Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DAPET UNTUNG DARI DOMPET

Oleh: Hilmi Gholi Hibatulloh
     
Cahaya matahari menyeruak melalui celah-celah jendela rumah dan membuatku terbangun dari mimpi-mimpi indah yang menyertaiku tidur, kokokan ayam dan kicauan-kicauan burung sayup-sayup terdengar yang menandakan pagi telah tiba, aku mulai bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan sempoyongan di karenakan rasa kantuk yang masih sangat kuat. Aku basuh wajahku dengan air dingin dan menggosok gigiku lalu aku keluar dan segera mengganti pakaianku, karena hari ini aku harus pergi ke kota untuk melanjutkan studiku.

Kulihat jam menunjukan pukul 06:40 pagi, sontak aku kaget dan dengan tergesa-gesa aku meninggalkan rumahku menuju stasiun agar tidak tertinggal kereta yang akan mengantarkanku, tujuanku pergi ke kota tersebut untuk melanjutkan studiku setelah lulus dari SMA.

Sesampai di stasiun aku langsung mencari kereta yang akan membawaku ke kota tujuanku, aku mencari-cari dan ketika aku melihatnya, kereta tersebut sudah bersiap-siap untuk berangkat, aku sontak berlari menuju gerbong tempat duduku berada. Untung saja aku sempat untuk menaiki kereta ini jika sampai tidak aku pasti akan mendapat masalah.

Di dalam kereta suasananya cukup ramai sehingga membuatku sedikit kesusahan untuk mencari tempat duduku. Kutemukan tempat duduku masih kosong dan hanya ada satu orang di depan tempat duduku, seorang kakek-kakek yang terlihat berumur sekitar 60-an, langsung saja aku menyapanya. “Permisi kek, apakah kakek sendirian saja?” tanyaku kepada kakek tersebut, “iya nak saya sendirian saja, memangnya kenapa?”jawab kakek tersebut, “ya nggak papa kek, aneh saja masak tidak ada yang menemani memangnya anak-anaknya kemana kek kok sampai nggak ada yang nemanin?  “anak-anak saya pada sibuk sama pekerjaanya, kasihan saja kalo manggil mereka nanti malah mengganggu pekerjaanya toh saya masih bisa pergi sendiri” jawab kakek tersebut. Aku mengobrol dengan kakek tersebut sangat lama, sampai tak terasa aku hampir sampai di kota tujuanku.

Ketika sudah sampai kakek tadi langsung mengucapkan selamat tinggal padaku dan tergesa-gesa pergi, tanpa sadar ia menjatuhkan dompetnya di lantai, aku menunduk untuk mengambil dompet tersebut dan berniat untuk mengembalikanya, akan tetapi ketika aku bangkit kembali kakek tadi sudah tidak terlihat dalam pandanganku.

Aku buka dompet kakek-kakek tadi berusaha untuk mencari alamat rumahnya. Dan Alhamdulillah ada KTP kakek tadi. Tertera alamat kakek tadi dan kebetulan sekali  tempat tinggalnya tak jauh dari kontrakan temanku. “sekalian aja mampir kerumahnya buat balikin dompet, toh gak jauh-jauh amat dari kontakan temenku” pikirku dalam hati.

Aku melangkah keluar dari stasiun dan mencari-cari temanku yang katanya mau menjemputku jika sudah sampai. Aku menoleh tengok kanan-kiri berusaha mencari temanku, tapi setelah beberapa menit aku cari tidak kutemukan batang hidung anak itu. “sial, pasti tidur tuh anak”. Langsung ku buka hp dan menelponya. Setelah Hp ku bordering agak lama barulah terdengar suara orang menguap dari  handphone ku. “beh lu dimana” kataku. “gua dikamar emang ngapain? Jam segini ganggu orang tidur aja” jawabnya terdengar agak emosi. “yah lu katanya mau njemput gua, gimana sih lu”. Kataku sedikit emosi, karena dia sudah janji buat jemput. Sedikit lama tak ada jawaban dari temanku. “oh iya….. sorry gua lupa” jawabnya sambil tertawa seenaknya. “yaudah cepetan sini beh” kataku. “okok.. gua otw tunggu bentar” jawabnya.

Setelah sekitar 20 menit aku menunggu baru nongol tuh anak. “lama amat beh” tanyaku. “yah tadi kena macet dikit santai napa….” Katanya sambil tertawa. “yah lu santai gua capek nunggunya” jawabku. “iya, iya santai ayo buruan kalo gitu” katanya. Aku langsung naik ke motornya. “ayo jalan” kataku. Temanku langsung menancap gas keluar dari tempat parkir stasiun yang sudah mulai sepi dari orang-orang.

“Beh tadi gua pas di kereta ngobrol sama kakek-kakek lama banget, terus pas turun kereta dompetnya jatuh. Pas mau gua balikin kakek-kakek tu dah ngilang” kataku memulai percakapan. “lah terus giaman? Banyak gak duitnya?”Tanya temanku. “emang kenapa kalo banyak duitnya? Mau lu ambil” jawabku. “iyalah lumayan buat makan-makan” jawabnya sambil tertawa. “ngawur aja lu, duitnya orang ini, kakek-kakek lagi”kataku. “yaudah balikin kalo emang gak mau” katanya. “yah masalahnya ini dah malem, mau gua balikin besok” jawabku. “yaudah besok kalo gitu”. Katanya dengan santai. “lu mau anterin gua kagak besok” tanyaku. “okok… bisa besok gua, eh tapi lu tau alamtnya gak” tanyanya. “ini ada KTP nya, kalo gak salah nih deket daerah lu kan” kataku, lalu menunjukan KTP tersebut. “yah gak jauh-jauh amat sih, tapi lumyan” jawabnya sambil melihat KTP yang ku tunjukan padanya. “gimana nih lu mau gak nganterin gua?” tanyaku. “iya dah gampang, jawabnya.

Keesokan harinya aku bangun jam 04:00 pagi. Aku bangkit dari kasur hendak mengambil air wudhu untuk siap-siap shalat shubuh di masjid dekat kontrakan temenku. Aku memalingkan wajahku dan kulihat si babeh masih tidur dengan pulasnya. Kugoyang-goyangkan badanya berusaha untuk membangunkanya. Tapi dia tak bergeming sedikitpun dan masih tidur dengan nyenyak. “beh bangun beh… udah pagi….!”. ujarku sambil terus beusaha membangunkanya. Tetap saja setelah beberapa saat masih saja tidak bangun. “Kalo gini aku siram aja nih anak, tidur kayak kebo susah amat di bangunin” pikirku. Aku langsung pergi ke kamar mandi dan mengambil segayung air. Aku percikan air ke mukanya sedikit-sedikit. Dia malah menutupi mukanya dengan selimut sambil mengeluh padaku. “ganggu orang tidur aja” katanya sambil menggerutu dan melanjutkan tidurnya. Aku jadi geram sama nih anak susah amat di bangunin. Kusiram aja langsung segayung “ beh bangun lu dah mau iqomah tuh masjid” aku berteriak padanya sambil menyiramkan air di gayung yang ku pegang. Dia langsung gelagapan karena tersiram air segayung tadi. “meng lu ngapain sih siram-siram air ke gua udah tau orang lagi enak-enak tidur” katanya sambil bangun dari kasur. “udah subuh ini lu mau sampe kapan tidur” kataku. “iya iya tau gua” katanya sambil melangkah ke kamar mandi.

Sehabis shalat aku dan memeng mengikuti pengajian yang ada di masjid tersebut sampai jam 06:30. Aku langsung bersiap-siap menuju ke rumah kakek-kakek yang aku temukan dompetnya kemarin, tentunya dengan si babeh. “beh babeh….!” Teriaku memanggil tuh anak sambil memakai sepatu di teras rumahnya. “iya iya bentar santai napa” jawabnya sambil mengigit roti yang aku panggang untuk sarapan. “santai ya santai tapi jangan buang-buang waktu” kataku.

Setengah jam kemudian aku dan si babeh sampai di daerah yang tertera di KTP si kakek yang kemarin aku temui di kerteta. Alamat dari KTP si kakek ternyata ada di perumahan elit yang ada di daerah tersebut. Aku mulai mencari satu-persatu rumah dan setelah 20 menit mencari akhirnya kutemukan rumah yang tertera pada alamat KTP si kakek.

“Eh bener gak tuh alamatnya, gede amat nih rumah” kata si babeh sambil menatap rumah yang ada didepan kami berdua, terlihat dari raut wajahnya yang terkagum-kagumdan tak percaya. “yah tu di alamatnnya di sini, masak salah coba aja dulu” kataku. Aku nuga heran nih rumah dah kayak istana aja gede amat. “iya dah coba dulu” jawab si babeh. Aku melangkah kedepan gerbang rumah dan memncet bel yang ada di sisi kanan pagar. Seelang bebrapa saat datang pembantu rumah tersebut. “ada apa mas?” tanyanya padaku. “eh ini bener gak rumahnya pak jaya” kataku. “iya bener ada keperluan apa ya mas” kata pembantu tersebut. “begini, kemaren saya ketemu sama pak jaya pas di kereta terus saya ngobrol lama, pas pak jaya turun gak sengaja jatuhin dompetnya” jawabku. “ada apa mang” terdengar triakan orang dari belakang si pembantu. “ini pak ada anak katanya nemuin dompet bapak” jawabnya. “oh suruh masuk aja mang anaknya”. Kemudian aku dan si babeh disuruh masuk ke rumah besar tersebut.

Aku masuk ke ruang tamu rumah tersebut dengan si babeh dan kulihat seorang kakek yang sedang duduk menunggu kami. “eh kek” kataku sambil menyalami kakek jaya yang aku temui di kereta kemarin. “silahkan duduk mas” kata kakek jaya padaku dan si babeh. “ada apa mas? Kok nyari saya” kata kakek jaya. “Begini kek kemarin pas di kereta saya nemuin dompet kakek yang jatuh pas kakek lagi turun” jawabku sambil menunjukan dompet pada kakek jaya. “ini bener dompet kakek kan?” tanyaku pada kakek jaya. “coba saya lihat dulu soalnya dompet saya memang hilang kemarin sampai buat pusing saya, soalnya di dalemnya ada nota yang sangat penting, saya baru sadar kalau kehilangan dompet pas sudah smapai rumah” katanya sambil melihat isi dompet yang kuberikan. “Benar ini dompet saya, makasih loh mas” kata kakek jaya. “iya sama-sama kek, emang harusnya begini kan. dompetnya juga punya kakek” jawabku sambil tersenyum.

Kami mengobrol panjang lebar dan aku baru tahu ternyata kakek jaya adalah pengusaha yang memiliki bisnis di mana-mana di seluruh negri, aku dan si babeh belajar banyak dari percakapan dengan kakek jaya. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 11:00 siang. “permisi kek saya sama temensaya mau izin pulang soalnya udah siang, mau ngurusin berkas-berkas buat validasi kuliah besok” kataku pada kakek jaya. “Oh iya silahkan mas hati-hati di jalan ya” kata kakek jaya sambil menyalamiku dan babeh.

Selang beberapa bulan masa-masa kuliah. Setelah ujian akhir semester, liburan pun datang. Liburan semester ini aku buat kerja nyari uang sama si babeh agar dapat membayar UKT semester ini, karena kami berdua memang bukan dari keluarga yang mampu. Liburan terasa cepat dan waktu untuk membayar UKT pun datang. “Gimana nih beh, gak cukup uangnya buat bayar UKT” kataku pada si babeh sambil berjalan mondar-mandir di kamar temenku satu ini. “yah mau gimana lagi, kita libur semester ini” jawabnya dengan santai seperti tdak ada beban. Aku berpikir sesaat dan menyerah, “Yaudahlah….” Jawabku sambil termenung. “kalo gitu ayo ke kampus dulu minta izin cuti” kata si babeh.

Aku berangkat ke kampus berdua dengan si babeh dan menuju bagian administrasi kampus. Aku mengajukan surat izin untuk cuti kepada staff tersebut. “Kenapa mas mengajukan izin cuti” tannya staff tersebut. “gini mas kami berdua gak bisa bayar UKT buat semester ini” jawabku. “loh disini tertera sudah terbayar mas” kata staff tersebut. “lah siapa yang bayar mas”  aku berkata dengan heran sekaligus bahagia endengar kata-kata staff tersebut. “ini loh mas suratnya, disini tertulis beasiswa full sampai lulus untuk mas berdua” kata staff tersebut padaku sambil menunjukan surat tersebeut padaku. Aku lihat surat tersebut dan tertera nama perusahaan yang memberiku dan si babeh beasiswa. “bukanya ini perusahaanya pak jaya” pikirku, lalu kutunjukan surat tersebut pada si babeh. “liat nih beh” kataku sambil menunjukan surat tersebut ke babeh. “iya bener ini perusahaanya pak jaya” katanya. Lalu aku kembalikan surat tersebut kepada staff yang memberikan surat tersebut kepadaku dan izin untuk pegi. “memang gak sia-sia berbuat baik pada orang” kataku pada babeh sambil melangkah keluar dari gedung admisnistrasi. “Bener meng untung aja gak jadi gua buat makan-makan, coba gua pakek tuh uang di dompet  sekarang gak kuliah kita” katanya sambil tersenyum, raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Kami berdua pun kembali ke kontrakan dengan hati yang berbunga-bunga senang bukan main.

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar