Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kota Malamku


Kota Malamku
Oleh : Maulanasrul17
Deretan lampu PJU jingga menghiasi setiap sudut jalanan, puluhan gubuk pedagang kaki lima tumbuh menjamur menyesaki bibir jalan, riuh gemuruh piring yang saling bersilang, bau asap daging panggang menyeruak tajam, aroma nasi yang diaduk dengan resep legendarisnya, juga sesekali klakson kendaraan bersahutan sebab padatnya metropolitan, seakan menjadi rutinitas lumrah tatkala purnama bertandang di tempat ini.
“Ayo Hid!! sebentar lagi pukul delapan, waktu kita tinggal sebentar” ujarku sembari mengangkat tiga bongkah pipa bekas yang ujungnya ditutup oleh ban dalam lantas direkatkan dengan karet yang juga terbuat dari guntingan ban dalam memanjang, ketiga pipa tersebut memiliki jari-jari yang berbeda, ini ditujukan agar suara yang dihasilkan bervariasi pula.
“Sekejap lahh, si Ilman belum datang, malam ini kita totalan kan??” timpal Syahid dengan kening mengerut menyimpan kecemasan juga. Bagaimana tidak, jalan ini hanya memiliki satu perempatan dengan empat lampu merah pastinya, selain itu banyak anak-anak seumuran kita, ibu-ibu dengan menggendong buah hatinya yang terjaga, serta tak jarang pula bapak-bapak bertempramen gagah menggantungkan hidupnya pada empat lampu merah ini, padahal kalau dipikir, fisik mereka masih mampu untuk bekerja. Pernah, Ilman menanyainya, namun bukan jawaban yang didapatnya tapi malah tamparan yang diterimanya. Banyaknya orang yang menafkahi hidupnya dengan harapan selembar rupiah bahkan recehan koin dari tangan lembut sang penderma, juga agar semua bisa merasakan kebaikan itu, maka diterapkanlah sistem sama rata, artinya setiap pengamen dijatah waktu dua jam untuk berkeliling dari mobil satu ke mobil lain, dengan cara itulah kawanan kaum lusuh bisa menikmati kemuliaan hati pengguna jalan secara adil.
“Hai San, Hid, maaf telah membuat kalian menunggu”
  “Kau ini, kebiasaan datangnya telat, waktu kita terbuang setengah jam gara-gara kau!!” sergapku kesal lantas mendorong Ilman hingga membuatnya hilang keseimbangan, jatuh. 
“Kau marah denganku San?? Bukannya aku sudah meminta maaf??” sahut Ilman dengan nada yang mulai meninggi, rupanya aku benar-benar telah memancing emosinya.
“Ini uang kalian, semoga kalian puas”. Ilman melempar sekantong uang hasil kita bertiga selama satu bulan, lalu lari menjauhi kita berdua, sepertinya dia tersinggung dengan kalimatku tadi. Selama ini Ilman yang menjadi bendahara keuangan kami, dan di setiap akhir bulan kita membagi hasil, kemudian jika terdapat sisa kita gunakan untuk sekedar bersantap makanan di pedagang kaki lima. 
“Ciutt, bruakkk...!!!”  bunyi klakson memenuhi antero perempatan, banyak orang-orang berbirit menghampiri sedan merah itu, darah pekat mengalir deras, membasahi aspal hitam yang basah oleh bekas hujan tadi siang. Pandanganku kosong, tenggorokanku kering, peluh bercucuran, tubuhku bergetar pun dengan Syahid, ukulele yang dipegangnya erat tiba-tiba terjatuh, sontak aku membuang gendang pipa buatanku lalu berlari menghampiri kerumunan orang yang bersesak mengelilingi sedan itu. 
“Pak, buk, cepat panggil ambulan segera!! Ini temanku” teriakan Syahid memecah telingaku, aku tertukik, mulutku terkunci seketika, tangis pecah sejadi-jadinya, tak hentinya pula aku mengutuki diriku. Arggh.... egoisnya diriku, kalau saja aku bisa mengendalikan ucapanku tadi, badai tidak akan pernah terundang.
Sejurus kemudian datang sebuah ambulan, dengan sigap empat pemuda berseragam seirama keluar dengan membawa koper kecil bergambar palang merah, entah apa yang dilakukannya terhadap Ilman, sejauh ini aku hanya terisak, hingga satu dari mereka bergumam
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, anak ini tidak tertolong, cepat hubungi orang tuanya!” pandanganku sayu, pikiranku kelam, betapa kejamnya aku, dasar mulut bengis, hingga tega mencelakai daging saudaranya. Aku merangkulnya, tubuhnya dingin, bahkan lebih dingin dari malam ini, aku teramat menyesal dari sanubari paling dalam. Ilman, teman seperjuangkanku, dalam setiap alunan lagu yang kita lantunkan untuk memikat pengendara, dalam setiap petikan ukulelenya yang membentuk notasi rapi, dan dalam setiap receh koin penderma pelukis senyuman manis di hati, akan selalu menjadi bayangan yang senantiasa berkecamuk dalam hidupku. Maafkan aku kawan, aku tidak bisa mengukir keharmonisan dalam kota malammu dan malamku, bahkan aku menjadikannya sebagai waktu terjagamu untuk selamanya. Semoga kau nyaman di sisi-Nya. Sebab kota malamku, ku habiskan bersamamu untuk berbuat kebajikan meski hanya sekedar berbagi hasil kepada orang yang lebih membutuhkan dari kita. Terimakasih atas segala tutur katamu dan ilmumu dalam segala hal, kau adalah malaikat malamku yang mengiringi setiap langkahku, dulu, kini dan nanti.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

2 komentar:

  1. Setiap kejadian pasti ada hikmah, sangat menginspirasi. Jangan terburu-buru menilai seseorang dari tampilan luar.
    Semangat trus dalam berkarya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ditunggu masukan, kritik dan Sarannya. Semoga senantiasa istiqomah dalam berkarya. Amin

      Hapus