Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MATA MALAIKAT

Oleh : Ahmad Nasrul Maulana

         Lengang menyelimuti dini hari, bekas rinai hujan semalam membuntangkan aroma khas sebab berfusi dengan tanah berdebu di setapak rumahku. Tetesan embun pun turut serta membasahi ranting kerontang pohon bidara tempat biasa camar bertengger. Sungguh pagi yang penuh kesyahduan.
          Namun tidak pada keluargaku sepekan ini, semenjak abak hadir kembali di rumah. Percekcokan skandal kerap memekikkan telinga, seakan menjadi rutinitas nestapa yang menjejaliku. merenggut paksa mimpi manisku yang semalam perlahan ku rangkai dengan ilusiku. Bualan, cemooh dan penghinan terlontar gesit dari mulut Abakku, setelah hampir sewindu Abak berkelana jauh meninggalkanku dengan Emak tanpa kabar sepintas pun. Abak bertekad merantau untuk memutar nasib ekonomi kami, alhasil Abak berhasil, ya . . . dia benar-benar sukses dengan rantauannnya. Abak pulang menggendong sekoper rupiah. Namun jika Abak ditanya soal provesi yang membawanya ke ambang kejayaan, Abak malah marah tak bersebab, seakan ada sesuatu yang ditutupi. Hal itulah yang menuangkan keraguan Emak untuk menggunakan uang pemberian suaminya.
         Kerinduan Emak atas kepergian imamnya memang telah terobati. Namun sejak Abak di rumah, hidup Emak malah semakin tertekan. Abak ingin diperlakukan bak seorang raja oleh Emak. Hal sepele yang tak wajar untuk diperdebatkan oleh Abak dibuat sengketa yang berujung kekerasan. Tempramen Abak yang possesive dan mudah tersulut emosi menjadi petaka bagi Emak. Tak jarang tamparan keras mendarat di pipi keriput Emak, Hanya karena teh yang kurang manis atau kemanisan, wajah emak kuyup oleh siraman teh hangat buatannya. Semuanya dianggap salah di hati Abak, walau telah dilakukan sebaik mungkin oleh Emak.
          “Sudah berapa kali ku bilang San !!, kau memang tak becus mengurus suami. Kalau bukan karena wasiat mendiang Emakku, aku tak akan pernah sudi memperistrimu !”. cerocos Abak yang mulai naik pitam.
          “Kau lihat ini !, apa keluargamu ini kau suruh makan batu ?, kau tak pandai memasak. Apa matamu kini picik hingga tak dapat memilah mana beras dan batu ? ?”. lanjut Abak sembari melempar segenggam nasi ke lantai dan menginjaknya. Aku hanya terpaku mendengarnya dari balik bilik tidurku. Aku benar-benar merasakan kegetiran perasaan Emak yang tersayat oleh perlakuan Abak.
          “Jika tahu begini, dari dulu lebih baik aku mempersunting gadis kolegaku sendiri, yang tentunya lebih memikat darimu.” Ujar Abak dengan raut penghinaan.
          “Cukup Wartono, penghinaanmu terhadapku sudah sangat keterlaluan. Ketabahanku yang lama ku bangun, telah runtuh di pagi ini juga. Kau sungguh kelewatan, dasar lelaki jahannam. . . ! !”. Teriak suara parau Emak, entah dari mana Emak memperoleh energi itu, setahuku Emak tidak pernah berujar sekeras ini. Mungkin rasa sakit di hati Emak atas penghujatan Abak sudah berkecamuk.
           “kau memang berhasil merubah ekonomi kami setelah delapan tahun bekerja di kota sebrang. Kau telah mendapatkan semua yang kau mau, tapi aku tidak butuh semua itu War. ., aku hanya menunggu kepulanganmu. selama itu aku memendam rindu kepadamu, hanya itu. Aku sayang padamu tidak karena kau, ini aku, ini rasaku, ini cintaku Warrr, jika tidak kau tidak pula aku. Aku bertahan sejauh ini karena ku masih punya hati, tuk merasa, tuk meminta, tuk memberi, tuk berharap dan tuk mencintai dirimu.” Bulir kristal bening perlahan meleleh tanpa ku kupinta di mataku, aku benar-benar terbawa pertikaian hangat ini. Padahal tak seharusnya anak seusiaku mengerti hal semacam ini.
          “Sringg. . .” aku mendengar dentuman itu, ya . . itu seperti belati. Sontak aku keluar kamar dan benar, Abak berjalan perlahan mendekati Emak dengan mengangkat belati di tangan kirinya.
          “Kau memang tak tahu diperuntung San, kau pantas mendapatkan ini !!”. Emak hanya bersimpuh di lantai tak berdaya, namun tiba-tiba,
          “Angkat tanganmu !!” suara asing bergema seantro rumah. Belati Abak terjatuh diikuti todongan pistol tepat di kepalanya.
         “Saudara Wartono, anda kami tangkap atas kasus peneroran dan intimidasi dengan kekerasan.” Abak terbisu tak berkutik, Satu dari komplotan pria gempal berseragam gagah itu mendekati Emak dan bebisik. Sepintas kemudian tangis Emak pecah sejadi jadinya, aku berlari merangkul Emak yang pasrah atas kejadian ini. Ya. . sepagi ini, rangkaian peristiwa naif melanda keluargaku dengan cepat, dapat kupetik sebuah pelajaran dari kejadian singkat ini, bahwasanya tuhan memang telah merencanakan ini semua, jika tuhan berkehendak lalu para insan dapat berbuat apa ? toh, jika menentangnya hanya akan menurunkan murka-Nya. Dan aku percaya mata malaikat tak akan pernah terpejam untuk mengintai dan mencatat perbuatan manusia hingga kelak jagat semesta dibumihanguskan oleh penciptanya. Dan Abak kini telah mendapat batunya.
          Rasa kehilangan Abak kini menggelayuti hatiku dan Emak, meski jika ada Abak di rumah hanya akan menimbulkan kegelisahan dan penderitaan bagi kami. Kini Abak hidup di dalam rutan, Abak terdera khasus yang parah dan hukuman berat. Dugaan Emak selama ini terbukti, bahwa uang yang didapatkan Abak adalah uang haram. Selama ini Abak bersekongkol dengan salah satu caleg di kota perantauannya. suatu hari Abak diminta menembak pesaing caleg partai lain saat pesta kampanye berlangsung. Abak berhasil tanpa ketahuan publik dan sebagai tanda pamrihnya caleg itu memberikan sekoper uang yang kini beada di rumahku. Namun aparat tidak tinggal diam, selama sepekan pelacakan dilakukan dan pagi ini juga kedok dibalik peneroran itu terbongkar. Dan itu adalah Abak kandungku.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar