Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MUTIARA EMAS, DI UJUNG KOTA

Oleh : Nurmiati Habib

Siang itu, di tengah panas terik matahari yang sangat menyengat kulit, saya dan Mbak Fitri memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor, tanpa sarung tangan ataupun pelindung kulit lainnya (Hmmm skincare). Menyusuri perjalanan dari kota dengan penuh kemacetan hingga daerah terkecil di kota Malang yang begitu asri dan damai. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan lelaki bersarung berjalan menuju Masjid terdekat, bapak-bapak yang menggendong anak-anaknya, dan santri-santri berkoko putih yang mengademkan hati. Karena kebetulan hari itu hari Jumat, yang ramai lalu lintas orang berjalan menuju masjid terdekat dari rumahnya.

Gondang Legi itulah  nama daerahnya. Salah satu sudut di Malang Kabupaten yang terkenal sebagai lumbung santri karena begitu bayaknya pondok pesantren disana. Tanaman hijau khas pedesaan menambah sejuk suasana saat ini. Anak-anak yang bermain layang-layang berlari kesana kemari mengingatkan kembali permainan anak-anak tempo dulu yang saat ini sudah jarang kita temui. Gemercik air sumber yang  begitu mengelitik jiwa ini untuk mandi dan suasana desa yang begitu khasnya.

Semakin lama menyusuri jalanan di kota ini semakin terpukau dengan kenaturalan karakteristik masyarakat dan suasana indahnya. Ketika di Malang kota dipadati dengan kehidupan dunia kampus, mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki karakteristik  berbeda pula, dan mall-mall yang saling bersaing satu dengan lainnya. 
Sesampainya disana  tertuju dengan satu rumah yang memang sudah menjadi tujuan kami sejak awal. Rumah tersebut nampak sedang dalam renovasi dan sangat sederhana sekali. Akupun terpaku dengan dua baliho besar di kanan kiri pembatas rumah yang terpampang gambar satu keluarga yang sedang menunaikan haji di Baitullah. Foto seorang anak kecil yang begitu cantik dengan balutan jilbab putih untuk menutupi mahkotanya. Sepasang suami istri yang tersenyum bahagia. Sayangnya kami harus menunggu untuk bertemu dengan penghuni rumah.
Setelah lama kami menunggu dengan drama yang terjadi, akhirnya nampaklah laki-laki dengan perawakan kecil berumur sekitar 35 tahun berjalan menyambut kami.
“Monggo silahkan duduk Mbak” Kata Bapak itu
‘Enggeh pak, matur suwun” sahut kami 
“Ngapunten loh mbak, saya dan keluarga baru dari Malang Kota nyari buku di Togamas”
“Enggeh pak ndakpapa, kami jadi tahu daerah sini”

Ditengah kami sedang berbicang-bincang. Keluarlah anak kecil yang sangat cantik sama persis dengan di gambar baliho depan rumahnya. Inilah Dek Aida Juara satu Hafidz Indonesia RCTI  2018. Wajahnya sangat bersinar, dengan seragam sekolah yang masih ia kenakan. Ia keluar bersama adeknya yang kira-kira berumur tiga tahun dan tak kalah cantiknya dengan dek Aida. Tak berselang lama keluarga seorang wanita dengan membawa nampan yang berisi air untuk kami.

Kami mengobrol cukup lama dari bagaimana dek Aida bisa masuk ke Hafidz Indonesai RCTI dan perjuangan orang tua seperti apa, dan cerita meununaikan haji ke Baitullah  dengan barokah Alquran. Disana kami cukup tertegun dibalik kesederhanaan keluarga ini, tak nampak wajah lelah karena selesai berpergian. Yang nampak hanyalah wajah ceria menyambut dan bercerita bersama kami. Ayah Dek Aida yang juga seorang guru di sekolah yang sama dengan Aida. Secara ulet menyimak hafalan dek Aida ketika jam istirahat berlangsung. Sore hari mengantarkan ke pondok tempat dek aida mendapatkan Ijazah hafalnnya, dan murajaah kembali setelah sholat maghrib.

Yaah inilah keluarga Dek Aida, dibalik kesederhanaan yang dihadapi tersimpan mutiara emas yang mampu membuat terenyuh siapapun yang mendengarkan ceritanya. Orientasi orang tua yang tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan duniawi saja. Melainkan menciptakam generasi emas penghafal al-Quran.

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar