Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KITA? HAHA, CUMAN CERITA

Oleh : Ilman Mahbubillah

Banyak orang berbicara cinta, tak terkecuali aku pun jua. Mereka mengaharapkan sesuatu yang sederhana (katanya) yaps, sebut saja kebahagiaan. Namun pada praktiknya mematok syarat yang tinggi, Hingga akhirnya cinta menjadi rumit.

Sampai kini pun aku masih saja belum paham, belajar mempelajari satu kata yang bilamana diucapkan dan dibahas dapat menggetarkan seantero jagat raya. Namun bagi pribadi penganut madzhab cinta, cinta itu agung dan mewah, memiliki banyak klasifikasi dan furu'iyyah. Dia kadang berdiri dengan sederhana dan apa adanya, tapi diwaktu lain menjadi pongah dan angkuhnya.

Pasti jika para filosof, ilmuwan, atau ulama membahas perkara ini bisa saja buku dan kitab-kitab yang mereka hasilkan memenuhi lantai bumi hingga ke atap langit. Saking luas dan peliknya pengertian definisi cinta itu sendiri, setiap orang memahami cinta pada level kecerdasan, kedewasaaan, dan perasaannya masing-masing. Bisa jadi ketika kau bertanya pada anak remaja yang sedang puber tentang cinta, mungkin pikiran mereka adalah saya suka, tembak, dan jadian. Beda pada orang yang lebih dewasa, bisa jadi orientasinya pada aktifitas bagaimana menyatukan dua karakter keluarga.

Ah, cinta memang sekampret itu! Istimewa dan tak ada ujungnya. Adapun kita, apakah masih bisa termasuk dalam kategori cinta? Sedang kita adalah sunyi yang saling berdiam diri pada masing-masing kejauhan. Mata saling berharap, dan hati saling merindukan. Bak jarak yang saling mendekat, pada jalan lajur masing-masing kita melangkah dan tangan kita saling mencari bahkan juga tubuh juga saling ingin memiliki.

Nah benar, kita adalah asing yang saling ingin mengenal, mentafakuri langit, alam, dan kehidupan. Lantas, di sebelah mana yakin diletakkan? Apakah harus berserah pada taqdir perjalanan?
Hening itu seketika datang lalu merebut semua melodi dari suaranya, sepi dan diam. Angin berkata dalam hembusannya , dalam desaunya yang menyala-nyala. Kembali, kami dituntut untuk saling paham dengan isyarat bumi bahwasannya cinta adalah sebuah tanda tanya besar, bergejolak bagi siapa saja yang terjangkit olehnya bahkan ia adalah candu bagi jiwa yang hampir padam seperti hamba.

Selepas demikian, malam ini kuhabiskan malam ini dengan segelas ilusi dan menggarap teks tidak jelas ini, kuhidangkan juga pada teman sabda-sabda bumi yang aku dengarkan. Aku tau, kau disebrang sana, sendirian. Maka dari itu mari kita nikmati malam dengan angin yang menyayat menyanyikan melodi kerinduan beserta syair-syair kasmaran. Dinginnya sepi yang menusuk lalu kemudian memberikan kekuatan.
Esok hari tidak ada yang tau, mungkin rindu dan segenap rasa akan saling bertemu. Dalam bayanganku kita bercengkrama walau sekedar bicara basa-basi, kata-kata yang malu untuk diucapkan, dilanjutkan hal yang saling berontak ingin segera muntah dari dada. Haha, esok hari memang tidak ada yang tau puan, juga bisa saja mata kita akan benar-benar berbagi ruang yang sama dan memandang dalam satu pandangan yang sama, hal itu adalah kita.

Aku memandangmu dan engkau memandangku, kata-kata kita sangat sedikit namun mata kita saling menggigit, memerintahkan hati agar tidak salah tafsir untuk kesekian kali lalu kemudian sakit. Akhirnya, hari esok benar-benar tidak ada yang tau, mungkin saja kita duduk bersama dan saling menikmati ironi yang kini terjadi, lalu akhirnya melebur menjadi puisi yang berada dalam serbuk kopi, dan dihidangkan pada manusia yang masih bisa disebut insani.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar