Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERJALANAN HIDUP NYAI LILIK

Oleh : Siti Khoirun Niswah

Kabar duka telah menyelimuti masyarakat kota kediri khususnya para Nahdiyin karena meninggalnya pengasuh Pondok Pesantren “Al-Falah”  Ploso Kediri, yakni Nyai Hj. Lilik Suyati Hamim Djazuli.  Beliau merupakan istri dari KH. Hamim Thohari Djazuli yang akrab dengan sebutan Gus Miek. Sebelumnya penulis telah mengutarakan terkait biografi Gus Miek di blogger Darun Nun. Namun kali ini penulis akan menceritakan sedikit terkait  Nyai Lilik Suyati Hamim Djazuli atau terkenal dengan sebutan Nyai Yat.

Sepengetahuan penulis, nama Nyai Lillik dahulu sebelum menikah dengan KH. Hamim Thohari Djazuli merupakan seorang pemain tenis meja. Beliau memiliki hoby bermain tenis meja. Bahkan di sekolah beliau sering mewakili perlombaan tenis meja. Beliau bukan berasal dari keturunan kyai, bahkan beliau bukan seseorang yang memiliki basic pengetahuan agama yang kuat (belum pernah mondok). Belau wanita yang cantik menurut kebanyakan masyarakat.

Suatu hari Gus Miek melihat Nyai Lilik sedang berjalan-jalan. Dari pandangan pertama melihat Nyai Lilik, Gus Miek merasa bahwa beliau jatuh cinta terhadap Nyai Lilik. Gus Miek penasaran dengan gerangan Nyai yang menawan. Rasa penasaran itu terus bermunculan, hingga Gus Miek mengikuti perjalanannya dari belakang sampai ke depan rumahnya. Setelah mengetahui rumah Nyai Lilik tersebut, Gus Miek kembali pulang dan beliau berniat untuk menikah dengan Nyai Lilik. Namun Abah Yai KH.Djazuli bin Ustman (ayahanda Gus Miek) tidak merestui niat baik Gus Miek, dengan sebab Nyai Lilik bukan dari kalangan Pesatren dan tidak memiliki pengetahuan tentang islam.

Tekat Gus Miek untuk menikah dengan Nyai tidak padam. Beliau meminta saran dan pendapat dari salah satu Kyai yang sempat mengajarnya. Tekat yang kuat tersebut tidak sia-sia. Lantaran Abah Yai menyetujui pernikahan tersebut. Beliau pun melamar Nyai Lilik dan kemudian menikah dengan dikaruniai enam anak. Empat diantaranya adalah putra H. Tajjudin Heru Cokro, H. Agus sabut pranoto projo, Agus Tijani, H. Agus Orbar, dan dua putri diantaranya Tahta Afina dan Ning Riyadin Dannis.

Gus Miek hidup bahagia bersama Nyai Lilik, hingga masyarakat disekitarnya berdatangan ke rumah Gus Miek seraya mengunjungi dan menyanjungnya. Nyai Lilik yang pada awalnya tidak pernah mengenyam pendidikan agama, akhirnya Gus Miek mengurungnya di kamar selama 30 hari. Selama itulah Nyai Lilik diajari oleh Gus Miek ilmu-ilmu agama. Bahkan setelah 30 hari itu, Nyai Lilik mampu menghafal Al-Quran 30 juz.

Sepeninggal Gus Miek, Nyai Lilik lah yang menjadi penerus tugas mendidik para putra dan putrinya. Selamat jalan Nyai, semoga diberi khusnul khotimah oleh Allah swt. amiin 
 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar