Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENGABDIAN SANTRI

Oleh : khoirun niswah

Saya seorang Mahasiswa yang berasal dari Kediri. Kediri merupakan kota kecil yang sejuk, rindang hingga sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani dan Kediri juga dipandang oleh banyak masyarakat  telah  memunculkan  santri dan ulama karena banyaknya pesantren yang berdiri di Kediri.

Banyak pondok pesantren salaf yang berdiri di Kediri diantaranya Lirboyo, PP. Al-Falah Ploso yang didirikan oleh Gus Mik, dan beberapa pondok pesantren yang berdiri namun belum dikenal oleh banyak masyarakat. Tetapi diantara mereka sedikit yang meneruskan sampai ke jenjang Magister. Beberapa faktor diantaranya ialah adanya pernikahan dini, perekonomian yang kurang memadahi, paradigma dan pemikiran masyarakat yang tidak ingin maju, dan lain sebagainya. Maka dari itu saya sebagai generasi  penerus bangsa merasa memiliki kewajiban untuk memberi sejarah baru bagi masyarakat agar bisa ditiru oleh generasi muda selanjutnya.

Semasa kuliah saya mencoba menjadi mahasiswi yang aktif. Satu tahun saya tinggal di mabna sebagai kewajiban bagi mahasiswa baru, setelah itu selama dua tahun saya menjadi musyrifah yaitu sebutan bagi pengurus ma’had di UIN Maliki Malang. Satu tahun saya di mabna Ummu Salamah dan tahun berikutnya saya bertempat di mabna yang berbeda, Asma binti Abi Bakar. Dimana peran musyrifah disini ialah mendampingi dan membimbing mahasiswa baru yang memiliki kewajiban untuk tinggal di ma’had untuk mendalami ilmu agama dan bahasa selama satu tahun. 

Selama mengabdi menjadi musyrifah, saya pernah berada pada posisi ketua Devisi Ubudiyah. Dimana ketua ubudiyah memiliki kewajiban lebih daripada anggota. Disini saya berkewajiban membangunkan seluruh musyrifah dan mahasantri dalam lingkup satu mabna. Dengan langkah tersebut perlahan saya berharap dapat membantu mencetak generasi intelektual yang berbasis ulama atau ulama yang berbasis intelektual yang menjadi misi UIN Maliki Malang. Sampai saat ini, ma’had yang berada di UIN Maliki menjadi percontohan beberapa kampus islam di Indonesia. Suatu kebanggaan tersendiri yang saya rasakan dapat mengabdikan diri dan membantu pengembangan ma’had yang menjadi misi terbesar UIN Maliki Malang.

Setelah dua tahun mengabdi menjadi musyrifah, saya melanjutkan untuk menimba ilmu  ke Pondok Pesantren Darun Nun Malang. Pesantren tersebut merupakan pondok mahasiswa yang memiliki visi dan misi untuk berkarya, berbahasa dan bermasyarakat. Pondok Darun Nun mengedepankan aspek literasi dan bahasa serta bermasyarakat. Sebagai santri tidak hanya menitikkan pada tugas kuliah atau mengaji kitab dan Al-Quran saja, melainkan juga ikut andil dalam kegiatan sosial masyarakat. Ketika saya masuk menjadi santri, saya diberi amanah menjadi pengurus pondok sebagai devisi bahasa. Segala ilmu yang saya dapatkan, berusaha saya tularkan kepada teman-teman di pesantren. 

Disisi lain, saya mengajak teman-teman untuk mengembangkan bahasa sebagai media belajar bagi masyarakat Perumahan Bukit Cemara Tidar. Salah satunya kursus bahasa arab dan inggris satu minggu sekali yang bekerjasma dengan TBM (Taman Baca Masyarakat) dan dibentuk oleh masyarakat RT 3 BCT. Walaupun berjalan masih beberapa kali, harapan saya kursusan ini segera hidup kembali. Selain itu saya juga mendedikasikan diri dalam kegiatan ketakmiran. 

Disini saya berperan sebagai sekertaris Tadrisul Al-Quran yang merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Masjid Baiturrahman dan sayapun membantu dalam mengembangkannya. Tadrisul Al-Quran ini diikuti oleh masyarakat BCT dan sekitarnya yang terdiri dari Tahsin Al-Quran, Tarjamah Al-Quran, Tafsir Al-Quran dan Tahfidzul Al-Quran. Pembelajaran ini diikuti oleh bapak-bapak dan ibu-ibu, baik yang berprofesi seorang pekerja ataupun ibu rumah tangga. Terdiri dari beberapa kelas  yang semuanya aktif sampai saat ini.

Saya mengusahakan untuk berperan penuh dalam administrasi pada program tersebut. Ini merupakan wujud untuk membantu menjunjung masyarakat dari kalangan lanjut usia agar tetap belajar meski tidak di bangku kuliah. Inilah  sebagian kecil andil yang saya lakukan untuk membantu masyarakat mempertahankan pola pikir akan pentingnya pendidikan.

Setelah mendapat gelar Sarjana Humaniora (S.Hum), saya tetap aktif dalam kegiatan Tadrisul Al-Quran dan lulus S1 saya mendedikasikan diri untuk mengajar di PAUD Al-Quran Baiturrahman Malang. Dimana program ini merupakan program yang dibentuk oleh yayasan masjid Baiturrahman. PAUD ini merupakan PAUD yang masih merintis, karena baru dibentuk pada Juli 2018. Saya berperan membantu pembentukan PAUD tersebut mulai dari desain ruangan, menjadi tenaga pengajar yang dikontrak selamasa satu tahun dan saat ini saya masih aktif menjadi tenaga pengajarnya. PAUD Baiturrahman ini berbasis Al-Quran, karena disana menampung anak-anak mulai umur 2,3 sampai 4 tahun untuk dapat mengenal Al-Quran sejak dini. 

Alhamdulilllah walaupun baru merintis, siswa PAUD Baiturrahman terhitung sebanyak 24 siswa. Walaupun profesi ini tidak sesuai dengan jurusan saya, namun ini merupakan bagian dari cita-cita dan tujuan saya. Menjadi pendidik dan mengamalkan semua ilmu yang saya miliki dengan sebaik-baiknya yang saya mampu. Dengan mendidik anak mulai dari usia dini ini, saya berkesempatan untuk membantu membentuk karakter generasi muda yang berintelektual namun juga tidak keluar dari ajaran-ajaran agama islam yang dianut. Karena PAUD Baiturrahman lebih mengedepankan hafalan sekaligus isi kandungan Al-Quran. “pengabdian bukan soal seberapa tinggi jabatan kita,tapi seberapa kita ikhlas dan istiqomah menjalankannya, kita yang menjalankan Allah yang menentukan”

Santriwati Darun Nun
Siti Khoirun Niswah
14 Oktober 2019






Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar