Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AKU TETAP KAYA

Oleh: Siti Fathimatuz Zahro
Seusai ta’lim pagi aku kembali dengan tergesa. Jam kuliah ku padat sekali hari ini. Pukul 6.30 sudah harus duduk di kelas bukan baru saja memesan grab online. Drama kolosal pagi dimulai dari panjangnya antrian kamar mandi disusul dengan kerudung-kerudung yang belum disetrika. Cuitan pedagang sayur keliling sebagai alarm waktu sarapan pagi tiba. Penyeedia bahan dasar sebagai program keterampilan tangan wanita bagai amunisi menjalankan rutinitas kegiatan sehari-hari.

Aku mukim disalah satu pondok pesantren mahasiswa yang tidak jauh dari kampus ku. Jarak tempuh dengan jalan kaki kurang lebih 45 menit. Sudah bisa dipastikan bagaimana sibuknya pagi hari ku.

Aku bukan orang Jawa. Kota ku beberapa waktu lalu diluluhlantakkan oleh gempa bumi. Tak ada yang tersisa. Jaringan komunikasi ku terputus. Hanya doa ku dengan sinyal penuh yang selalu ku hubungkan setiap waktunya. Mengharapkan sehatnya jiwa baba, mamak, dan Jatiswara. Gempa yang datang dalam waktu yang beruntun bagai amunisi senapan di medan perang. Tidur dalam temaram lampu minyak dan buang air di hutan-hutan terdekat adalah solusi darurat sebelum Tim SAR membuatkan jamban darurat. Ketersediaan air bersih bagai menunggu hujan dikala kemarau. Sedangkan aku disini, Alhamdulillah jauh dari kata kekurangan.

Gempa nun jauh disana berimbas pada ku di kota dingin, Malang. Baba kehilangan pekerjaan, warung kelontong mamak roboh, Jatiswara yang tidak bisa berangkat sekolah, dan aku yang tidak mendapat kiriman orang tua.
Apa kabar uang ku? Alhamdulillah cukup. Kebutuhan ku terpenuhi sesuai kewajarannya. Tahu bakso setiap pagi ku ambil dari Pak Ahmad sebagai pemilik usaha. Mahasiswa lebih sering tidak sarapan. Apalagi anak kos yang menganggap masak adalah hal yang tidak praktis. Disitulah aku mengambil celah dengan menyediakan kebutuhan pengganjal perut mereka namun urusan perut ku sendiri ku tunda hingga kembali ke pondok. Alhamdulillah sekali, pondok ku menyediakan jatah makan untuk para santrinya. Tidak tanggung-tanggung sehari jatah 2X makan dengan pembayaran uang bulanan pondok yang sangat standar bahkan tergolong murah dibandingkan pondok mahasiswa lainnya. Keuntungan dari jualan tahu bakso seperti potongan plester luka jika sudah tidak lengket akan menganga kembali. Tapi setidaknya luka itu sudah sembuh dan akan ku hati-hati agar tidak terluka kembali.

Bayangan makan siang pengganti sarapan tergambar jelas dibayang ku. Sepiring nasi hangat dengan sayur beserta lauknya sungguh nikmat dikala lapar melanda. Segelas air putih kiriman dari akang pondok sebelah akan melegakan dahaga disaat panasnya Kota Malang saat ini.
Aku berjalan menyusuri koridor kelas perkuliahan untuk melihat tahu bakso ku. Alhamdulillah hanya tersisa 4 biji. Akan ku bawa kembali ke pondok barangkali teman-teman disana ingin camilan. Sekarang pukul 13.27. Ku hitung sekiranya pukul 14.15 an aku akan tiba di pondok. Mungkin banyak yang bertanya, mengapa aku tidak memesan ojek online saja. Sekiranya aku mampu menghemat uang ku dengan sedikit saja berkorban, maka akan ku lakukan. Toh juga tidak setiap hari aku berjalan. Sering juga aku mendapat tumpangan dari teman-teman yang kebetulan juga akan kembali ke pondok begitu pun berangkatnya. Sebisa mungkin aku membahagiakan hati ku dengan rasa berkecukupan. Mengapa? Karena aku tidak ingin rasa sendu ku tersambung kepada mamak ku di rumah.

Aku hanya ingin menyampaikan, jika disini aku masih dapat berjalan. Menyambut sinar mentari dan menikmati senja dengan tatapan syukur. Apa yang terjadi tidak boleh membuat aku ‘miskin’. Semua harus seperti biasanya. Aku dengan perjuangan ku dan baba dengan perjuangannya. Aku dengan kecukupan ku dan mamak dengan kekuatan senyumnya. Begitu pun aku dengan Jatiswara yang memiliki mimpi baba dan mamak.

Salam dari ku Ba... Mak... Swara...
Aku masih memiliki kekayaan rasa tanpa berkurang sedikit pun.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar