Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TRADISI MERARIQ DARI PERSPEKTIF KACAMATA AGAMA DAN ADAT ISTIADAT LOMBOK (TRADISI KAWIN LARI “MERARIQ” SUK SASAK DI LOMBOK)


Oleh : saldi
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengulas lebih dalam mengenai tradisi kawin lari “merariq” dan bagaimana tata cara pelaksanaanya yang mana terjadi di suku Sasak tepatnya di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tradisi kawin lari atau dalam bahasa Sasak disebut dengan “merariq” ini merupakan tradisi yang sejak dulu sudah ada dan turun temurun dari nenek moyang suku Sasak. Tradisi ini dilakukan oleh calon pengantin laki-laki kepada calon pengantin perempuan baik sebelumnya sudah ada perjanjian antara keduanya atau belum. Tradisi ini dilakukan diawali dengan cara calon pengantin lelaki membawa lari calon perempuan maksimal tiga hari di rumah calon lelaki tersebut. Selama tiga hari itu mereka saling mengenal dan jika mereka sudah saling setuju maka langsung menentukan waktu perkawinanya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Tradisi ‘merariq’ sampai sekarang masih bertahan dan terus dikembangkan di pulau Lombok. Tradisi tersebut merupakan salah satu rangkaian adat yang harus dilaksanakan sebelum menuju ke kursi perlaminan. Hasil riset lapangan yang sudah dilakukan menunujukkan bahwa ada yang berbeda pandangan mengenai hukum pelaksanaan tradisi ‘merariq’ baik dari prespektif adat maupun agama. Ada beberapa aliran agama islam yang tidak setuju dengan tradisi tersebut karena tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi, mayoritas muslim di pulau Lombok meyakini bahwa tradisi tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam selagi dilakukan dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh kepala suku tanpa melanggarnya. 
Latar belakang dilakukan penelitian mengenai tradisi ‘merariq’ atau kawin lari adalah mengungkap fakta yang unik, tersembunyi dari pelaksanaan tradisi tersebut. Dengan kita mengetahui tradisi tersebut maka diharapkan kepada bangsa Indonesia akan tahu lebih mendalam mengenai keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Kawin lari atau ‘merariq’ merupakan salah satu warisan tradisi dari nenek moyang suku Sasak tepatnya di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat yang bertahan sampai sekarang. Secara garis besar pelaksanaanya yaitu pihak laki-laki membawa lari calon perempuan ke rumah laki-laki untuk dimintai persetujuan menikah diantara mereka baik sudah direncanakan ataupun belum.
Istilah merariq berasal dari kata dalam bahasa Sasak “berari” yang artinya berlari dan mengandung dua arti. Arti yang pertama adalah “lari: inilah arti yang sebenarnya”. Arti yang kedua adalah keseluruhan dari pelaksanaan perkawinan menurut adat sasak. Tindakan melarikan diri adalah tindakan membebaskan sang gadis dari ikatan orang tuanya serta keluarganya. Melarikan ini merupakan tindakan dari si pemuda dengan atau tanpa persetujuan si gadis yang diinginkanya untuk mengambil si gadis dari kekuasaan orang tua atau keluarganya. Adat membuka kesempatan bagi pemuda dan gadis-gadis untuk bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Misalnya saja pada waktu menanam padi di sawah, mencakul di ladang, mengambil air di sungai, dan sebagainya. Di samping waktu yang tidak disengaja tersebut, adat juga memberikan kesempatan untuk berkenalan semakin mendalam melalui suatu lembaga adat yang dalam bahasa Sasaknya disebut midang atau ngayo atau menyojag. Kedua cara tersebut digunakan untuk lebih mengenal lebih baik antara calon suami isteri dan membicarakan rencana perkawinan mereka. Dalam midang atau ngayo mereka berkenalan secara mendalam atau intim diantara mereka dengan baik dan merencakan pernikahan mereka untuk beberapa hari kemudian. Waktu, tempat dan tingkah laku pelakasanaanya diatur dalam sebuah ketentuan adat yang disebut dengan awig-awig desa. 
Di dalam aturan adat awig-awig desa terdapat aturan mengenai batas waktu yang ditetapkan yaitu pada pukul sepuluh malam. Jika selama pelaksanaan tersebut terdapat pelanggaran seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kesusilaan, adat, dan agama maka akan segera ditindaklanjuti oleh keliang setempat. Pemuda dan gadis atau dalam bahasa Sasaknya disebut dengan teruna atau bejangan dan dedare merencanakan untuk lari pada malam hari yang telah ditentukan bersama, kemudian tinggal dan bersembunyi di tempat khusus yang disebut dengan bale panyeboqan, artinya rumah untuk bersembunyi yang biasanya itu adalah rumah milik dari keluarga si pemuda dan bersembunyi di rumah tersebut selambat-lambat selama tiga hari setelah si gadis dilarikan. Untuk mengakhiri kegiatan tersebut biasanya ada utusan dari pihak laki-laki untuk datang kepada si gadis yang disebut dengan pembayun. Acara adat merariq di daerah seperti kota Ampenan, Bengkel, dan beberapa desa jarang dilakukan, akan tetapi mereka langsung merujuk pada acara terakhir yaitu melakoq atau ngendeng yang prosesnya harus meminta izin terlebih dahulu kepada keluarga dari si gadis dan sudah ada janji perkawinan antara si pemuda dan si gadis.
Dalam pengamatan dan perbincangan yang telah dilakukan dengan para tuan guru (informan) mereka telah bersepakat bahwa tradisi merarik bukanlah sebuah praktik dari agama Islam. Secara garis besar para tokoh agama telah mengungkapkan bahwa praktik tersebut secara langsung bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Namun, pengartian pelarian diri sebagai sesuatu yang tidak islami juga mendapatkan ketika mempertimbangkan dari prespektif keagamaan yang ada di pulau lombok. Para tuan guru atau tokoh dari Muhammadiyah begitu keras menolak praktik merarik ini. Mereka mengatakan bahwa ajaran-ajaran asli Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW secara ekplisit menyatakan bahwa seorang laki-laki harus melakukan peminangan (khitbah) secara resmi kepada ayah gadis bila ingin menikahinya. Menurut mereka, karena faktor inilah merarik adalah tidak Islami. Senada dengan pendapat tokoh Muhammadiyah, Muhit al-Lefaqy mengungkapkan bahwa dengan tidak meminta izin dan mencuri anak perempuan seseorang, berarti laki-laki itu jelas-jelas tidak menghargai ayah anak perempuan, yang bisa menimbulkan kekacauan sosial. Menurut Muhit, organisasi Muhammadiyah sangat jelas dalm upaya-upayanya untuk mengembalikan praktik-praktiknya yang tidak murni Islam di Indonesia kepada praktik-praktiknya yang  yang benar menurut Rasulullah SAW. 
          Berkaitan dengan hal ini, Muhit mengatakan bahwa Islam adalah sebuah agama yang sangat sederhana dan dia mencoba memperkarsai kebangkitan Islam untuk mengembalikan umat Islam kembali kepada sumber-sumber asli dan membedakanya dengan kebanyakan bid’ah oleh Muhammadiyah dianggap tidak sah. Dari prespektif ini pelarian diri adalah salah satu bid’ah yang tidak dapat diterima. Oleh karena itu, sebagai tradisi yang berkembang luas di tengah-tengah masyarakat umum, tradisi merarik perlu dikritisi agar lebihbanyak memberikan maslahat daripada mudharat. Ini tidak berarti harus membuang tradisi itu secara keseluruhan. Tetapi, dengan memelihara tradisi yang baik dan mengambil cara lain yang lebih baik, sesuai dengan kaidah: “ Al-mubafazah ala al-qodim al-shalil wa al-khuzu bi al-jadid al-aslah”. Kedua sikap ini, antara mempertahankan dan mengambil, harus dipegang secara adil dan seimbang, karena tidak mungkin hanya dipakai salah satu saja.
Adapun cara-cara melarikan dalam merariq : (a) malam hari dan ada perjanjian, cara ini paling sering dilakukan oleh calon si pemuda dan si gadis dimana mereka bersepakat akan melakukan pelarian bersama, bertemu pada tempat tertentu dan jam tertentu. Adapun alasan dilakukanya yaitu pertama, untuk mengikuti ketentuan adat bahwa merariq harus dilakukan pada malam hari dan apabila pada siang hari. Kedua, untuk merahasiakan proses merariq itu supaya hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya. (b) malam hari dan tidak ada perjanjian, pada dasarnya diantara mereka berdua tidak sepakat akan melakukan pelarian bersama, bertemu di suatu tempat, dan pada jam tertentu. Alasan dilakukanya sama yaitu untuk mengikuti adat dan merahasiakan merariq mereka. Akan tetapi diantara mereka tidak ada perjanjian agar calon istri tidak dilarikan terlebih dahulu oleh orang lain dan mempercepat pernikahan. (c) siang hari dan ada perjanjian, cara ini jarang dilakukan calon suami dan istri mereka bersepakat akan melakukan pelaria+n bersama, bertemu pada tempat tertentu dan jam tertentu. Adapun alasan dilakukan pada siang hari yaitu pertama, calon gadis dan pemuda terpaksa melakukan itu sekalipun mereka faham bahwa itu melanggar adat dan mereka siap menerima sanksi. Kedua, untuk menunjukkan kepada sang gadis bahwa calon suami itu pemberani dan siap bersaing merebutkan si gadis. (d) siang hari dan tidak ada perjanjian, mereka tidak bersepakat akan melakukan pelarian bersama, bertemu pada tempat tertentu dan jam tertentu. Untuk alasanya sama yaitu karena adanya keterpaksaan dan menunjukkan keberanian dari laki-laki tesebut. Namun mereka tidak melakukan perjanjian karena tidak ingin mempercepat pernikahan dan si gadis dan orang tua menolak lelaki tersebut. Cara keempat ini oleh masyarakat Sasak disebut juga dengan Memagah atau memagel.
Pandangan masyarakat mayoritas muslim Sasak terhadap kawin lari, secara gambaran umum ada tiga pandangan masyarakat Muslim yang berbeda dalam menyikapi adat Sasak tersebut. Pertama,  pandangan mayoritas muslim Sasak yang premisif terhadap kawin lari karena beberapa alasan yaitu, (a) kawin lari (merariq) merupakan tradisi dan adat istiadat dan tidak sepenuhnya bertentangan dengan ajaran islam, (b) kawin lari (merariq) merupakan warisan leluhur (c) kawin lari (merariq) bisa meningkatkan kebahagian PASUTRI, (d) kawin lari (merariq) dianggap hal yang biasa dan lumrah. Kedua, pandangan yang tidak setuju dengan praktek kawin lari baik itu yang dilakukan suka sama suka atau tidak sama suka antara mereka. Ini merupakan pandangan minoritas orang muslim di Sasak, ada dua alasan yang mendasari hal tersebut yaitu, kawin lari dianggap bertentangan dengan ajaran islam maka dari itu dilarang dan kawin lari dianggap merendahkan harkat martabat dari pria dan perempuan yang melakukanya, seolah-olah wanita itu tidak memiliki harga diri. Ketiga, pandangan yang tidak tahu-menahu dengan kawin lari yang terdiri atas laki ataupun perempuan. Pandangan tersebut berasal dari masyarakat pedesaan dan masyarakat yang berpendidikan rendah.
Kesimpulan yang dapat saya tulis adalah Tradisi kawin lari atau dalam bahasa Sasak disebut dengan “merariq” ini merupakan tradisi yang sejak dulu sudah ada dan turun temurun dari nenek moyang suku Sasak di Lombok. Tradisi ini dilakukan oleh calon pengantin laki-laki kepada calon pengantin perempuan baik sebelumnya sudah ada perjanjian antara keduanya atau belum. Tradisi ini dilakukan diawali dengan cara calon pengantin lelaki membawa lari calon perempuan maksimal tiga hari di rumah calon lelaki tersebut. Tradisi ‘merariq’ sampai sekarang masih bertahan dan terus dikembangkan di pulau Lombok. Tradisi tersebut merupakan salah satu rangkaian adat yang harus dilaksanakan sebelum menuju ke kursi perlaminan. Hasil riset lapangan yang sudah dilakukan menunujukkan bahwa ada yang berbeda pandangan mengenai hukum pelaksanaan tradisi ‘merariq’ baik dari prespektif adat maupun agama. Ada beberapa aliran agama islam yang tidak setuju dengan tradisi tersebut karena tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi, mayoritas muslim di pulau Lombok meyakini bahwa tradisi tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar