Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MASYARAKAT JAHILIYYAH DAN PERUBAHAN YANG DIBAWA RASULALLAH SAW

Oleh : Dihyat Haniful Fawad


Jahiliyah menurut bahasa berasal dari Bahasa Arab الجاهلية yang berarti kebodohan, ketidaktahuan. Menurut istilah, Jahiliyah adalah ketidaktahuan masyarakat Bangsa Arab khususnya dalam beragama menyembah Tuhan. Pada masa Jahiliyah, Al-Qur’an belum diturunkan dan Nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi Rasul atau utusan Allah SWT. Mereka masih menyembah berhala, patung-patung, dsb. Apakah masuk akal, bahwa manusia menyembah patung yang dibuatnya sendiri oleh manusia? Itulah zaman ketika ilmu pengetahuan termasuk yang belum diketahui oleh masyarakat pada zaman tersebut.

Ada pula ahli yang mengatakan bahwa kebodohan sebagai lawan dari ilmu pengetahuan dimana setidaknya memiliki tiga bentuk, yaitu: (1) Keadaan diri yang kosong dari ilmu (2) Keyakinan terhadap sesuatu yang kontradiktif dengan hakikat yang sebenarnya; dan (3) Melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya dari pekerjaan tersebut, baik karena diyakini secara benar maupun praduga yang salah.

Ali Ash-Shallabi menegaskan, bahwa “sebelum terbitnya matahari Islam yang agung, umat manusia hidup dalam periode sejarah yang termasuk paling bobrok secara agama, ekonomi, politik dan sosial. Mereka mengalami kekacauan yang merata dalam segenap aspek kehidupannya. Budaya jahiliyyah telah menguasai pola pikir, keyakinan, pandangan, dan isi jiwa mereka. Kebodohan, hawa nafsu, kebejatan, kerusakan moral, serta kekejaman dan kekejian telah menjadi ciri paling khas dari budaya jahiliyah yang menghegemoni umat manusia.”.

Tor Andrae (1960: 120-122) menegaskan bahwa berdasarkan pada deskripsi dalam Al-Qur’an, pertentangan antara Nabi Muhammad SAW (Islam) dengan kaum Quraisy Jahiliyah, memiliki dua aspek yang berhubungan erat yaitu aspek keagamaan dan aspek sosial. Aspek keagamaan bermuara pada kepercayaan tentang Tuhan dengan keharusan meninggalkan ritual sesembahan masing-masing qabilah untuk kemudian beralih menyembah Allah Yang Esa. Ditambah lagi dengan kepercayaan tentang alam akhirat yang menjadi tempat pertanggungjawaban perbuatan manusia yang belum pernah didengar oleh orang Quraisy dari nenek moyangnya. Ternyata, aspek keagamaan yang dianut oleh suku-suku jahiliyah ini sekaligus menjadi sebuah ikatan sosial yang mempersatukan anggota-anggota dari masing-masing suku. Sehingga, menganut ajaran Islam berarti dianggap keluar dari ikatan kesukuan yang telah ada dan mengubah tatanan kekuasaan pada masyarakat jahiliyah.

Islam datang dengan penuh kedamaian, Rahmatan lil ‘Alamin. Ketika Rasulullah telah diutus menjadi utusan-Nya, beliau berdakwah di Mekkah dan Madinah baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Memberikan pendidikan terhadap masyarakat Mekkah dan Madinah, materi pendidikan pada fase Mekkah dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu: Pertama, materi pendidikan Tauhid. Materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim AS yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyah. Kedua, materi pengajaran Al-Qur’an. Materi ini dapat dirinci kepada: 1. Materi baca tulis Al-Qur’an, untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’. 2. Materi menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, yang kemudian hari disebut dengan menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. 3. Materi pemahaman Al-Qur’an, saat ini dikenal dengan materi fahmi Al-Qur’an atau tafsir Al-Qur’an.
Materi pendidikan yang diberikan pada fase Madinah cakupannya sangat kompleks dibanding materi pendidikan pada fase Mekkah. Diantara pelaksanaan pendidikan Islam pada fase madinah adalah: (1) Pendidikan Ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan ukhuwah ini, Rasulullah bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu. (2) Pendidikan kesejahteraan sosial. Terjaminnya pendidikan kesejahteraan sosial, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya pokok dari kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah. (3) Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat. Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri dan anak-anaknya. (4) Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum muslimin merupakan satu state (negara) di bawah Nabi Muhammad SAW yang memiliki kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dan dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap.

Sebelum Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa yang sangat indah, masyarakat arab memiliki beberapa konsep pemikiran sastra yang biasanya dituangkan ide-idenya dalam sebuah syair dengan sastra pada masa itu. Lantas, bagaimana perkembangan sastra pada masa tersebut?  Sebagai satu sistem, sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Diantaranya adalah sisi bahan, teks sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam berbagai cara oleh masyarakat. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum daripada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahasa yang digunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakekatnya dalam rangka fungsi sastra berperan sebagai sarana komunikasi, yaitu untuk menyampaikan informasi.

Salah satu contoh dari sastra adalah Syair atau puisi. Dalam pepatah Arab, para Ulama Masyhur mengatakan, “ Sesungguhnya syair adalah tipuan dan pintunya adalah kejahatan.” Pepatah tersebut menyebabkan perdebatan antara Islam dan sastra. Al-Qur’an merupakan bahasa sastra yang tidak dapat dibandingkan dengan syair-syair buatan siapapun, syair dalam Al-Qur’an merupakan bukan sebuah tipuan, akan tetapi dalam Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sangat menarik untuk kita tela’ah dan pelajari kembali. Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sulit kita pahami supaya umat manusia ingin mempelajari dan memperdalaminya untuk mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an bukanlah sebuah tipuan, tetapi justru sebuah petunjuk yang kita harus mempelajarinya. Tidak ada pertentangan Kalamullah dengan kehidupan manusia, justru menjadi sumber fiqh kehidupan manusia. Wallahu a’lam bishshowab.

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar