Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

JALAN SETAPAK MENUJU RUMAHMU


            
                 Oleh: Dyah Ayu Fitria

        Jalan itu mengingatkanku akan sebuah surau di depan rumahmu. Bangunan kecil yang masih saja berbahan kayu seperti yang dulu-dulu. Ingatkah kau, pertama kali datang kesana aku paling gemar duduk di tangga-tangga kayu yang suka mengeluarkan suara berderit ketika aku menapakinya. Kau bilang aku perlu mengurangi jatah makanku guraumu, kemudian kau duduk bersila di bawah pohon rindang yang tumbuh di depan surau itu sambil memeluk udara yang berdatangan menyerbumu. Tanah yang kau pijak itu sedikit basah, seperti matamu, barangkali keduanya telah dihujani gerimis kasih sayang yang menyerbu jatuh.
  Setiap maghrib berlalu surau itu tak pernah kesepian. Suara kaki-kaki kecil berlarian, teriakan ibu yang memekikkan telinga, memanggil anak-anak badung yang suka membuat ulah, dan juga merdu ketukan kayu di tanganmu. Kau sangat lihai memukulkannya pada meja kayu lusuh yang berderet di sana. Setiap batangnya jatuh setiap itu pula untaian kalimat-kalimat Al-Quran menghiasi mataku. Seakan surau kecil itu tiba-tiba berubah, menjadi sebuah ruang kecil di taman syurga. Wajahmu tidak lagi lusuh karena termakan panas dan debu, anak-anak itu tumbuh sehat dan rupawan, ibumu tersenyum di depan pintu seakan semua beban di hatinya telah berlalu. 
Jalan itu benar-benar mengingatkanku akan surau di depan rumahmu, yang hanya punya satu padasan kecil untuk berwudhu. Lantai tanahnya becek dan menyebabkan kakiku ingin berulangkali kubasuh. Setiap kita akan sholat ibumu selalu bingung mencarikanku alas sebagai pengganti sajadah, kubilang tak apa tak usah. Tapi ia terus saja masuk ke dalam rumah, mengambilkanku jarik batiknya berwarna coklat dan menggelarnya di lantai kayu. Aku tidak pernah benar-benar jujur padamu, bahwa rokaat demi rokaat itulah yang selalu membuatku tertawan akan rindu. Rindu pada sang pencipta dan segala welas asihnya, rindu pada sujud panjang dengan segala kesyukuran yang kita rapal, rindu pada kepolosan ibumu, dan pada suara paraumu saat membacakan fatihah. Aku selalu mengamininya, sebagaimana aminku agar dapat selalu kuulang rasa teduh yang tersimpan pada sholat itu. 
Tanah ini masih basah, seperti matamu semenjak dulu. Kiri-kanan tak banyak berubah, deretan tanaman khas orang-orang kita masih juga sama. Ada rawa yang lebar di sebelah kiri jalan tempat orang menjadi bekal untuk makan. Aku menyusurinya, mencari muara dari rasa rindu akan surau di depan rumahmu. Di pangkal jalan, aku membisu. Suara ketukan itu memenuhi gendang telingaku, bertabrakan dengan derap kaki anak-anak dan kicau tawanya. Hingar binger semua itu menghilang, mataku gelisah mencari tapi tak menemukan. Di sudut jalan itu, namamu masih terpatri tapis elain itu hanya tinggal ilusi. Surau yang aku rindu itu telah rubuh. 

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar