Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KABUT

Oleh : Nur Sholikhah

Bertahun-tahun kabut itu tak pernah benar-benar hilang dari mataku. Malah ia semakin tebal seiring bertambahnya waktu. Banyak orang mulai merasa risih dan tersakiti, sekolah-sekolah sampai diliburkan karena takut akan masalah kesehatan.

Mereka yang terkena dampaknya tidak lagi bisa menikmati setiap oksigen yang dihirup karena telah bercampur dengan zat-zat berbahaya. Nafasnya tak lagi bebas, setiap hari penuh was-was. Jangan-jangan asap itu kian menebal, lalu api akan berkobar. Membakar warna hijau yang dititipkan Tuhan untuk meneduhkan mataku.

Namun, manusia memanglah begitu. Alam menjadi kalah karena hawa nafsu. Sifat serakah kian menjangkiti banyak orang, Tak peduli bahwa dirinya sudah lebih dari berkecukupan. Yang penting senang, dapat uang, tanpa memperhatikan kesimbangan lingkungan.

Maka jangan salahkan aku jika suatu saat aku akan murka. Akan kubalas dendamku pada anak keturunan mereka. Tak kan kubiarkan mereka kenyang, tak kan kubiarkan mereka tenang. Biar aku dikata pemarah, aku tak akan begitu jika aku tetap mereka jaga. Bahkan kan kuberi apa yang kumiliki, kekayaanku, keindahanku jika memang mereka mau peduli dengan kesehatan mataku.

Namun, mereka tak pernah berbuat seperti itu, hanya sedikit manusia yang peduli dan berani berteriak kencang menolak penderitaanku. Tak henti-hentinya mereka mengambil apa yang kumiliki tanpa mempertimbangkan perasaanku. Harta mereka memang bertambah, tapi rasa kepedulian semakin berkurang. Bahkan nyaris lenyap seiring tebalnya asap.

Apa yang bisa kulakukan kini? Kau tahu setiap hari kekuatan dan kesehatanku menurun. Masih adakah segolongan manusia baik yang kan bahu-membahu menghilangkan kabut di mataku yang kian terasa perih? Masih adakah kesempatan untuk membuat orang-orang yang menyulut kabut itu sadar diri? Atau mereka menunggu panggilan Tuhan baru menyesali?
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar