanya berjumlah tujuh itu semua di tempatkan di bagian bangku barisan ke dua dari depan dan barisan  sisanya di tempati murid perempuan. Dibanding kelas-kelas yang  murid laki-lakinya jumlahnya mencapai sembilan atau sebelas orang.
Bimo datang menuju meja belajar ku dengan membawa laptopnya mengajak ku untuk nonton bersama film yang dia tonton, aku langsung mengiyakan permintaannya dan meghentikan vidio yang sedang ku tonton juga segera ku matikan laptop ku. Karena apa yang Bimo tonton sudah pasti film yang seru dan punya rating yang bagus, dan anak-anak satu kelaspun mengetahui hal itu. Benar saja tak lama setelah itu anak-anak satu persatu datang menuju tempat duduk ku untuk menonton bersama film yang di putar oleh Bimo.
Seperti sudah menjadi kebiasaan ketika tidak ada jam pelajaran, kami berdua aku dan Bimo mengisinya dengan menonton film atau bahkan membahas mata pelajaran yang belum terselesaikan di tempat duduk ku. Aku merasa kita semakin dekat dan diam-diam aku menyimpan perasaan kepadanya tapi ku tepis perasaan itu dan ku buang perasaan itu jauh-jauh. Bimo memang supel dan humoris karena itu banyak teman-teman di kelas maupun teman-teman seangkatan yang menyukai kepribadiannya yang supel dan humoris.
Sikapnya terhadapku yang membuat aku juga yakin bahwa dia menyukaiku seperti beberapa kali kutemui matanya melirik ke arah ku dan kadang memperhatikanku ketika aku presentasi atau hanya sekedar maju ke depan kelas. Ia juga sering bercanda yang selalu menyebut namaku untuk bahan leluconnya, Tapi aku tak pernah marah akan hal itu malah dia membuatku selalu terpaksa  menertawai leluconnya yang agak garing itu.
Ada salah satu kegiatan kelas dua belas yang sangat menyenangkan adalah Study Tour. Kami sangat menunggu-nunggu kegiatan ini walaupun kegiatan ini diadakan di Hari Minggu, dimana hari minggu adalah hari yang tepat untuk sekedar berleha-leha di atasa kasur karena selama enam hari sebelumnya sekolah masuk setiap hari. Namun kami tetap merasa senang karena akan banyak moment yang kami dapat walaupun hanya di dapat oleh jepretan foto. Kegiatan tersebut hanya berlangsung selama satu hari, kami diarahkan untuk datang pagi-pagi sekali kemudian berkumpul di lapangan sekolah dan berangkat menggunakan bus-bus yang telah disediakan oleh sekolah menuju lokasi yang telah ditentukan.
Selesai sudah perjalanan yang cukup melelahkan itu walaupun hanya selama seharian full, namun tetap menyenangkan karena dapat berlibur bersama teman-teman sekelas bahkan satu angkatan, menghirup udara segar yang selama beberapa bulan ini selalu berkutat dengan latihan-latihan soal UN (Ujian Negara). Keesokan harinya kami masuk sekolah seperti biasanya hanya mengerjakan latihan-latihan soal UN. Namun ada yang berbeda dengan Bimo ia jadi diam, tak lagi duduk di tempatku, tak lagi bergurau denga ku atau bahkan hanya sekedar menyapa ku ketika kita berpapasan.
Kemudian lamunanku buyar oleh teriakan yang menyebut-nyebut namaku dari luar kelasm, bergema karena keadaan sekolah yang sepi. Ternyata dia telah mencari-cari ku sedari tadi, teman-teman yang lain sudah menungguku di lapangan sedari tadi katanya. Aku pun mengiyakannya dan mengikuti langkahnya sampai menuju ke lapangan.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar