Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AYAHKU BUMI, IBUKU MATAHARI


                     Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

       Di pelataran depan balai swalayan itu, terlihat sosok anak kecil berdiri mematung seraya memandang ke angkasa sesekali berteriak
       “Ibu. . .nilai Tematikku mendapat bintang lima dari ibu guru.” Serunya sembari mengangkat selembar kertas seakan ada seseorang yang menanggapi perkataannya, namun nihil, hanya deburan debu menggeliat tersapu lalu lalang kendaraan yang melintasi jalan balai itu, gersang.
       Tak lama usai berkoar  ke angkasa, kini ia duduk bersimpu di tanah lantas mengelus-elusnya sambil bergumam
       “Ayah. . . kau bangga dengan ku kan ??” Entahlah, semua teramat absurd difahami, apa sebenarnya yang sedang ia lakukan itu ?, beberapa minggu lalu, Somad, putra mendiang Wak Zaitun pun bertingkah demikian, tak jelas maksud dan tujuannya, apa ini karena aku yang baru beberapa bulan pindah kesini ?. Sudahlah, mungkin nanti aku bisa menanyakan hal ini pada Guru Imam untuk menguak rasa penasaranku.
       “Guru akan tiba, segera baca do’a !!.” pinta Zainal selaku ketua kelas kami mebuyarkan lamunanku.
       Saat ujung do’a hampir habis terbaca, Guru Imam datang dengan kepala yang terbungkus surban hijau kegemarannya. Biasanya, usai beliau melontarkan salam sebagai tanda dimulainya pembelajaran, beliau akan menanyai ihwal materi lalu kami. Itulah yang kemudian membuat suasana hening seketika. Gugup, cemas dan takut akan pertanyaan guru berbaur memenuhi hati, sebab jika kami tak dapat memberi jawaban yang sesuai, maka dengan pasrahnya batang rotan kering mendarat ke betis kami. Pernah, Karem tatkala Guru Imam memerintahnya untuk mempraktikan sholat subuh, sampai pembacaan do’a qunut tiba, berulang kali pukulan rotan menghujam betisnya, itu karena ia membolak balik urutannya. Begitupun denganku, aku juga pernah dihukumnya mengisi dua bak tempat air wudlu surau ini. Sialnya, aku tak boleh mengisinya dengan air kran, namun harus mengambil air dari sungai yang jaraknya lumayan jauh dari surau. Alamakk.
       “Hari ini saya tidak akan mereview materi lalu, namun saya akan memberi kesempatan kepada kalian semua untuk bertanya tentang materi yang belum difahami sebelum ujian caturwulan datang. Silahkan. !!” mendengar ujaran Guru sejurus kemudian senyum perlahan mengembang di wajah kami, bak pipit yang bebas dari sangkarnya. Lega. Tapi hal itu tak berlangsung lama, suasana kembali lengang untuk kedua kalinya. Sejauh ini belum ada yang ingin bertanya diantara kami, takutnya guru akan menanyai balik.
       “Dalam ilmu nahwu mengapa lafadz Syamsun dihukumi Muannats atau perempuan Guru ?” suara Aris memecah keheningan. Syukurlah, akhirnya raut lega terpancar kembali di wajah kami.
       “Pertanyaan yang bagus, lafadz Syamsun yang bermakna matahari, Ardlun bulan dan Sama’un langit adalah lafadz-lafadz yang telah dinash dalam Al-qur’an. Jadi kita tidak bisa menentangnya.” Jelas guru memaparkan jawaban dengan tulus dan sabar.
       “Perlu juga kalian ketahui, bahwasanya di dusun ini masih banyak dari masyarakat mempercayai keyakinan leluhur bahwa matahari adalah perwujudan dari seorang ibu dan bumi adalah ayahnya yang telah meninggal”
       “Maksudnya guru ??” pertanyaan reflek terlontar dari mulutku, sontak semua menatap ke arahku. Aku tertunduk bisu, Guru membalasnya dengan senyuman lantas kembali melanjutkan penjelasannya.
       “Jadi seperti ini, matahari dianggap sebagai ibu itu berangkat dari ilmu nahwu tentang lafadz Syamsun yang dihukumi muannats atau perempuan sama seperti ibu, selain itu matahari amatlah berperan penting dalam kehidupan manusia dengan sinarnya, sehingga mempermudah urusan manusia, begitupun dengan sosok ibu yang senantiasa membantu keluarganya dalam segala hal. Dalam lagu anak-anak yang berjudul kasih ibu, di lagu tersebut sosok ibu diibaratkan seperti sang surya yang menyinari dunia.” Begitu dalam guru memaparkan penjelasan ini, seakan semua termantra olehnya. Memang, guru adalah salah seorang yang sangat peduli terhadap nasib anak-anak dusun ini terlebih lagi tentang keagamaan. Masyarakat sini awam, kebanyakan dari mereka masih mempercayai mitos-mitos lama yang tiada masuk akal.
       “Guru, lantas kenapa bumi dianggap sebagai perwujudan ayah, sedang dalam ilmu nahwu pun dihukumi muannats pula ?” tukas Zainal yang sejak tadi tak henti-hentinya menatap guru saat menjelaskan.
       “Menurut kabar yang guru dapat dari ayah guru pasal itu, bahwa hal ini berbeda dengan perwujudan ibu dari matahari tadi. Maksudnya, tak ada kaitannya dengan ilmu nahwu, mereka beranggapan bahwa kehidupan ini bergantung dari bumi yang mengeluarkan segala kebutuhan manusia. Seperti air, air amatlah penting dalam hidup ini. Tanpa air kehidupan ini tak akan ada, semua berawal dari air begitu pendapat Thales seorang ahli filusuf. Tak jauh dari sosok ayah yang sangat penting bahkan lebih penting dari ibu. Mengapa demikian ??, karena antara matahari dan air yang bersumber dari bumi, itu jauh lebih penting adanya air. Hal ini dibuktikan di planet lain tidak dapat dihuni salah satu penyebabnya karena tiadanya air meski mendapat sinar matahari sekalipun. Adapun dengan sosok ayah yang senantiasa mencari nafkah demi kemaslahatan dan kesejateraan keluarganya”. Mendengar penuturan guru, air mataku berlinang tanpa ku pinta. Aku sangat menyesal selama ini telah berbuat buruk kepada ayah, aku menolak berbicara saat mendapat telepon darinya yang sedang mengadu nasib di negeri orang, aku berpikiran bahwa ayah telah mempunyai istri dan anak baru disana, padahal ayahlah yang menjadi pondasi kehidupanku. Aku bisa belajar karenanya, makan karenanya, mengaji karenanya dari tiap tetes peluhnya yang terkandung mimpi besar atas kebahagiaan keluarganya.
       Kini rasa penasaran yang menderaku telah terungkit sudah, tingkah bocah di depan balai swalayan tadi dan Somad putra mendiang Wak Zaitun adalah sebagai bentuk rasa rindu terhadap ayah dan ibunya  yang telah tiada. Tak ada yang salah di dusun ini, semua boleh meyakini ajaran leluhurnya meski diluar nalar kemanusiaan, asal tidak menyalahi ajaran agama.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

2 komentar: