Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AKU MENULIS HINGGA TERLELAP

Oleh : Siti Fathimatuz Zahro'

Semalam rasanya lelah sekali. Pundak ku serasa membawa beban berat. Urusan kuliah? Sepertinya tidak. Hari itu hanya ada 2 mata kuliah dan hanya satu yang melaksanakan ujian tengah semester. Yang satu hanya perkuliahan seperti biasa dan diampu oleh dosen muda yang juga seorang santri di salah satu pondok pesantren yang tidak jauh dari pondok pesantren ku. Sempat juga semangat kuliah ku termotivasi dengan kehadiran beliau. Hanya sebatas itu saja.  Sepulang kuliah pun tak ada kegiatan berarti juga. Hanya menengok sekejap tugas-tugas mata kuliah dan sedikit mengulang Kalam-Nya. Sore hari pun ku habiskan dengan menuai mimpi menebus tidur siang yang tertunda. Setelah maghrib hingga isya pun kegiatan ta'lim seperti biasanya. Kegiatan ta'lim malam itu berbeda dengan sebelumnya. Pesantren ku kedatangan tamu asing. Seorang dosen bahasa inggris di UIN Malang yang berasal dari Amerika. Beliau melatih kecakapan berbahasa inggris kami yang pada era modern ini bahasa tersebut merupakan titik persaingan yang ketat dalam hal pembelajaran atau dunia pekerjaan. Tuntutan hasil TOEFL yang sempurna merupakan salah satu jaminan diterimanya seseorang dalam melamar suatu pekerjaan dan tentunya juga didukung dengan persyaratan-persyaratan lainnya. Dalam instruksinya kami diharuskan berpasangan untuk praktik berbahasa dan pada sesi selanjutnya, beliau memberi instruksi untuk tampil kedepan teman-teman lainnya untuk berbicara bahasa inggris. Cakap sekali rasanya mendengar beliau berbicara seolah tanpa jeda. Selayaknya beliau yang melihat kami cakap berbahasa Indonesia jika dibandingkan orang-orang dari negaranya. Selama 2 jam kami belajar bersama beliau dan diakhiri dengan sesi foto bersama. 

Seusai ta'lim aku tidak segera kembali ke pondok. Ku ambil bangku kecil yang biasanya digunakan anak TPQ untuk mengaji. Ku tarik tas ransel ku dan ku ambil binder dari dalam. Ku buka lembar-lembar demi lembar. Ingin ku menulis tapi apa yang ingin ku tulis? Ingin mengambil Al-Qur'an namun mata ini rasanya ingin terlelap. Ku gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Gemeretak bunyi tulang leher seolah mengupas lelah yang dirasa. Kusandarkan punggung dan menatap kosong. Memutar kembali waktu yang telah dilewati. Menalar kembali apa saja yang telah ku lakukan. Mengupas satu persatu kejadian-kejadian yang terencana atau pun tiba-tiba terjadi. Mengambil setiap makna dan pelajaran tersirat. Seolah mengingatkan aku untuk selalu bersyukur masih diberi waktu dan kesempatan untuk berpikir mengapa setiap kejadian-kejadian itu terjadi. Yang seringnya aku mengeluh tentang rencana dadakan-Nya yang terkadang membuat aku bergumam "mengapa ini harus aku yang menerima? tidakkah bisa hal-hal ringan saja yang ditimpakan kepada ku? yang sekiranya tidak harus membuat aku berpikir dengan keras". Sisi hati ku yang lain menjawab "Inilah bagian dari proses". 

Salah satu mas-mas takmir masjid kaget melihat ku masih disana. Semua lampu bagian depan telah padam. "Biar mas. Bagian sini biar aku yang matikan". Aku masih ingin sekejap disini. Mendengar gumaman rasa ku akan lelah yang di pundak. Diam tanpa kelakuan. Sendiri mengundang sendu. Aku tersentak sadar. Jiwa sadar ku berkata "Berdirilah. Ambil langkah segera. Kembalilah ke pondok. Ganti baju tidur mu. Rebahkan punggung mu. Tarik selimut lalu pejamkan mata. Yang kau butuhkan adalah tidur. Bukan duduk diam termenung tanpa kelakuan yang belum tentu membuat mu sadar dan mengambil hikmah atas setiap potongan kejadian yang terjadi. Tidur yang enak. Esok masih ada hari yang perlu kau lalui dengan semangat baru dan pikiran sadar mengapa kau perlu melalui hari-hari itu". Aku menurut. Kulakukan semua perintah dari jiwa sadar ku. Kulihat jam tangan ku. Sebenarnya masih terlalu dini untuk memejamkan mata. 21.09. Sayup-sayup ku dengar lantunan Kalam-Nya. Dari seorang pejuang hafidzah yang berada satu kamar dengan ku. Alunannya perlahan mengantar ku ke alam tak sadar.
بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ
Dalam mimpi aku melihat bahwa aku berdiri di panggung kehormatan dengan toga hitam bergordon Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan berslempang nama ku. Fathimah Az-Zahra S.Psi.  Ku lihat ayah ku berdiri melambai dari kejauhan. Tampak dari ku air mata berlinang. Saksi bahwa anaknya memiliki pendidikan sederajat dengannya dengan mengemban amanah masyarakat. 
Suara blits kamera terdengar. Seolah memotret diri ku. Kilau cahayanya sontak membuat ku tersentak beringsut mundur. Saat itulah aku terhempas ke dunia nyata. Mimpi ku kelewat sempurna. Padahal proposal skripsi saja aku belum tuntas. 
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar