Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CANDU JARAK MALANG-YOGYAKARTA

Siti Fathimatuz Zahro’

Kala itu jarum pendek berada diangka 8. Sebuah bilangan yang juga menjadi simbol favorit ku. Setiap kali ditanya bilangan idaman aku selalu menuliskan angka 8. Entah apa filosofisnya. Sering juga aku berpikir, apa yang menjadikan ku menuliskan bilangan itu. Coba ya, aku deskripsikan sepenggal-sepenggal. Ini menurut ku. Kamu boleh beda.

Jika aku yang menulis, dia akan berangkat ke garis bawah. Sisi kiri pojok bawah. Disitulah awal manusia menuju sebuah puncak. Tidak ada cerita orang mendaki tiba-tiba ada diatas menggenggam bendera merah lantas mengibarkannya. Titik terendah yang akan tumpuan seseorang untuk mendongkrak kemampuannya.

Jarum panjang menunjuk pada bilangan 2. Silahkan menerka sekiranya pukul berapa itu. Pendar cahaya lampu jalanan membantu ku mengingat potongan kejadian sekian bulan lalu. Detik-detik tergesa untuk berjumpa rindu. Mengejar sarana perantara yang memisahkan kota ku dengan tempat mu berpijak. Kota yang kukira hanya akan menjadi bualan untuk dapat berjumpa. Menikmati setiap teriknya, menyaksikan lalu lalang wanita berkebaya kuno, dan alunan gamelan dipusat kota.

Aah... Aku rancu. Apa yang akan aku tuliskan. Jarum menunjuk bilangan? Atau Filosofi angka 8 menurut ku? Atau bahkan kota singgah mu?

Sepenggal cerita yang tiba-tiba berhaluan ke cerita yang lain. Begitu sulit mendeskripsikan kisah yang aku sendiri sangat menikmati masa-masanya hingga saat ini.
Stasiun Malang... Waktu keberangkatan kereta yang sangat mepet dengan waktu ku tiba disana. Ketergesaan pagi itu membuat ku mengingat setiap inch ketidaksabaran ku berjumpa dengan mu. Melodi stasiun yang sudah sangat familiar memanggil dari dalam. Aku bahkan tak sempat duduk di kursi tunggu hanya untuk sekedar mengatur napas. Aku tidak ingin kau tau, jika aku memburu perjumpaan itu. Dinginnya Malang tidak mampu menguasai tubuh ini. Kipasan kerudung ku mencoba menyurutkan suhu adrenalin ketergesaan pagi itu.

Stasiun Lempuyangan Yogyakarta...
Bagaimana rindu? Sudah surut atau semakin pasang? Jika aku boleh berkata, aku menyesal menemui mu. Aku datang dengan segala harapan agar rindu mampu terbayarkan. Menikmati aroma mu adalah hal yang sangat aku nanti. Melebur dengan angin syahdu dan teriknya matahari. Namun apa? Kini aroma itu berubah menjadi candu mematikan untuk ku. Berupaya memadamkan jarak dan meyakinkan diri jika suatu saat aku akan menemui mu lagi. Entah kapan.

Malang-Yogyakarta...
Ku kira aku terlambat...
Ambang waktu telah berlalu
Apa daya rindu ku pekat
Perlahan menjadi candu

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar