Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEKEDAR PERAYAAN, ATAU...?

Oleh : Ilman Mahbubillah

Tanggal 17 Agustus adalah salah satu tanggal yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia diantara banyak hari bersejarah lainnya. Meskipun bangsa ini masyarakat bukan menyeluruh dihuni muslim, lagi-lagi Allah menampakkan Rahman-Nya yang tak pilih kasih pada bangsa Indonesia. Hari dimana Allah memberikan nikmat pada bangsa ini berupa kebebasan dari penjajahan atau sering disebut dengan kolonialisme yang selama bertahun-tahun mendekap.

Penjajahan atau Kolonialisme sendiri secara bahasa berasal dari kata Koloni yang bermakna pemukiman. Yang berarti sistem dimana suatu negara menguasai rakyat, daerah, dan sumber daya negara lain. Sementara kemerdekaan adalah suatu kebebasan dimana sesuatu terlepas dari segala bentuk ikatan yang sebelumnya menjadi keterbatasan dalam apapun. Jika dihubungkan dengan negara maka terbebas dalam konteks segala penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain.

Kemerdekaan Indonesia sendiri tidak didapatkan serta-merta, tapi dengan banyak perjuanagan pengorbanan. Dalam konteks ini Penjajahan adalah salah satu bentuk kedholiman, sementara melawan kedholiman yang berupa penjajahan ini diploklamirkan oleh Kyai Hasyim Asyari dengan fatwa membela negara adalah sebuah jihad. Hal ini tekadang kebanyakan orang menilai bahwa jihad adalah radikal, jihad adalah teroris, dan sebagainya sehingga mengotori kesucian ajaran jihad sendiri.

Jihad berasal dari bahasa arab yang bermakna berjuang atau berusaha. Jihad memanglah ajaran Islam, banyak sumber utamanya Al Quran dan Hadits menjelaskan tentang hal ini. Tetapi jika meninjau balik jihad pada masa Rasulullah, Sahabat,dan Tabiin sangat jelas memerangi kebathilan sedangkan saat itu Rasulullah dan seluruh pengikutnya dalam jalan kebenaran. Namun, pada zaman ini ketika kita tetap menggunakan konteks jihad pada masa Rasulullah, maka tidak salah kebanyakan orang beranggapan seperti anggapan diatas.

Zaman ini semuanya berpotensi benar dan juga berpotensi salah, jika perang atau jihad berani mati di zaman ini, maka siapa yang anda bela? Kita ini mukmin yang masih abal-abal, jugapun musuh mukmin yang abal-abal. Jika kita berperang dengan takbir sementara mereka juga sama. Dalam Islam seseorang diperbolehkan membunuh hanya ketika kita dalam kondisi terancam. Terancam disini diartikan, jika kita tidak membunuh maka kita yang terbunuh.

Dalam hal ini kita berperang atas nama apa? Harga diri? Tanya Gus Baha dalam seminar Ayat-ayat Qital Ponpes Sidogiri.
Lantas bagaimana seorang penuntu ilmu seperti kita berjihad, bagaimana kita mendapat pahala orang berjihad. Jika kita seorang penuntut ilmu, maka jihad kita adalah melawan rasa malas, melawan godaan nafsu yang bisa mempengaruhi pembelajaran. Terus melakukan kebaikan, baik sesama muslim maupun non-muslim. Berusaha melakukan sesuatu sepenuh hati, walaupun memang masih belum bisa.

Maka dengan usaha dan perjuangan seperti itulah kita mendapat pahala sebagaimana jihad pada zaman Rasulullah. Begitupun para pejuang bangsa pada saat memperjungkan kemedekaan Indonesia. Inilah pelajaran lain yang semoga dapat kita ambil dari peristiwa Kemerdekaan Indonesia, bukan berlalu hanya sekedar perayaan setiap tahun, yang kemudian menjadikan kita lupa hakikat sebenarnya makna yang terkandung dalam peristiwa ini.

Sedikit pesan dari penulis dalam menyikapi zaman ini terutama dalam menghadapi setiap perbedaan yang ada khususnya  cakupan keanekaragaman Indonesia. Satu hal yang bisa penulis pelajari disini Indonesia yang belum tentu ada di negara lain. Bahwa hakikat keindahan yang ada dalam setiap perbedaan Indonesia berada dalam setiap hati yang menginginkan kedamaian.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar