Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

REVIEW FILM JOKER: POTRET PERAMPASAN KEMANUSIAAN DAN CELAH PEMBENARAN KEJAHATAN

Oleh : Dyah Ayu Fitriana

Dua hari yang lalu tepatnya, seorang kawan *sebut saja Farla, mengajak saya untuk nonton film Joker. Awalnya dari trailer film tersebut saya menduga bahwa film ini hanya akan berisi tontonan sadis seorang psikopat yang disuguhkan dengan mengerikan. Namun ternyata film ini tidak hanya mengulik bagian psikologis saja, tetapi juga strata social, ketimpangan ekonomi dan kemanusiaan.

Baiklah kita mulai saja, mungkin sedikit spoiler tak apa ya, toh kalian juga belum tentu bakal nonton di bioskop kaan…(wahai para pengabdi in**xx1.com.)

Film yang digarap Todd Phillips ini mengisahkan tentang seseorang yang bernama Arthur, yang nanti di akhir cerita akan kalian kenal dengan Joker, tokoh yang menjadi penjahat di film The Dark Knight (saya tidak mengikuti film hero-heoran ini sih jadi nggak bisa jelasin banyak). Mulai dari awal cerita, Arthur digambarkan dengan sosok yang bisa dikatakan sangat tidak beruntung. Sebagai orang dewasa ia hanya hidup dengan ibunya di kota Gotham yang di ambang kehancuran. Ia bekerja sebagai badut yang sering mendapat tindak kekerasan dan ketidak adilan. Kegetiran hidupnya disempurnakan dengan penyakit mentalnya yakni tertawa terbahak-bahak secara tiba-tiba dan tidak dapat berhenti. 

Masalah besar dimulai ketika ia pulang dari kantor yang telah memecatnya. Arthur yang sedang berkostum badut, menyaksikan tiga orang pekerja muda kelas ekonomi atas sedang mengganggu seorang wanita di gerbong keretanya. Saat itu penyakitnya kambuh dan ia sontak tertawa terbahak tanpa dapat berhenti. Kalian harus melihat sendiri cara Joaquin Phoenix memerankan seseorang dengan penyakit tertawa yang diidapnya, suatu symbol kebahagiaan yang ditampilkan dengan penuh ketersiksaan.

Kejadian dalam kereta itulah yang mengawali pemberontakan dalam hati Arthur, tiga orang tadi merasa dilecehkan dan mulai memukuli Arthur beramai-ramai. Dalam keadaan tertekan Arthur secara spontan memantik pistol dan membunuh tiga orang pekerja tersebut. Hal yang membuat kota Ghotam semakin memanas dan menggunakan symbol badut sebagai bentuk pemberontakan rakyat kelas bawah.

Berharap dapat bangkit, Arthur bergabung dengan komunitas Stand Up Comedy. Namun lagi-lagi karena penyakit yang diidapnya, ia gagal dalam penampilan yang telah ditunggu-tunggunya. Dalam penampilannya tersebut ia tidak bisa berhenti tertawa sampai para penonton merasa aneh. Beberapa waktu kemudian rekaman panggungnya itu menjadi bahan olokan sebuah reality show yang rutin dilihat oleh ibunya, sesuatu yang menggoreskan luka di dalam hatinya.

Sepertihalnya sekarang, suatu yang unik bisa dengan mudah viral. Murray Franklin sebagai host di reality show tersebut mengundang Arthur untuk datang sebagai tamu special. Acara ini menjadi puncak pemberontakan emosional Arthur yang kemudian mengenalkan diri sebagai Joker. Kekecewaan terhadap masa lalu ibunya yang menjadi musabab goncangan mentalnya, keterpurukan karier, dan penyakit yang menjadikan hak-hak kemanusiaannya dirampas. Suatu puncak yang menjelaskan dengan gambling bagaimana seorang yang terpuruk dapat memberontak dengan dahsyat. 


Menonton film ini, saya merasa disuguhkan dengan kenyataan yang pahit. Bahwa tidak dapat dipungkiri, penyakit mental masih dianggap sesuatu yang aneh dan patut ditertawakan dalam masyarakat kita. Alih-alih menyadari dan memberi ruang, ketika menanggapi teman yang merasa dilanda stress, depresi, sampai pada tahap ingin mengakhiri hidupnya, orang lebih suka memberikan wejangan “Kurang alim lu”, “Gitu aja udah tumbang, iman lu mana?” dan berbagai judgemental lainnya. 

Arthur sendiri dalam film ini dikisahkan sangat merasa tertekan dengan penyakit yang dideritanya. Tak jarang buku jurnalnya berisi kalimat keterpurukan seperti “Hal yang paling memilukan adalah berharap dirimu tidak sakit di saat kenyataannya dirimu sakit.”, “Kematian akan lebih layak daripada hidupku yang tidak layak”, dan yang terakhir didengungkan adalah sebuah kegetiran “Dulu kukira hidupku adalah tragedy, sampai aku sadar bahwa semua ini adalah komedi, yang pantas untuk ditertawakan.”

Di sisi lain, saya khawatir pada akibat dari film ini. Kita sadari sendiri bahwa bertambah canggihnya teknologi, menambah tingkat ketertekanan mental manusianya. Setiap hari disuguhkan foto-foto luar biasa di feed ig dan media social lain, menyebabkan gampang sekali merasa diri terpuruk dan tidak beruntung.

Munculnya film ini juga dapat dijadikan dalih untuk membenarkan perlakuan kejahatan. Menyalahkan keadaan dan tekanan dari luar yang menjadikannya demikian. Padahal dalam menanggapi suatu perlakuan, adalah pilihan kita untuk melihat dari perspektif mana. Begitupun memberikan respon terhadap perlakuan buruk tersebut, tetap menjadi pilihan kita tindakan mana yang akan kita pilih. Tentu dengan berbagai risiko yang akan kita tanggung.

Akhirnya, secara garis besar film ini berhasil mengemas suatu tragedy ketimpangan psikologis, social dan ekonomi dan akibatnya secara apik. Penampilan dan mimic wajah Joaquin Phoenix yang berhasil mengaduk emosi penonton, dan pesan edukasi psikologis yang disisipkan di dalamnya. Buat kalian yang belum menonton dan tidak sanggup membeli tiket-karena mending dipake makan sehari-, boleh banget calling saya. Tak ceritani, daripada semangat mengomentari padahal belum nonton. Hihi afwan, bercanda. 
  
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar