Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENGERTIAN DAN MAKNA HIJRAH MULAI DARI MASA KENABIAN HINGGA YANG MARAK DI MEDIA SOSIAL

Oleh : Dedi Hidayat

Setiap orang yang ingin memperbaiki diri dan memperjuangkan agama tidak akan terlepas dari hijrah. Hijrah adalah langkah yang baik untuk memperoleh pertolongan, kemuliaan, dan keutamaan. 

Awal mula keinginan hijrah adalah sebuah kesadaran, baik itu sadar akan kelalaian, sadar bahwa telah salah dalam memahami hakikat kehidupan, ataupun sadar ternyata selama ini ia berada dalam buaian mimpi atau angan-angan, sehingga pintu hatinya terketuk, ingin merubah dan memperbaiki dirinya, muncul kesadaran untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik.

Perintah berhijrah tertera dalam firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS al-Baqarah: 218).

Selanjutnya ditegaskan bahwa sesungguhnya manusia itu sendirilah yang seharusnya berusaha sekuat tenaga dan pikiran, mengerahkan segala potensinya demi kehidupan yang lebih baik. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa dia sendiri mengubah nasibnya.” (al-Quran surah Ar-Ra’d ayat 11).

Artinya tidak boleh kita semata-mata berharap dan hanya bergantung terhadap kekuatan lain dalam menjalani kehidupan. bagaimanapun diri kita tetap tiada ada alasan untuk menyalahkan siapapun, kita sendirilah yang paling bertanggung jawab atas diri kita. Perubahan tidak akan datang dengan sendirinya, kitalah yang harus memulainya, kita akan berubah apabila kita mau berubah.

Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan atau berpindah. Dalam konteks islam hijrah berarti berarti meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya, atau yang dikenal dengan istilah "hijrah kepada Allah dan RasulNya". Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya." (HR Bukhari dan Muslim). 

Hijrah terbagi menjdi dua macam. yaitu berpindah tempat, berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang di syari’atkan. Seperti yang dilakukan oleh para nabi dan rasul dalam perjuangan bersama ummat atau pengikut mereka. 

nabi Muhammad yang rela berhijrah dari mekah ke madinah demi memprtahankan keimanan dan dasar-dasar agama. Dengan demikian, beliau lebih leluasa menyebarkan islam, memberikan penerangan dalam kegelapan, dan mengukuhkan keimanan sehingga menjadi sempurna dan kuat.

Nabi Nuh a.s yang berhijrah bersama umatnya dengan menggunakan kapal. Ashabul kahfi yang ketika didesak oleh penyembah berhala, mereka pun berhijrah ke kahfi “gua”. Nabi Musa a.s dan para pengikutnya, berhijrah dimalam hari sembari dikejar oleh fir’aun, hingga beliau nabi Musa a.s membelah laut merah kemudian menyeberanginya. 

Nabi Luth a.s yang diperintahkan untuk berhijrah meninggalkan ummatnya, karna akan di azab oleh Allah yakni dengan menghembuskan angin yang membawa batu-batu. Demikian pula dengan para nabi dan rasul yang lain. Intinya, apabila kita membaca kisah mereka maka kita akan tahu bahwasannya hijrah itu merupakan sunnatullah.

Yang kedua adalah hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan. Hijrah  meninggalkan segala yang tak Allah suka, meninggalkan dosa. Dan hijrah ini tidak terbatas waktu dan tempat, namun tetap ketika sadar dan ingin berhijrah, maka janganlah ditunda. selama nyawa belum sampai di kerongkongan, belum berpisahnya ruh dari jasad, kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berhijrah. Segerakanlah sebelum menyesal.

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” ( Ali Imran : 133 ).

Hijrah ini sangat memerlukan kesabaran, Karena dalam berhijrah ada tahap-tahap yang harus dilewati, agar hijrah kita benar dan menghantarkan kepada keridoan Allah. hijrah bukanlah suatu yang instan, ia butuh proses, perjuangan, hingga pengorbanan. “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar : 10). 

Nah, untuk hijrah yang kedua ini (hijrah secara maknawi) sangat membutuhkan support atau dukungan dari saudara-saudara sesama muslim. banyak sekali kita temukan pada zaman sekarang, di kehidupan sehari-hari khusunya di media sosial. antara muslim yang satu dan yang lain saling sindir, menghina, merendahkan, atau menjelek-jelekkan proses hijrah saudaranya yang lain. seolah-olah ialah yang paling benar dan tanpa cela.

Contohnya seperti, seorang wanita yang dulunya tak berhijab, saat mulai berhijab oleh suadaranya sesama muslim di ejek dengan “ia sih berhijab, tapi hijabnya tidak syar’i”. Yang dulunya tidak syar’i saat mulai memakai pakain yang syar’i, lagi-lagi mereka berkata “tapi di sosmed ia masih upload foto diri”. Yang dulunya tidak baik sekarang mencoba untuk melangkah, mereka menyindir “demi popularitas”.

pernah terbaca oleh penulis, tulisan dari seorang teman, “ semua hal butuh waktu, memang 5+5 = 10, namun 2+2+2+2+2 bukankah pun hasilnya juga 10”. Artinya Perlu untuk dipahami, hijrah itu caranya tidak harus sama, dan juga tidak semua orang bisa cepat, bisa mudah, serta teguh dan istiqamah dalam berhijrah. 

Janganlah kita menghina, merendahkan, atau menjelek-jelekkan proses hijrah orang lain. Jika kita menggunakan mobil untuk mencapai kota, jangan hina ia yang bersepeda. Karena meskipun perlahan, tujuannya tetap sama.

Satunya lagi dari tulisan teman penulis, “jangan mencari kebenaran, karena besar kemungkinan kita tidak akan mampu menemukannya. Tapi, utamakan untuk memberikan kebaikan, karena jelas kebaikan bukanlah kesalahan”. janganlah sekali-kali kita menjastis, siapa kita mampu menilai baik dan benar? Setingga apa sih ilmu kita?.

Terhadap orang lain lihatlah kebaikan-kebaikannya, jangan lihat keburukannya. Karena jika kita mau melihat kebaikan, maka akan timbul sikap meng-agungkan. Namun jika kita fokus pada keburukan, hanya akan timbul rasa merendahkan.

Sebaliknya, terhadap diri kita sendiri. perbanyaklah untuk melihat kesalahan atau kekhilafan. jika kita hanya mau melihat kelebihan diri, maka hanya akan muncul sifat sombong dan merasa paling benar sendiri. Tapi jika sering melihat kesalahan diri sendiri, maka akan muncul sifat tawaddhu dan selalu mau membenah diri.





Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar