Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENULIS ITU PASSION?

Oleh : Fahym

Hari ini, aku tak tahu ada apa dengan sang fajar. Entah apa yang merasukinya, hingga ia mampu melempar senyum padaku dengan senyuman indah memesona. Aku menoleh lagi ke arah kedatangannya, ternyata ia kali ini bersolek dengan segenap tata riasnya yang memukau siapapun yang memandangnya. Tak hanya itu, ia juga tak datang seorang diri. Ia hadir bersamaan langit jingga keunguan, langit yang tak selalu mau menerima ajakan sang fajar untuk mengusir gelap malam.

Iya, pembacaan wirdullatif telah usai. Layar ponselku tiba-tiba bergetar. Aku menggerutu pada diriku, “kenapa ke masjid bawa handphone segala? Ah, millenial sekali”.  Aku kemudian meraihnya dari sakuku. Ah, ternyata notifikasi telegram yang membuat ponselku bergetar. Aku buka, ada sejumlah pesan yang belum kubaca, hampir kurang lebih 500 pesan di sebuah grup telegram. Beberapa waktu lalu salah satu temanku mengajakku bergabung pada sebuah komunitas kepenulisan online, aku nurut saja walau sebenarnya aku ragu dengan tulisanku. Aku dengan segenap keterbatasanku dalam hal menulis tak layak untuk menjadi seorang penulis. Tapi suara hati membantahku keras-keras, menudingku dengan berbagai kata “awas saja”. Aku mungkin keliru sedari dulu mencamtumkan mimpi menjadi seorang penulis diantara deretan dream-listku, sehingga suara hati sudah sangat kenal dengan dream-list ku itu.

Pagi ini tidak ada ta'lim seperti hari2 biasanya. Lagipula, raut wajah semua santri terlihat tak kuat menahan rasa kantuk yang menyerang mereka akibat sebuah acara semalam. Langsung saja, kaki kulangkahkan menuju pondok, mengingat aku mendapati piket memasak bersama 4 orang santri lain. Ah, hari kamis! Hari dimana aku harus mengumpulkan sebuah karya. Entahlah harus  berbentuk karya apa?. Fikir mulai berkecamuk. Ribuan kosakata yang sedari kecil, bahkan setiap hari kupakai mendadak hilang atau mungkin bersembunyi yang aku tak tahu dimana. Usai memasak, aku putuskan untuk membuka laptopku. Berharap akan ada ide untuk menulis hari ini. ah, menyebalkan sekali piket kepenulisan sekarang? atau entah apa yang merasukiku sehingga tiada berfikir untuk mulai menyiapkan tulisan sedari hari sebelumnya. Ah, apalah arti sesal!.

Aku masih penasaran dengan pesan-pesan di grup telegramku. Aku bergumam, bisa-bisa aku di kick dari grup itu dikarenakan kemalasanku membaca seluruh pesan apalagi untuk menulis berbagai tulisan dengan deadline yang tak kalah seram daripada deadline pengumpulan karya santri Darunnun. Aku scroll saja, dengan sekilas membaca apa saja yang dibicarakan di grup. Benar saja dugaanku. Dalam grup tersebut berisi materi kepenulisan, motivasi menulis, curhatan para writers, dan tugas-tugas kepenulisan. Ah, semakin pusing saja. hehehe. Aku kemudian terpaku pada sebuah motivasi pada kalimat dengan berbilang "if you are thinking that writing is a passion, it's wrong. It's not about passion". Aku renungi lagi dan lagi sebuah kalimat itu, hingga aku sadar bahwa menulis adalah tentang cita-cita dan motivasi. Mungkin saja kita anggap biasa suatu tulisan kita, tapi siapa tahu jika orang lain di luar sana malah tergugah dengan tulisan kita. (baca: saya). Aku jadi ingat nasihat seorang kakak tingkatku yang aku memanggilnya ibuk rantau, ia bilang "Nulis itu, entah puisi, cerpen, atau apapun lah pada intinya bukan pada seberapa bagus diksi terurai, seberapa indah rima tertata, yang terpenting adalah seberapa dalam sebuah karya itu tertanam dalam sanubari orang-orang". Iya, aku sekarang mendadak speechless. Dan kembali bertekad lagi untuk terus menulis. Ternyata fajar yang menyapaku tadi sebelum pagi ingin berpesan padaku. Sebuah pesan agar aku segera usir gelap persepsiku.

Menulislah walau tidak dengan kata-kata indah. Menulislah walau tidak dengan rima yang tertata. Menulislah walau tidak dengan diksi terurai. Menulislah dari hati!

Darunnun, 3 Oktober 2019. 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar