Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GUS DUR SANG PEJUANG PLURALISME SEJATI

     

Oleh: Muhammad Rian Ferdian

       Sosok yang selalu memandang enteng masalah yang dihadapinya dengan ucapannya yang sangat terkenal “Gitu aja kok repot”. Gus Dus telah mendedikasikan dirinya untuk banyak orang. Beliau seperti sebuah lilin yang menyinari sekitarnya meskipun ia harus rela habis terbakar. Menjadi pembela kaum minoritas, pelindung gerakan pluralisme, penganjur kebabasan berekspresi, istana Presiden di era kepemimpinannya pun menjadi istana rakyat. Sebegitu besar perhatian dan komitmennya pada kepentingan banyak orang, sampai beliau sendiri hampir melupakan kesehatannya sendiri. 
       Sumbangsih terbesar Gus Dur terhadap bangsa adalah perjuangannya yang pantang mundur dalam mengusung pluralisme. Gebrakannya yang terkenal yaitu menjadikan Konghucu agama resmi negara. Gus Dur juga mencabut peraturan pemerintah Nomor 14 tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa dan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Baginya, Keberagaman adalah rahmat yang telah digariskan oleh Alloh. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Karena perbedaan adalah rahmat, Gus dur optimis keberagaman akan membawa kemaslahatan bangsa, bukan memecah bangsa. 
       Perjuangan Gus Dur yang tak mengenal lelah membela hak minoritas menunjukkan kepekaannya terhadap rasa keadilan. Keberpihakannya kepada yang lemah adalah kewajiban moral menegakkan keadilan dalam dunia yang tak adil. Menghargai perbedaan, menolong orang lain, serta berhenti melakukan diskriminasi adalah buah pemikiran Gus Dur yang selalu terkenang hingga saat ini. Baginya, bila seseorang telah berbuat baik, maka lebel suku, ras, dan agama sudah tak penting lagi. 
       Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X mengaku khawatir sepeninggal Gus Dur, pluralisme di Indonesia akan terancam. Apalagi sampai saat ini belum ada satu tokoh pun yang mampu menggantikan posisi Gus Dur. Menurut Sultan, pluralisme terancam apabila pendekatan yang dipilih untuk membangun bangsa ini lebih mengutamakan pendekatan ekonomis ketimbang pendekatan kebudayaan yang berperadaban.
       Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),  (Alm) KH.Hasyim Muzadi juga mengakui, wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi warga NU dan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia kehilangan dua hal besar dan mahal dengan kepergian Gus Dur, yaitu demokrasi dan humanisme. Humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai Islam yang paling dalam. “Perjuangan Gus Dur itu akan dilanjutkan PBNU dengan gerakan Islam rahmatan lil ‘alamin” tuturnya.
       Visi dan misi hidup Gus Dur yang selalu mengedapankan perdamaian dan anti kekerasan harus menjadi insprasi untuk kita rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbuat baiklah tanpa memandang perbedaan suku, ras dan agama. Indonesia kini butuh orang-orang yang mampu bertindak nyata bukan hanya bicara. 

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar