Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SENDOK YANG TERTUKAR

Oleh : Nety Novita Hariyani

Tatkala surya telah tergantikan oleh rembulan, sinarnya tak ikut meninggalkan. Jika saja tak ada pantulan dari sang surya, tak mungkin rembulan dapat bersinar dengan terang. Gelap mungkin akan abadi tanpa adanya matahari, sebagai gantinya bulanlah yang menerangi di malam hari. Setidaknya kehadiran bulan mengikis rasa takut yang menghantui. Jika siang dijadikan sebagai tempat perjuangan, malam menjadi sebuah tempat peristiharatan setelah banyak menguras tenaga dan pikiran. Saatnya tubuh ini diberi jeda, beristirahat mengumpulkan semangat untuk hari berikutnya. Juga diberi asupan agar selalu fit disetiap keadaan.
“temen-temen, ayo makan! Makanannya udah siap” ajak salah satu petugas piket masak di asrama hari itu.

Mataku dan Kak Alila saling bertemu, ia memberi isyarat bahwa dirinya belum lapar. Akhirnya kami putuskan untuk makan nanti saja. Kami menyisihkan sedikit makanan yang cukup untuk kami berdua karena sewaktu-waktu bisa saja kami merasa lapar. Ku ambil wadah, memasukkan sedikit demi sedikit nasi ke dalamnya, membayangkan bagaimana proses para petani menguras keringatnya untuk kelangsungan hidup orang lain. Mulai dari menanam benih, menyiram, membajak, menjaga agar tidak dirusak oleh hama hingga membasminya, semuanya mereka lakukan dengan ikhlas. “astaghfirullah, sudah terlampau jauh aku berandai” (gumamku). Di sisi lain diri dan hatiku tak sinkron, mereka saling memberontak. Selama ini aku sering tak menghargai makanan, padahal diluar sana tak sedikit yang rela mengais makanan di tempat sampah demi mendapatkan sisa-sisa makanan yang tak layak untuk seorang manusia. Sekali lagi, ternyata berandai dibolehkan asal untuk bermuhasabah.

Hari semakin larut, namun mata belum juga terpejam. Banyak mata yang masih terjaga, bahkan ada yang memaksa dan membohongi diri demi terjaga hingga larut malam, entah itu mengerjakan tugas ataupun yang lainnya. Setelah mengerjakan tugas, ternyata benar rasa lapar hadir di antara kami seketika itu. Segera kami beranjak dari kasur bersamaan, karena kebetulan kasur kami bersebelahan. 
“Husna, kita sepiring berdua ya?” “siap, Kak Alila” aku mengiyakan.

Sedikit demi sedikit, nasi dan lauk memuaskan perut kami. Jika saja tak ada proses pencernaan makanan, nasi dan lauk mungkin tak akan pernah kita rasakan. 
“alhamdulillah, akhirnya kenyang juga ya kak” rasa syukur tercurahkan untuk dzat yang maha pemberi nikmat.

Setelah selesai makan, kami menuju dapur untuk mencuci piring dan sendok yang telah kami gunakan.
“loh,,, sendok kita sama Hus?” 
“lah iya,,, sama-sama ada gambar hello kitty, aku baru sadar kak”
“gimana kalo ketuker ya?”
“jangan sampai ketuker dong! seperti barang berharga, pemiliknya akan selalu tau mana barangnya saat kembali dipertemukan setelah hilang dari genggamannya. Layaknya seseorang berharga yang hadir dalam hidup kita, sekalipun ia pergi,  jika ia memang milik kita, ia akan kembali suatu saat. Ia tahu dimana tempat ia menaruh sandaran. Meski demikian, kita juga tetap harus menjaga agar seseorang itu selalu nyaman bersama kita, dan tak ada sedikit niatan pun untuk meninggalkan kita seorang diri” seketika ada yang memotong pembicaraan kami, namun dengan kata-kata yang begitu menyentuh.
“aaahhh, dasar bucin” ujarku.

_finish_


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar