Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TIBA-TIBA NYANTRI DI MALANG

Oleh: Fitriatul Wilianti

Dor.. dor… dor…. aku mengetuk pintu kamar mandi, "Buruan Ay..aku belum mandi". Sementara pintu mabna sebentar lagi akan di tutup, suasana semakin menegangkan saat isti'lamat kembali mengingatkan dengan nada khasnya. 
"Dimohon kepada adek-adek  yang masih dikamar untuk segera turun ke bawah, karna dalam hitungan ke 10 pintu mabna ditutup, 1.. 2..3.." 
Sampai hitungan ke 4 akhirnya temanku keluar dari kamar mandi, tanpa pikir panjang aku mulai mandi dengan sangat terburu-buru.  Mungkin sebagian badanku ada yang belum basah, bayangkan saja aku mulai mandi pada hitungan ke 4 dan keluar pada hitungan ke 7. Teman kamarku semuanya sudah pakai seragam sedangkan aku masih menggunakan handuk. Jangan berpikir aku sempat untuk dandan kerudung pun aku perbaiki di jalan. Ini semua terjadi bukan karena kemalasanku tetapi ini sebuah kewajaran saat ritual mandi berlangsung. Kalian bisa menalarnya sendiri setiap kamar diisi 10 santri dengan 1 kamar mandi, terpaksa kami harus menembus kelambatan mandi cewek pada umunya dengan kata lain asal basah. Sangat menantang bukan? itu hanya sebatas cerita di pagi hari yang membuat setiap detikku begitu berharga.
Setelah ritual mandi yang menantang aku mulai benci ma'had, tidak suka musyrifah, dan ingin segera keluar dari MSAA. Padahal itu baru hari ke-2 ta'aruf mabna dan perjalanku masih panjang. Setelah melewati hari baruku, hari selanjutnya  adalah hari pertama aku masuk kuliah, hari yang panggil ku tunggu. Kubayangkan ada dosen keren di depan kelas, teman kocak di sebelah tempat duduk, materi baru yang menggugah. Semua cerita kakak tingkat tentang dunia kampus aku bayangkan satu persatu. Pagi itu aku berangkat ke fakultas dengan teman yang baru saja aku kenal, kebetulan dia sekelas denganku. Kami berangkat dengan penuh semangat, sampai di fakultas kami mulai mencari ruang H.302. Aku beranikan diri bertanya pada seorang dosen yang kebetulan ada pada saat itu, aku lupa wajahnya sekarang yang jelas itu dosen perempuan. Setelah aku memberitahukan ruang kelas beliau menunjuk ke arah Home teater, aku tidak yakin itu ruang kelasku. Mungkin sebelum kami ada mahasiswa lain yang bertanya dimana Home teater, akhirnya aku dan temanku mulai berjalan mengikuti rombongan dengan ragu-ragu. Pembelajaran pun dimulai diawali dengan dosen memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa inggris, aku sangat bingung bagaimana mungkin jurusan ku bahasa arab mendapati dosen memperkenalkan diri dengan bahasa inggris. 
Aku bertanya kepada seseorang di depanku dengan sangat kaku. “Mba ini jurusan apa?” Dia menjawab, “Sastra Inggris”. Aku mulai sadar ternyata kami salah kelas, kemudian aku dan temanku keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan karna aku malu dan sungkan dengan dosennya. Karena waktu terus berjalan akhirnya dengan sangat terburu2 kami berangkat ke gedung B dan menemukan ruangan B302. Karena takut telat aku langsung masuk ke ruang itu dan mulai mencari tempat duduk. Di posisi paling depan ada satu bangku kosong yang jaraknya sangat dekat dengan dosen, tanpa pikir panjang aku langsung duduk. Belum lama aku mendarat di atas kursi dosen melayangkan pertanyaan kepadaku. "Kamu mau datang kuliah?" Pertanyaan yang aneh, jelas dating kuliah sudah rapi begini, sekilas membuatku gugub dan takut tetapi aku berusaha menenangkan diriku. Aku berusaha berpikir positif “Ahhh mungkin karna dosennya kesal karna aku datang terlambat”, akhirnya beliau bertanya lagi dengan beberapa pertanyaan yang beruntun “Kamu orang mana? jurusan apa? kelasmu dimana?” Pertanyaan itu diikuti tawa'an mahasiswa dalam kelas itu. Rasanya ingin kabur saat itu, aku mulai sadar ternyata aku salah ruangan lagi. Parahnya aku masuk di ruang semester V “Hikss sangat memalukan”, aku pikir ini awal yang baik. 
Temanku yang bersamaku tadi tidak ikut masuk, dia menunggu di luar dan hanya aku yang dijaili. Walaupun dosennya hanya berniat bercanda tetapi itu cukup memalukan bagiku, akhirnya aku keluar dan berpamitan pada dosen itu. Aku melihat jam, kami yang seharusnya masuk kelas pada jam 08:10 dan sekarang sudah jam 08:45. Dengan segala kekacauan dan kesalahan yang kami alami tadi, jelas sekali kami terlambat. Kami mulai lelah dan hampir saja putus asa, aku tanyakan ruangan yang kami cari pada salah satu teman jurusanku, dan akhirnya setelah berbagai drama yang terjadi kami menemukan ruangan itu. Ternyata nasib baik berpihak pada dosennya belum datang perasaan kami sangat legah. Itu adalah hari yang paling memalukan bagiku karna dihari awal masuk kuliah, lelah, marah, semuanya campur aduk rasanya aku tidak ingin di kenal disini. Setelah memaki apa saja yang baru aku lalui, kembali aku mengingat betapa besarnya keinginanku untuk masuk di UIN Malang. Berapa banyak uang orang tua yang aku habiskan untuk masuk di kampus ini, susahnya aku membujuk kedua orang tuaku agar membolehkan kuliah di jawa. Aku kembali menyusun semangatku dan mulai melupakan kebencian-kebencian yang aku alami. Aku berusaha membiasakaan diri dan kembali bergabung dengan teman-temanku untuk menuju sport center. 
Ini semua adalah hal yang baru bagiku, karna itu pertama kalinya aku masuk ma'had (mondok). Sebelumnya aku tidak pernah berpikir kalau ma'had UIN akan seketat ini. Dulu aku berencana untuk mondok satu tahun setelah tamat aliyah tetapi tidak jadi karena berbagai alasan. Walaupun ini hal baru bagiku aku mulai bisa menerimanya aku mulai terbiasa dengan istighosah abis sholat, aku mulai tau bagaimana itu wirdul latif, aku mulai mengenal Tahlil, Diba'an dan lain sebagainya. Di daerahku memang belum ada baca'an2 seperti itu, karna disana tidak terlalu banyak pondok salaf, hanya ada pondok tahfidz. Sepertinya pondok di daerahku lebih mengkhususkan tentang akhlak, ilmu pengetahuan agama, bagaimana memperbaiki bacaan Al-qur'an dan bagaimana menjadi penghafal al-qur'an. Itu perspektifku saja dan aku tidak tahu karena aku hanya alumni Madrasah Aliyah biasa. Sangat asing bagiku seerti  kegiatan- kegiatan ma'had. 
Pertama kali aku datang ke ma'had pendamping kamarku mulai masuk dan memperkenalkan diri dengan membawa beberapa tumpukan kitab dan formulir di tanganya. Formulir itu harus kami isi, saat melihat formulir itu ada beberapa pertanyaan yang harus kami jawab. Pernah mondok berapa tahun?, sudah berapa kitab yg dikaji?, dan beberapa pertanyaan lain yang aku jawab dengan jawaban yang sama “TIDAK PERNAH”. Aku perhatikan formulir teman2ku mereka ada yang sudah mondok selama 6 tahun, 3 tahun, pernah mengkaji kitab ini dan itu. Lagi-lagi ini membuatku minder untuk tinggal di ma'had. Hari demi hari aku lewati semuanya, aku mulai menerima shobahul lughoh, aku mulai menjalankan PKPBA yang mengganggu tidur siangku, aku mulai semangat taklim tiap malam yang sebenarnya itu waktu tidur, dan aku mulai ikhlas dan suka sholat jama'ah ke Mesjid. Aku terbiasa dan menerima semua hal tentang Ma'had. 
Sekarang aku sudah memasuki bulan ke-9 di sini, aku teringat dengan kata-kata pengasuhku “Jangan hitung tinggal berapa hari kamu disini tapi hitunglah sudah berapa banyak ilmu yang kamu dapat disini". Wahhh… sepertinya aku akan merindukan ma'had, aku akan rindu teman-teman kamar, aku akan rindu absen-absen setiap kegiatan, omelan-omelan musyrifah, aku akan rindu semua kegiatan dan aturan yang ada dalam ma'had. Tidak terasa 44 hari lagi aku akan keluar dari sini, ini haraus benar-benar aku nikmati. Musyrifah pendampingku pernah berkata "Kalian di ma'had tinggal menghitung hari lagi, jadi yg manut sama kakak musyrifah biar husnul khotimah hehehe..". Aku akan mengingat semua kata2 itu, terimakasih ma'had UIN, terimakasih kakak-kakak musyrifah. Dari sini aku tahu bagaimana itu sholawatan diba', bagaimana ngaji kitab gundul, bagaimana itu nadhoman sebelum taklim dan ilmu-ilmu baru lainnya. Aku akan semangat untuk beberapa hari terakhir menjalani gelar mahasantri karena pengalamann ini tidak akana pernah aku daptkan di tempat lain. 

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar