Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CERAMAH ALAM SEMESTA 2

 
                  Oleh: Inayatul Maghfiroh

     Bertandangnya mentari menjadi simbol bahwa pagi telah hadir kembali, nyaringnya bunyi gerobak adalah pertanda bahwa,  sebut saja bapak Salim sedang bekerja memunguti sampah disetiap sudut rumah-rumah. Sesembari duduk dikursi depan dan menyelonjorkan kaki, aku menelaah kembali hasil mengaji pagi itu . Beberapa menit kemudian, bunyi gerobak itu nyaring menggelitik telinga, agar siapapun mendengarkannya secara seksama. Semakin lama semakin mendekat, aku segera membangkitkan diri dan menengok pak Salim yang sedang bekerja, monggo mbak, sapa pak Salim. Eng..geh monggo pak, jawabku tergagap-gagap. Setelah kejadian itu, fikiran menjadi sering terusik, mengapa harus ada pemungut sampah? Kenapa sampah harus dipungut?, mungkin pertanyaan ini terkesan sangat bodoh. Ah memang aku masih bodoh. Setiap mengaji kenapa menjadi ingat pak salim? Setiap hendak keluar kenapa mendadak ingat pak salim? Rupanya pak salim benar-benar telah menyihirku dengan segala langkah lakunya. Hm pak salim.. aku harus bagaimana?. Berfikirlah dan renungkanlah.. seseorang berbisik dan aku tak tau itu siapa. 
     Ketika kaki memaksakan diri untuk pergi ke masjid kertas kecil mungil melayang dan jatuh tepat didepanku, ku ambil dan kubuka pastinya tanpa ingat siapa pemiliknya dan bagaiamana resikonya, ya memang hatiku tertarik untuk membukanya , lalu buru buru aku melipatnya dan semakin tidak tahu akan apa yang terjadi. Dalam kertas itu terdapat tulisan “ robbana ma kholaqta hadza bathila” .  kesesok harinya perasaanku semakin tak biasa, semacam gelisah karena tak tau arah , semacam memaksaku berfikir akan sesuatu pula, dan kuputuskan duduk sejenak merenungi kembali setiap apa apa yng terjadi belakangan ini .  bermula pada pertanyaanku sendiri, mengapa harus ada pemungut sampah? Dan kenapa sampah harus dipungut ? ketika sampah sampah dibiarkan tanpa dipungut oleh pemungut sampah, maka ia akan semakin menumpuk dan menumpuk lalu menimbulkan pencemaran.  Siapa yang suka pencemaran? Suatu hal yang sedikit banyak merugikan ? Lalu kenapa ada bisikan itu dan kertas yang melayang, juga melayangkan khayalan itu? Sesembari menggigit jari, berjalan dari kanan kekiri, kegelisahan berhasil membuat kepekaan batin timbul secara sirri, benar sembunyi-sembunyi dan mulai menampakkan diri. Dalam setiap peristiwa yang terjadi didunia ini merupakan sumber kekuatan apabila kita mampu memetik suatu pelajaran didalamnya. 


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar