Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ISLAM AGAMA YANG BIADAB KARENA MELEGALKAN PERBUDAKAN!!

Oleh : Dedi Hidayat

Zaman sekarang perbudakan telah menjadi suatu yang ilegal, ditolak oleh dunia internasional dan diperangi oleh seluruh hukum yang ada. Perbudakan dianggap sebagai suatu kejahatan kemanusiaan yang pelakunya dapat dijatuhi hukum pidana. Di awal kemunculan islam, perbudakan terlihat secara visual seperti direstui di dalam islam. banyak dari teks-teks keislaman menanggapi tentang perbudakan dan banyak dari umat muslim pada masa itu yang memiliki budak. Bahkan termasuk Rasulallah dan para sahabat beliau juga memiliki budak. Sehingga pada zaman modern ini, banyak bermunculan kecaman dan celaan keras dari orang-orang non-muslim dan musuh islam. Mereka  menyatakan bahwa islam adalah agama yang biadad karena memperbolehkan dan meng-aplikasikan praktek perbudakan.

Perbudakan bukanlah produk islam

Jauh sebelum islam datang, sistem perbudakan sudah terlebih dahulu ada dan dipraktekkan hampir oleh setiap peradaban-peradaban terdahulu di dunia. Tidak ada satupun peradaban selain peradaban modern saat ini, yang menolak, menentang, apalagi menghapuskan sistim perbudakan.

Dahulu perbudakan dianggap sebagai realitas hidup yang diterima oleh seluruh kalangan masyarakat. Bahkan menjadi sendi dasar atau salah satu pilar penopang kehidupan sosial dan ekonomi. Bagi majikannya, seorang budak adalah aset kekayaan yang produktif. Budak sudah menjadi barang dagangan yang ramai di pasaran dan merupakan salah satu komoditas utama.

Budak secara fisik adalah manusia, namun secara nilai, status dan kedudukan, seorang budak setara dengan hewan ternak. Memiliki budak, memperkerjakan, memperjualbelikan, menukar, mempertaruhkan, mewariskan, bahkan dijadikan mahar pernikahan, semua itu merupakan suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan dilegalkan secara hukum di seluruh penjuru dunia.  Semua kebudayaan besar yang pernah ada di muka bumi, termasuk Bangsa Persia, Romawi, Babilonia, dan Yunani. Dan para tokoh Yunani, seperti Plato dan Aristoteles pun hanya mendiamkan tindakan ini.

Sebab-sebab seseorang menjadi budak

Jauh sebelum peradaban modern ini, dahulu di sana-sini orang orang sudah memiliki budak. Ada banyak sekali cara atau sebab seorang dengan gamblangnya menjadi budak, diantaranya karena faktor keturunan, anak yang terlahir dari orang tua yang berstatus budak maka akan berstatus sama dengan orang tuanya yakni menjadi seorang budak.

Kemudian karena kalah perang atau menjadi tawanan perang. Pada zaman dahulu peperangan antar kabilah, suku, atau golongan adalah hal yang biasa terjadi dan pihak yang kalah secara legal akan menjadi budak oleh pihak yang menang. Jika peperangan tidak berakhir dengan kekalahan, maka tawanan perang akan menjadi budak bagi pihak yang menawannya.

Sedemikian mudahnya bahkan orang yang memiliki hutang bila tidak mampu melunasinya pada hari yang telah ditentukan. Maka, ia atau salah satu dari anggota keluarganya akan diserahkan kepada si pemberi hutang untuk dijadikan seorang budak. Hal ini menunjukkan bahwa pada peradaban-peradaban terdahulu, masyarakat miskin memiliki kemungkinan yang amat besar untuk menjadi budak karena himpitan ekonominya.

Selain itu kasus-kasus penculikan juga sering terjadi. Biasanya para wanita dan anak yang tanpa pengawasan orang dewasalah yang sering menjadi korban penculikan. Setelah diculik meraka akan dijadikan budak dan diperdagangkan. Banyak lagi sebab-sebab lain yang bisa membuat orang jatuh ke dalam perangkap perbudakan, seperti anak yatim yang tidak ada pengasuhnya, pemungutan anak yang terlantar atau kesasar di dalam sebuah perjalanan, melakukan tindakan kurang sopan atau mengeluarkan kata-kata kotor kepada bangsawan.

Sebab menjadi budak dalam syari'at islam

Dunia konvensional pada masa sebelum dan awal kemunculan islam mempunyai banyak sebab yang menjadikan manusia legal untuk diperbudak. Sebaliknya, dalam islam hanya tersedia satu sebab manusia itu boleh diperbudak, yakni orang kafir yang menjadi tawanan perang. Inilah satu-satunya sebab perbudakan didalam Islam, bukan dengan cara perampasan manusia, ataupun menjual orang merdeka dan memperbudak mereka sebagaimana umat-umat yang lain.

Hanya seorang tawanan perang dengan status kafirlah yang boleh untuk diperbudak. itupun terlebih dahulu nasib mereka dihadapkan pada beberapa pilihan.  jika mereka tidak masuk islam, maka boleh jadi mereka akan dijadikan budak, dibebaskan dengan tebusan atau mungkin tanpa tebusan, bahkan bisa jadi dibunuh. Dalam hal ini panglima perang-lah yang berhak memutuskan. Dan keputusan yang diambil terhadap mereka adalah untuk kemaslahatan umat islam dan manusia.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh  membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti (QS.Muhammad: 4)

Islam menyediakan banyak pintu kemerdekaan bagi para budak

Hanya ada satu pintu untuk masuk, namun ada banyak pintu untuk keluar. Begitulah pintu perbudakan dalam Islam, pintu kemerdekaan terbuka lebar untuk melepaskan budak dari perbudakannya, menjadi seorang yang bebas dan merdeka atas dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa islam ditengah dunia yang sedang menikmati perbudakan, sebenernya malah menolak dan berupaya menghapuskan perbudakan.

Islam menganjurkan kaum muslimin untuk membebasan budak. hal ini tertera dalam Q.s. al-Balad (90): 11-12 dan Hadis riwayat al-Bukhârî, Muslim, Abû Dâwud dan al-Nasâî yang menyebutkan bahwa siapa saja yang memerdekakan seorang budak mukmin maka Allah akan memerdekakan setiap anggota badannya dari neraka.

Islam membuat pembebasan budak sebagai sanksi/denda berbagai kesalahan, yaitu: (1) Memerdekakan budak sebagai sanksi pembunuhan tidak sengaja (Q.s. al-Nisâ [4]: 92). (2) Memerdekakan budak sebagai sanksi melanggar sumpah (Q.s. al-Mâidah [5]: 89). (3) Memerdekakan budak sebagai sanksi zhihâr (Q.s. al-Mujâdilah [52]: 2). 
Tak hanya sampai disitu, selanjutnya Islam memberikan fasilitas untuk usaha pembebasan budak dari zakat, infaq dan sedekah dalam Q.s. al-Nûr [24]: 33 dan Q.s. al-Tawbah [9]: 60.

Islam mengangkat derajat budak, dan mereka diperlakukan dengan amat baik

Walaupun terlihat seperti memperbolehkan perbudakan, sebenarnya islam menolak adanya perbudakan. Meskipun dilakukan secara perlahan-lahan dan tidak langsung secara frontal menghapuskan perbudakan. Islam datang dengan membawa solusi agar perbudakan tidak langgeng di atas bumi ini. Apa yang disyari'atkan islam adalah untuk menyelamatkan manusia dari perbudakan, mengangkat derajatnya, dan secara berangsur-angsur memberi solusi pembebasan atau kemerdekaan.

Hukum islam muncul pada era di mana perbudakan sudah menjadi sesuatu yang umum. Oleh sebab itu islam sebagai agama dengan wawasan yang luas, tidak mensyari'at kan para penganutnya yang memiliki budak untuk langsung begitu saja membebaskan budak-budak mereka. Islam menyadari bahwa melepaskan budak tanpa persiapan justru akan amat membahayakan dan mengakibatkan kesengsaraan yang lebih besar bagi si budak, majikan, dan juga masyrakat. Budak sudah seperti harta kekayaan sang majikannya, tentunya akan amat berat dan merugikan apabila harta kekayaan itu dilepaskan begitu saja. Perbudakan sudah terlanjur menjadi pilar atau salah satu sendi perekonomian. 

Jika budak dilepas begitu saja dari majikannya, maka siapa yang akan menghidupi atau memberi makan mereka. Sebagian besar dari para budak belum siap untuk dilepaskan, mereka akan kesulitan mencari penghidupan, tempat tinggal, pekerjaan, dan makanan. Banyak dari para budak, terutama anak-anak dan para wanita yang terlebih dahulu harus diajari dan dibekali pengetahuan agar dapat bertahan hidup, mandiri, dan mampu melindungi diri sendiri sebelum dilepas oleh majikannya. Bahaya seperti penculikan menjadi ancaman besar bagi mereka, dan akan membuat mereka kembali di perbudak.

Oleh karena itu islam membiarkan para budak atau hamba sahaya untuk tetap bersama majikannya yang muslim. tujuannya utamanya adalah agar para budak atau hamba sahaya itu mendapat perlindungan, tempat tinggal, dan penghidupan. Islam merintahkan agar para majikan memperlakukan budaknya dengan baik. mengangkat derajat seorang budak, dan bahkan budak dianjurkan untuk diperlakukan selayaknya saudara. Sang tuan atau majikan dianjurkan memberi budaknya pakaian seperti yang ia pakai, makanan seperti yang ia makan, dan di larang meng-aniaya, melukai, atau menyakiti budak. Islam mengajarkan etika yang mulia dan baik terhadap budak.

Jadi sebenarnya sebelum islam datang, terlebih dahulu perbudakan sudah merupakan hal yang umum diseluruh belahan dunia, dan tidak ada satupun pihak, baik agama, kerajaan, atau peradaban-peradaban besar yang berfikir untuk menghapuskannya. adalah pernyataan yang salah, bahkan bertentangan, apabila islam dinyatakan merestui perbudakan. Justru nash-nash dan syari'at di dalam islam berupaya untuk menghapuskan perbudakan. Hanya saja islam tidak menghapuskan perbudakan secara langsung, agar tidak berdampak negatif kepada budak itu sendiri atau masyarakat. 



Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar