Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TANAH SURGA KATANYA

Oleh: Daiyatul choirot

Sudah menjadi julukan memang sejak dahulu kala. Gimana tidak dari dahulu jika kita mencerna kata-kata “KATANYA” dari judul diatas pasti kita sudah tahu dan faham maksud dari kata-kata itu, kata yang familiar di telinga kita bahkan sampai dibuat lagu kala itu. Kita mungkin menganggap biasa saja dari kata-kata tersebut tapi sebenarnya satu kata tersebut mengandung makna yang mendalam bagi kita Bangsa Indonesia sendiri. 

Coba kita berfikir lebih dalam lagi kita dijajah kurang lebih 350 tahun oleh bangsa luar, sedangkan kita yang memiliki kekuasaan akan keberaneka ragam akan wilayah ini saja tidak bisa merasakan kenikmatan akan itu, justru mereka lah yang berfoya-foya dan menari-nari diatas penderitaan kita.

Bahkan sampai detik ini pun mereka masih menjajah kita namun dalam bentuk online, kejam memang. Jika kita berfikir lagi berapa saja hasil karya alam yang kita peroleh, akan tetapi justru mereka lah yang menikmatinya secara diam-diam, seakan-akan mereka lah yang mempunyai semua itu dan kita sebagai budaknya, jika kita bandingkan dengan Negara lain tidak ada Negara yang seperti Negara kita Indonesia. Yang katanya juga hasil dari percikan surga. 

Bagaimana tidak coba kita ingat lagu yang berjudul tanah surga katanya tersebut, dari lirik lagu tersebut tertulis “kail dan jala cukup menghidupimu tiada angin tiada topan kau temui ikan dan udang menghampiri dirimu” jika kita mentelaah kata-kata tersebut hanya sebuah kail dan jala itu sudah lebih dari cukup buat kita, tiada angina tiada topan, maksudnya tanpa gerangan apapun para ikan dilautan dan udang dating menghampiri kita, itu karena apa, karena sesungguhnya betapa kaya nya bangsa kita bangsa Indonesia ini, betapa limpah ruah hasil dari lautan yang diberikan ALLAH kepada kita yang tiada berhenti kita syukuri, karena begitu luas nya samudera dan lautan yang kita punya, begitupun dengan lirik selanjutnya. “orang bilang tanah kita tanah syurga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. 

Jika kita bayangkan dan berfikir dari kata-kata tersebut, tongkat kayu dan batu, yang difikiran kita mungkin yang tongkat kayu itu singkong contohnya, singkong jika kita lihat dari sisi bentuknya, sudah terlihat dhohir bahwasanya itu adalah sebatang kayu, akan tetapi jiakalau kita menaruhnya atau menanamnya di dalam tanah dan merawatnya, maka sebatang singkong tersebut akan tumbuh di dalamnya buah singkong Masya Allah memang, dan mungkin karena sangking suburnya tanah bangsa Indondesia kita ini, tanaman-tanaman lainnya yang selain singkong pun juga demikian, hanya dengan menanam dan merawatnya dengan cara menyiraminya, tak lama selang berapa hari tumbuhan tersebut akan tumbuh dengan indahnhya. 

Terus siapa yang mengatakan kalau tanah kita tanah surga…? Tentu saja para penjajah-penjajah terdahulu, mana mungkin kita orang dalam atau orang Indonesia sendiri mengatakannya, pasti kata-kata tersebut diubah tidak “katanya”, akan tetapi “Tanah kita ini tanah syurga” contohnya. Atau kata-kata lain yang menguatkan, lantas apa yang kurang kita syukuri lagi dari Bangsa Indonesia kita ini, orang luar saja mengakuinya, mengapa kita tidak…!!!
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar