Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KUMPULAN MANUSIA KUNING

Oleh : Novia Anggraeni


Pagi itu matahari masih menyamarkan dirinya dibalik awan malam. Kabut dingin berada pada titik terendahnya membuat para pemuja mimpi enggan untuk bangun. Begitu pun dengan aku, kalau bukan perkara panggilan alam mungkin aku tidak akan beranjak dari kasur lantai kesayangan. Karena sudah kepalang tanggung untuk tidur lagi akhirnya aku memutuskan untuk membereskan sisa pergulatanku dengan tugas semalam. Pada satu titik mataku terpaku oleh sebuah buku hijau kecil yang empat tahun ini telah datang dan pergi karena keteledoranku sebagai manusia pelupa. Aku sapu sampul depannya dan langsung ku buka saja halaman pertama, tertulis namaku disana yang sengaja ditulis dengan sedemikan indahnya. Halaman kedua kosong hanya terdapat kertas bergaris, halaman ketiga terdapat daftar barang bawaan yang akan dibawa ke tanah rantau. Pada halaman ketiga kesanku menyeruap terdapat gambar orang – orangan alakadarnya yang sedang bergendengan tangan dengan senyum melebar bergaris cinta mengelilinginya. Tertulis kata – kata indah sarat makna dibawahnya. 

Aku ingat betul bahwa itu adalah tulisan tanganku sendiri, tapi alasan dibalik penulisan itu aku lupa apakah gerangan yang mendasarinya. Disamping kelupaanku aku merasakan dengan sangat sadar atas kebenaran dari tulisan tersebut. Hatiku dengan dada yang lapang  menerima bahwa teori tersebut sangatlah mujarab untuk para jiwa kesepian yang  menjadi asing di tanah orang. 

Aku adalah  seorang anak rumahan yang dari kecil hingga manginjak bangku sekolah menengah atas tidak pernah jauh dari ibu dan rumah. Batas lama aku keluar dari rumah tidaklah lebih dari tiga hari dua malam, itupun hanya untuk Perkemahan sabtu minggu ataupun rekreasi ke kota sebelah. Akhirnya dengan jiwa yang sebenarnya di kuat – kuatkan  dan gengsi yang ketinggian aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang anak kuliah. Dimana mau tidak mau aku harus keluar dari tanah kelahiran yang sudah terasa membosankan untuk kadar anak labil sepertiku. 

Kilas balik masa rantauku diisi dengan hari – hari yang di awali dengan tangis kesepian di sudut kamar nomer tujuh, Penyakit rumah enggan untuk sembuh, diluar ramai dengan lalu lalang para penjaja makanan mulai dari daging bulat hingga paha ayam bertulang bambu. Tapi kamar nomer tujuh masih terasa sepi sampai menembus batin, kamar sebelah masih terkunci rapat, kamar dalam tak ada kata yang dikenal. Hanya aku dan pikiranku yang mencoba untuk menghibur tapi gagal yang ada semakin perih. 

Tibalah pada hari pertama penyambutan mahasiswa baru, aku telah menemukan teman, dia adalah perempuan yang duduk tepat disebalahku dalam gedung  megah bak cakrawala. Walaupun demikian aku tidak banyak bicara dengan dia Mungkin karena terlalu fokus dengan pemateri yang terlihat kecil di panggung atau terlalu lelap dalam tidur. Tiga hari berjalan dengan rutinitas yang sama, bayangan tentang kampung halaman yang ternyata lebih nyaman daripada kampung orang masih terus gentayangan dan aku membenci perasaan ini. 

Hari ketiga posisi penyambutan telah berubah tempat dan aku terpisah dengan temanku karena ternyata kita tidak dalam satu kelas yang sama, hari yang dingin itu aku dibariskan di  halaman  gedung D5, di depan gedung berlantai tiga tersebut terdapat beberapa pohon palem yang menjulang  dan pohon buah sukun yang lebat. Barisanku tepat di depan pohon palem yang paling tinggi, aku di barisan kedua di belakang perempuan dengan perawakan kecil tapi manis. 

Sembari menunggu anak – anak yang lain datang aku memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan  perempuan kecil tersebut. Hal pertama yang terucap adalah menanyakan siapakah nama dia, dan hal kedua adalah dari manakah dia berasal.  Bak obat penawar rindu saat dia menyebutkan dari mana dia berasal satu batu luruh dari hati, ternyata kita berasal dari kota yang sama, dia di ujung barat kota aku di ujung selatan kota tapi kita dalam perjuangan dan nasib yang sama. Mungkin hal tersebutlah yang mengikat kita. Pertemuan itu adalah cikal bakal terbentuknya kumpulan manusia kecil berwarna  kuning, penawar kesepian dan obat gundah gulana di tanah rantau.






Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar