Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PAHIT MANIS KEHIDUPAN DI PESANTREN

Oleh : Meisya Eva Natasya

Kata pesantren berasal dari kata pesantrian yang berawalan “pe” dan berakhiran “an” yang dikarenakan pengucapan kata itu kemudian berubah menjadi bacaan “en” (pesantren) yaitu, sebutan untuk bangunan fisik atau asrama yang mana para santri bertempat. Tempat itu dalam bahasa jawa adalah pondok atau pondokan.
Pesantren kerap diartikan sebagai asrama tempat santri belajar mengaji dan sebagainya. Dalam komunitas pesantren ada santri, ada kiai, ada tradisi pengajian dan masih ada yang lainnya. Ada pula bangunan yang dijadikan para santri 24 jam. Saat tidur pun para santri menghabiskan waktunya di pesatren.

Tujuan para santri dipisahkan oleh orang tua dan keluarga adalah agar bias hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan antara kiai dan tuhan.
Kalian yang pernah mondok di pesanten pasti pernah merasakan indahnya hidup dipesantren. Ada suka dan ada duka, hidup berjamaah dengan teman-teman. Merasakan indahnya kebersamaa, makan bareng, sholat berjamaah, belajar bareng, dan banyak lagi kegiatan yang telah ditetapkan oleh pesantren. Ketika menjelang subuh para santri berlomba untuk sholat tahajjud, ada yang mandi, ada yang tadarrus, belajar dan berbagai aktifitas lain yang layaknya di lakukan oleh para santri.

Memang kehidupan dipesantren membuka wacana seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan tanpa keegoisan, ketika ada temen kamar yang sakit mereka saling membantu, mencucikan bajunya, merawatnya sampai benr-benar sembuh. Subhanaallah, benar-benar indah bukan??? Ketika subuh keta bersama pergi ke masjid, sholat subuh berjama’ah, kemudian dilanjutkan tadarrus dan belajar kitab-kitab bersama para asatidz. Setelah kegiatan ta’lim selesai di lanjutkan dengan membersihkan pondok seperti menyapu halaman, menyiram bunga-bunga dan membersihka kamar masing-masing. Setelah itu persiapan untuk berangkat sekolah dari pagi sampai menjelang sore, kembali kita menyibukkan diri untuk tetap mengingat Allah, sholat, tahsin, kajian dan belajar. Akan terasa lebih indah jika itu semua dilaksanakan karna mencari ridho Allah. Satu hal yang membuat aku bertahan di pesantren adalah sifat kekeluargaanya.

Pertama masuk pesantren berasa berada di dunia lain, tpi alhamdulillah kedua orang tua ku sudah mengajariku mencuci baju sendiri, menyapu ,mengepel lantai, membuang sampah, membersihkan kamar mandi dan lain-lain. Oleh karna itu saya tidak kaget dengan itu semua , setelah satu tahun saya baru merasakan betapa nikmatnya hidup dipesantren. Namun, dibalik semua itu tidak semua anak yang dimasukkan oleh orang tuanya ke dalam pesantren adalah anak yamg benar-benar baik, ada anak yang memang nakal dan orang tuanya memasukkan ke dalam pesantren agar dia dapat merubah sifatnya menjadi lebih baik, tpi ada juga mempengaruhi teman-temannya agar menjadi nakal seperti dirinya. 

Dan aku  merasakan di dunia pesantren ini selalu ada ulah santri yang terkadang hampir saja aku terjerumus. Tanpa ada rasa takut ada yang menyanyikan lagu-lagu dangdut dan galon kosong yang di gunakan sebagai alat musiknya, ada juga yang selalu menyalahkan teman-temannya, menganggap dirinya paling benar sendiri. Ada juga yang merasa dirinya paling cantik, paling imut dan paling bersih.ada lagi yang mencari kesalahan orang lain, ada yang cuek, yang lebih parahnya di dunia pesantren identik dengan kudis dan kutu, kalau satu santri udah kena pasti yang akan kena juga. Ya inilah kehidupan pesantren kita harus membedakan yang baik dan yang jelek. Karena itu semua adalah proses kita sebagai manusia dalam hidup. 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar