Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

WARNA-WARNI DI PONDOK PESANTREN

Oleh : Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Tentunya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Pondok Pesantren. Kebanyakan santri menyebutnya sebagai penjara suci. Pernah menjadi fikiranku, mengapa harus disebut penjara suci? Menurutku, mungkin karena pondok itu tempatnya santri dikekang, tidak boleh keluar seenaknya. Bak seperti napi yang dipenjara dalam jeruji besi. Kata “suci” menyimpan makna bahwa santri adalah insan yang dituntut untuk belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama. Dilatih untuk belajar hidup mandiri, mempersiapkan diri menghadapi lika-liku kehidupan kelak di masyarakat yang sesungguhnya. Membentengi diri dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Pondok Pesantren bisa disingkat dengan sebutan ponpes. Keberadaan ponpes sudah ada sejak zaman dahulu. Adakalanya pondok pesantren salaf/ salafiyah, maupun pondok pesantren modern. Dengan segala ciri khas didalamnya, ponpes masih eksis hingga kini. Sekarang pondok pesantren sudah semakin menyebar luas. Bahkan pondok pesantren yang khusus untuk tahfidz alqur’an lagi trend dimana-mana. Padahal pondok kitab pun, jika ada yang ingin tahfidz pasti juga ditampung.Santri pun tidak pandang umur. Mulai dari kecil hingga dewasa pun bisa menjadi santri. Terkadang sebutan santri tidak harus orang yang tinggal dan belajar di pondok. Namun, pernah kumendengar istilah “santri kalong” yang berarti seseorang yang mengaji dipondok, tetapi tidurnya dirumah sendiri alias pulang.

Seorang santri dikenal dengan rasa kebersamaannya. Karna memang mereka tinggal dan belajar dalam naungan yang sama, yakni pondok pesantren. Mulai pagi, hingga menjelang pagi lagi mereka melakukan kegiatan bersama dilingkungan pondok. Biasanya pondok pesantren juga mempunyai madrasah untuk sekolah para santrinya. Namun tidak menutup kemungkinan, santri itu juga sekolah diluar pondok. Bagi seorang mahasiswa yang ingin mondok, juga disediakan pondok khusus mahasiswa. Contohnya, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Disana ada yang namanya “Ma’had Sunan Ampel Al-Aly”, yakni sebuah pondok untuk mahasiswa baru UIN selama 1 tahun. Para mahasiswa baru diwajibkan tinggal disana serta mengikuti segala agenda dan peraturan didalamnya. Setelah 1 tahun disana, mahasiswa atau juga disebut mahasantri, bisa memilih untuk melanjutkan maupun keluar. Adapun yang ingin melanjutkan, harus dengan syarat menjadi musyrif/ah (pengurus Ma’had Jami’ah).

Selain ada pondok didalam kampus, ada banyak juga pondok untuk mahasiswa diluar kampus. Terkadang pondok-pondok itu milik salah satu dosen dikampus. Kegiatannya mirip seperti diponpes pada umumnya. Mungkin untuk santri dari kalangan mahasiswa, jam ngajinya juga berbeda dengan santri yang tingkatan SD-SMA se-derajat. Biasanya kegiatan ngaji dimulai ba’da shubuh, dilanjut nanti ba’da maghrib sampai pukul 21.00. untuk perizinan perpulangan dan masuk pondok ada juga yang menyesuaikan tanggal masuk kampus, tetapi juga ada yang mendahului kampus.

Tentunya nyantri di masa muda dengan nyantri dimasa dewasa akan terasa perbedaannya. Beruntunglah kalian yang sudah nyantri sejak kecil. Karena memori yang terekam dimasa kecil sangat kuat dan akan teringat kembali dimasa dewasa. Jika dimasa kecil sudah rajin belajar dengan sungguh-sungguh, maka kemungkinan besar ingatan materi pelajaran diwaktu kecil terekam kembali dimasa dewasa dengan mudah. Fenomena seperti ini membuktikan seperti dalam peribahasa, “seperti mengukir diatas batu”. Ketika sudah dewasa, bagaikan mengukir diatas air. Orang yang mau belajar, tidak memandang usia. Siapapun boleh belajar dan mengeyam pendidikan yang layak. Akan tetapi, memori otak ketika dewasa, tidak sekuat ketika diwaktu kecil, Meskipun ada juga orang yang kalau belajar mudah faham dan kuat ingatannya.

Kembali tentang perihal pondok pesantren. Pasti yang pernah nyantri dipondok tidak diragukan lagi pernah mengalami makan bersama dalam 1 talam, tidur bersama diruang yang luas, lemari yang sangat miminalis, antri kamar mandi, dihukum, dsb. Banyak cerita dan kenangan yang terukir didalamnya. Orang-orang yang masih bertahan dipondok, mereka luar biasa dan merupakan orang-orang pilihan. Segala kegiatan yang dilampaui mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhya. Hidup diponpes merupakan miniatur masyarakat dikemudian hari. Dengan segala keberagaman yang ada, mereka masih dalam satu tujuan yakni menuntut ilmu mengharab sang ilahi rabbi (Allah swt). Mau sholat mau ngaji, semua diabsen. Mau keluar, harus izin terlebih dahulu. Semua itu dilakukan dengan niatan untuk mendisiplinkan santri. Karena peraturan, pastinya ada sanksi bagi yang melanggar. 

Serangkaian cerita diponpes, pasti akan terkenang oleh seorang santri. Apalagi ketika mereka sudah lulus, sudah saatnya mereka mengamalkan pengalaman dan segala ilmu yang didapatkan dalam masyarakat. Seorang santri identik diandalkan untuk memimpin acara-acara keagamaan di masyarakat. Seorang kiai pun, berangkat dari dulunya seorang santri. Harus siap sewaktu-waktu ditunjuk untuk menjadi imam. Imam bukan hanya imam untuk sholat jamaah, namun imam yang berarti pemimpin, baik dalam sholat, pengajian maupun acara lainnya. Seorang santri yang mondok, pastinya sangat mengharap mendapat barokah dari kyainya. Karena barokah dari kyai akan mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang dimudahkan jalan hidupnya. Semua itu tak lepas dari niat untuk mondok karna lillahi ta’ala. Jadi, mengharap ridho Allah swt yang paling utama.

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar