Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KENANGANKU MASIH TERPAKU DI TERMINAL BUNGURASIH


Oleh : Daiyatul Choirot

Sore telah menyapaku, yang pertanda kepulangan ku ke kota kelahiran sudah dekat, aku tak tahu antara menjawab iya atau tidak setiap kali ditanya  kedua orang tuaku “jadi pulang kah besok …???” kalau tidak demi Negara sudah males aku pulang jawabku. Yaudah besok ini kamu harus pulang bagaimanapun itu caranya. Tegas orang tuaku, tidak ada kata lain selain satu kata “inggih”. Ditemani dengan turunnya air yang satu persatu mulai turun dari langit, aku mulai meoptimiskan kaki ini untuk terus berjalan keluar UIN mencari angkot menuju terminal arjosari, mungkin sudah hampir setengah jam aku menunggu si kendaraan berwarna biru itu, dari kejauhan pandanganku aku baru mulai melihat si biru dating, langsung ku sergap masuk ke kendaraan itu, aku berfikir aku akan tiba sekitar seperempat sampai 20 menitan di terminal arjosari, tapi itulah waktu tidak ada yang tahu, aku tiba kurang lebih setengah jam lebih setelah aku naik si biru gegara si biru tidak berani mencari resiko di tengah-tengah keramaian kala itu. Tapi aku selau tuma’ninah dengan keadaanku kala itu yang berfikir pendek kalau tiba di kediaman rumah abis isya’, tapi lagi-lagi itulah keadaan, ditemani rerintikan air tadi aku selalu berucap dalam hati “Ya Allah Allahumma Yassir Walaa Tu’assir Ya Allah” mungkin itu yang selalu aku panjatkan kala itu, tapi sesekali rasa pesimis ku dating gegara aku melihat ke kanan dan kekiri ku, aku berfikir apa mungkin aku tiba di kediaman besok pagi, ah gak mungkin itu terjadi,  jawabku sendiri dalam hati, setiap kali ada si Mercedes datang dari arah pintu utama gerbang dua detik kemudian puluhan orang langsung menyerbu si Mercedes. Jadi apalah dayaku yang masih terbilang masih muda diantara ratusan orang kala itu yang mengantri si Mercedes untuk meminta tenaganya mengantar ke bungurasih. Dan akupun berasa sedang melaksanakan rukun haji yang sa’i kala itu, hingga aku bener-bener frustasi kala itu dan memutuskan untuk duduk sambil berfikir bagaimana cara alternative dan tercepat untuk sampai di Surabaya.

Sampai saat itu aku pun didatangi nenek tua yang membawa barang-barang berat sampai kedua tangan beliau gemeter gara-gara membawa barang tersebut sendirian, sampai nya didepan kami pas,  nenek tersebut pun bertanya dengan suara lirih nya yang terlihat dari matanya yang sayup dan keriput bahwa beliau sangat capek dan dehidrasi, belum pun kita bertanya kepada beliau, beliau sudah memulai dialog kepada kami, “nak bis arah Surabaya yang mana ya” emang mau kemana mbah ?” Tanya kami, aku mau pulang nak, jawabnya dengan nada yang menahan tangisnya. Kami pun semakin penasaran akan nenek tersebut, emang mbah rumahnya mana kok mau pulang, terus kesini nggak ada yang nganterin ta mbah kok sendirian mbah kan sudah sepuh, tanyaku. Aku dari tadi nyari cucuku nak, aku dari Surabaya ke malang diajak sama cucuku tapi aku masih nggak faham kedatanganku ke malang ini mau ngapain, sampai pas kita baru nyampek tadi cucu mbah langsung turun sendiri dan tidak nungguin mbah, dan barang-barang mbah pun ditinggal nak, ceritanya ke kami. Ya allah kenapa kejadian yang ku anggap itu hanyalah kejadian yang kalau di logika hanya ada di ftv kenapa ini harus aku sendiri yang mengalaminya. Sampai ada salah seorang anak UB yang pas mendengar cerita kami dari tadi langsung bergerak hatinya untuk berkontribusi ke kami, dan pergi ke kantin beli roti dan air untuk si mbah tersebut. Dan hatiku berasa nano-nano kala itu. Tak lama setelah ke kantin mbah UB pun dating dari arah selatan, dan lari-lari kecil guna mempercepat langkahnya, lalu dikasihkannya roti dan mineral tersebut kepada mbah nya. “matur sembah nuwun nduk”, ucapnya. Dengan keadaan tangan masih gemetar beliau pun tak sabra langsung membuka botol mineral tersebut dan langsung meminumnya. Tanpa Panjang kali lebar mbah tersebut pun langsung menggelandang tangan teman kami yang satu arah, “nak itu ada bis datang nak, ayo cepet naik, mbah sudah mau pulang, mbah capek bawa ini semua” rengeknya kepada teman kami. Kami pun agak merayu si mbah agar tidak gupoh ketika melihat si Mercedes.” Bentar nggeh mbah, ini posisinya yang mau naik bis banyak mbah, kalo kita lari kesana terus kita kena dempetan orang kan bahaya mbah”. Ucapku. Hingga pada akhirnya kerudung kita yang basah menjadi saksi bisu atas kejadian sore menjelang malam tersebut. Dan tepat adzan maghrib kita naik si Mercedes. Keadaan Mercedes kala itu sangat memprihatinkan, bukan Mercedes saja fikirku, semua bis kala itu memang bermuatan over. Hingga ada salah seorang dari teman kami duduk dibawah sampai di bungurasih gegara tidak ada space kala itu, kejadian tersebut terjadi saat satu hari menjelang pemilu presiden, jadi sudah bisa dibayangkan apa dan bagaimana suasana kala itu. Sesekali ku tanya keadaan sim bah tersebut ke temanku, “mana si mbah, gimana keadaanya?” tapi malah sebaliknya, dia tidak tahu menau keadaan si mbah, padahal tadi beliau naik si Mercedes bareng kami, kenapa si mbah tak liat gak keliatan di bis? Pikirku. Hmm entahlah tidak saatnya berfikir aneh-aneh disaat genting-genting begini pikirku, takutku beliau gak punya uang saat perjalanan sampai rumahnya, hmm lagi-lagi suudzon harus ditanamkan dalam hati kataku dalam diri. Lalu baru ku ingat ternyata aku belum ngabari orang tuaku kalua aku sudah naik si Mercedes dan perjalanan menuju ke bungurasih. Kubuka handphone ku dan kulihat chat yang masuk, ternyata ibuku sudah mendahului bertanya tentang keadaanku saat ini, “gimana da sudah nyampek mana?” tanya nya.  baru naik si Mercedes buk, jawabku. Ya udah nanti jangan lupa ngabari ibuk sampek mana-mana nya. “inggih buk”jawabku pasrah.

Selama hamper kurang lebih 4-5 jam an aku bergantian tempat duduk sama temanku gegara si Mercedes yang over muatan belum lagi ditambah macet yang tak kunjung selesai, aku berusaha memejamkan mata tapi entah mengapa seakan-akan tidak ada lem alteco yang menempel di mata padahal udah berapa kali aku menguap, setibaku di terminal bungurasih jam 23.15 WIB. Firasatku benar berasa rumah-rumah terminal mah kalau gini, apalagi ditambah ke syock an ku menambah ketika aku turun dari Mercedes dan melihat beribu-ribu orang yang mengantri para bis layaknya semut mengantri mengambil makanan, apalah dayaku yang baru datang jam segini dengan keadaan melawan para penumpang lainnya yang berebut bis. Hmm pertanda dah sampai rumah besok pagi. Dengan mengisi kekosonganku di bungurasih aku jalan-jalan sesekali melihat keadaan para pengantri bis yang keadaan badan dan wajahnya sudah terlihat seperti lipatan kertas yang ditumpuk menjadi beberapa lipatan, sampai tak kurasa aku belum makan malam dan aku mengisi kekosongan perutku dengan semangkok mie instan dan the hangat, dan setelah itu seakan-akan jiwa ke mood anku meningkat setelah makan mie instan, aku beranjak ke dekat antrian bis dan kucoba mengantri disitu, tapi apa yang terjadi teman-teman yang melihatku dari kejauhan justru tertawa terbahak-bahak dan teriak kepadakau “woy da sudahlah jangan sok jadi pahlawan disitu, aku yang dari tadi aja udah frustasi apalagi kamu, sudah sini kembali ayo cari tempat tidur,ayo tidur di bungurasih saja”. Iissh apaan sih mereka pikirku, sampai pada akhirnya aku mencapai titik kelelahanku dan aku kembali ke mereka dan tersimpuh di hadapan mereka.

Tapi do’a kita mungkin sudah sampai langit tujuh, teman yang sudah akrab denganku sejak aku MTS hingga saat ini, dia mulai dikhawatirkan keadaannya oleh orang tua nya. “mas kok belum sampai rumah ?” Tanya umik nya. Dengan gercap dia menceritakan keadaan nya dari dia berangkay hingga kala itu, dan Alhamdulillah jawaban yang tak disangka-sangka muncul dari whatsapp umik nya “mas gimana kalau dijemput sekarang mas, umik khawatir” tanpa ada rasa sungkan kepada sang umik nya dia menjawab “inggih mik tak tunggu di bungurasih gerbang belakang”. Padahal pikirku jarak antara Tuban-Surabaya gak deket loo, tapi itulah orang tua. Sampai akhirnya kurang lebih 2 jam aku menunggu kedatangan paman nya yang kata umiknya mau menjemput. “kok cepet pak kurang lebih 2 jam sudah nyampek bungurasih?” tanyaku pada paman temenku “iya dek kan ini malem mana ada kendaraan banyak” . ku masuki mobil tersebut dan kupilih tempat duduk pol belakang, capek pusing lemes itu mungkin yang kurasa kala itu. Sampai aku berasa sudah tidur di kasur rumah dan nonton tv, dan kuceritakan semua keadaanku pada orang tuaku, tapi kenapa aku berasa dibangunin, apa mungkin aku dibangunin ibu ku gegara sudah subuh, tapi aku belum mendengar adzan, “da, ayo turun sudah sampai noh,” teriak temenku. Ya allah ternyata aku masih berada dibawah alam tidak sadarku dan kulihat ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari . ternyata benar firasatku, aku pulang keesokan hari nya.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar