Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ASYIKNYA JADI SANTRI

Oleh : Achsanul Fikri Arrizki

Hari itu terasa berbeda dari sebelumnya, karena pada hari itu seorang anak yang baru lulus dari sekolah dasar akan meninggalkan kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan disuatu pondok pesantren. Suatu hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan sama sekali olehnya. Hal yang bahkan sedikitpun tak pernah terpikirkan dikepalanya. 
Wajah yang muram dan lesu terlihat jelas dimatanya, wajah seorang anak kecil berumur 12 tahun yang akan hidup jauh dari orang tuanya. “kamu tidak apa-apa kan?” sapa ayahnya yang sedikit memaksa hatinya untuk tega terhadap anaknya. “iya, aku tidak apa-apa” jawab Khoirul dengan menundukkan wajahnya menghadap tanah yang sedikit basah bekas hujan semalam, seakan menggambarkan matanya yang sedari tadi menggenang air mata yang ditahannya untuk jatuh. 
Hari itu, semua calon santri dari penjuru nusantara datang mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikannya di pesantren. Terlihat Khoirul dan ayahnya yang sudah menunggu sedari tadi, karena memang Khoirul dan ayahnya berangkat petang karena jauhnya perjalanan yang harus ditempuh. 
Selepas pendaftaran usai dilakukan Khoirul dan ayahnya, mereka langsung diantar oleh pengurus untuk menuju kamar yang akan ditempati Khoirul nanti. Mereka datang paling awal, jadi Khoirul pun tak perlu repot-repot berebut almari yang tersedia, karena memang sudah wajar di dalam sebuah pesantren, jika seorang santri datang terlambat maka akan mendapat almari yang sedikit koyak. 
Seusai menata barang dan pakaian, ayah Khoirul pun memilih untuk beristirahat sebentar, sembari melepas penat karena panjangnya perjalanan yang telah ditempuh. Sembari beristirahat, ayahnya berusaha untuk menguatkan anaknya agar tegar hidup dipesantren. Tak lupa juga ayah Khoirul menasehatinya bahwa belajar di pesantren tak lain tak bukan hanya untuk kebaikan dirinya. 
Dua jam sudah berlalu, matahari pun sudah mulai lelah untuk menampakkan diri dan memilih untuk beristiraharat diufuk barat. Saatnya ayah Khoirul untuk kembali pulang, meninggalkan anaknya seorang diri menghadapi beratnya lingkungan yang baru, orang baru, dan kegiatan yang baru. 
Di hari pertama dia dipondok, dia terlihat sangat murung. Menangis ketika mandi, menangis sampai matanya lelah dan tertidur di suatu malam. Menangis merupakan rutinitas harian yang selalu khoirul kerjakan, tanpa seorang pun yang memandang. Itulah tahun pertama yang amat sangat berat untuk Koirul kerjakan. Dimana dia harus berbagi makanan kepada teman, berbagi tempat tidur kepada teman, harus mengantri ketika mandi, dan masih banyak hal yang tak pernah Khoirul lakukan sebelumnya. 
Tiga tahun berjalan begitu cepat. Kesedihan demi kesedihan dipertama kali di pondok mulai terkikis habis dengan sendirinya. Waktu perlahan tapi pasti memakan kesedihan di dalam dada Khoirul dan menggantinya dengan suatu kenyamanan tiada tara. Bahkan ditahun ketiga itu, dia mulai jarang untuk pulang. Khoirul lebih senang menghabiskan waktunya di pesantren, di mana banyak sekali teman, banyak sekali canda dan tawa yang menghiasi hari. 
Hari-hari selanjutnya terasa begitu menyenangkan, kebersamaan yang selalu dirasakan itulah yang membuat Khoirul betah di pesantren. Asyiknya berebut kamar mandi dan saling berdebat siapa yang harus pertama kali mengantri dan mandi. Suasana makan bersama yang diselingi canda tawa. Saling menopang ketika uang bulanan belum juga datang. Semua dilakukan dengan hati yang lapang untuk membantu teman yang membutuhkan. 
Waktu tetaplah waktu, dia akan terus berjalan tak peduli meskipun itu momen yang berarti terjadi. Hingga tibalah saat dimana Khoirul harus kembali dan mengakhiri momen yang tak terlupakan ini. Dia harus kembali dan melanjutkan estafet perjuangan ayahnya, dan hanya bisa mengenang momen berharga dalam hidupnya. 
Dunia memang cepat berlalu, bak putaran roda yang terus melaju. Khoirul yang dulu menangis karena harus tinggal di pesantren kini dia menangis karena harus meninggalkan pesantren. Di malam terakhir dia tinggal dipondok dia mulai menyadari bahwa dia telah salah menilai pesantren. Pesantren yang dianggapnya seram kini berubah menjadi teman, karena di pesantren ia melalui banyak hal yang tak terlupakan. 
Karena jadi santri itu seru tanpa adanya rasa belenggu. Karena jadi santri itu asyik tanpa rasa terusik. 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar