Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KERETA YANG KUTUNGGU BERHENTI

Oleh Nur Sholikhah

Gemerlap cahaya malam itu masih terbayang nyata dalam pikiranku. Lampu-lampu berpendar dari gedung yang tinggi berjajar, juga dari lampu-lampu jalan yang berdiri tegar. Lalu lalang kendaraan mulai berkurang karena angin malam datang bertandang. Tapi bagiku, tak ada dingin malam itu. Angin memang sempat membelai lembut kerudung berkain tipis ini, tapi ia tak menyebarkan hawa dingin sedikitpun.

Perjalananku dari Yogyakarta memang terasa panjang, baru kali ini aku naik kereta dengan waktu yang cukup lama, kurang lebih 8 jam. Dan kini aku berhenti di kota Surabaya, menunggu keberangkatan kereta api selanjutnya menuju kota malang.

Pukul 11 malam, aku keluar dari kereta. Menghirup kembali udara kota surabaya. Aku tidak sendiri, ada banyak penumpang yang turun dan menghirup udara yang sama denganku. Tampak rasa lelah di wajah mereka, atau lebih tepatnya mengantuk. Begitupun dengan diriku, di kereta aku tidak bisa tidur. Bukan karena para penumpangnya berisik, melainkan ada hal yang mengganggu pikiranku.

Di dalam kereta, beberapa pegawai berkali-kali menawarkan makanan dan minuman.
"Nasi goreng, nasi goreng. Yang lapar silakan makan nasi goreng"
"Air, air"
"Air terjun"
"Buah, buah"
"Buanyu"

Ah, ada-ada saja cara para pegawai itu menghibur para penumpang yang memang butuh bahan bercandaan. Aku tersenyum melihat tingkah laku mereka.

Keluar dari stasiun, aku menuju ke trotoar. Di sana ada beberapa tempat duduk dari besi yang sengaja di pasang untuk orang yang berlalu lalang. Kursi-kursi itu hampir penuh oleh para penumpang, mereka merebahkan diri, ada juga yang menyelonjorkan kaki. Tas-tas tergeletak begitu saja, seperti tak berguna.

Aku menatap dalam kejauhan, rembulan kuning berpendar dilatarbelakangi langit kelam. Aku tak mau menghubungi siapapun saat ini. Meski kutahu kereta masih 3 jam lagi datang menjemput. Suasana ini, aku menyukainya. Jarang sekali dalam hidupku bisa menikmati malam di tengah kota metropolitan.

Biasanya hanya terkukung dalam kamar, menatap layar laptop, handphone, buku atau hanya lembaran-lembaran kertas kosong. Bahkan terkadang hanya menatap lampu yang berpijar di atap rumah, tepatnya di bawah plafon.

Perasaanku terasa sedikit lebih damai dari pada ketika di dalam kereta tadi. Aku bisa menikmati sunyi, meski terkadang suara deru sepeda motor atau mobil menyeruak kembali. Aku tak peduli. Kuselonjorkan kaki, duduk di sebuah kursi, menatap jalanan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi.

"Berapa tingkat polusi di kota ini?" Gumamku. Kendaraan bermotor yang tak henti-hentinya mengitari jalanan kota telah menyumbang banyak polusi udara. Gedung-gedung besar itu juga pasti menggunakan AC yang juga turut menyumbang pemanasan global.

"Berapa energi listrik yang dibutuhkan untuk menyuplai kehidupan di gedung-gedung besar itu?". Sementara di negeri ini energi listrik terbesar disumbang oleh batu bara. Dari usaha pertambangan ini kutahu banyak mudharatnya bagi lingkungan dan rakyat di sekitarnya.

"Mengapa anak itu bermain sendiri di tengah malam, di depan stasiun pula? Apa dia itu anak tuna wisma?" Pertanyaan itu berlanjut saat aku melihat seorang anak perempuan yang sedang bermain seorang diri. Dia mengenakan kaos merah dan rok panjang biru muda. Wajahnya tak tampak kesedihan sedikitpun, ia periang. Meski bermain seorang diri, ia tak merasa sepi. Dia masih bisa tertawa, bahkan berbicara sendiri.

Dan pikiran tentang anak itu berlalu, berganti pada seorang lelaki setengah baya di sampingku. Dia berbaring di kursi panjang, terlelap dalam dekapan malam. Tasnya dia letakkan di samping kursi tanpa permisi. Wajahnya tampak lelah, mungkin ia usai pulang kerja atau merantau di kota milik orang. Suara dengkur terdengar, "ah, tidurnya nyenyak sekali". Batinku.

Pandanganku beralih pada seorang penjaga toko modern. Dia lelaki, masih muda tampaknya. Mungkin umurnya masih sekitar 20 tahun lebih. Ia menjaga toko sendiri, karena salah satu temannya baru saja melepas seragam dan beranjak menutup pintu toko dari luar. Toko modern itu buka 24 jam untuk memenuhi permintaan pasar karena area tersebut merupakan area peristirahatan. Tempat berbaring bagi para penumpang yang terdampar sementara di stasiun, atau bagi para pekerja yang tak kunjung pulang.

Pandanganku semakin lama semakin menjauh, cahaya lampu mulai pudar, begitupun rembulan. Aku merasakan ketenangan, aku beralih pada suasana yang berbeda. Aku bertemu dia, seseorang yang ingin ku jumpai di kota ini. Dia tersenyum lirih, aku pun menimpali.

"Kamu di sini sendiri? Mengapa tidak menghubungiku? Kalau aku tahu kau di sini, setidaknya aku bisa menjadi teman bicaramu atau teman minum kopi dan makan pop mi?"

"Aku hanya singgah sebentar saja, pukul 2 dini hari keretaku akan datang."

"Sekarang sudah hampir pukul 2, ayo bangun! Keretamu tak akan menunggumu jika kau terlambat." Senyum itu berbinar lagi di wajahnya.

Selembar daun jatuh tepat di wajahku, aku terkejut dan membuka kedua mataku. Aku masih mendekap erat tas ranselku, jam tangan juga masih melekat di pergelangan tangan kiriku. Jarum pendeknya menuju ke angka 2. Aku berdiri, bergegas menuju pintu stasiun dan menanti kereta berhenti.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar