Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERGI UNTUK KEMBALI

Oleh: Arfiatul Aliyah 

Teriknya sengatan sang surya tak mampu mematahkan langkah mahasiswi itu, dengan penuh tekad ia melangkahkan kakinnya untuk pulang ke kampung halamannya. Singkat cerita ia berencana untuk memakai jasa kereta api, namun apalah daya jika tiket yang ingin dipesan sudah habis terjual, dan opsi yang ada ia harus membeli tiket kereta yang harganya lumayan mahal untuk kereta api jarak dekat. Karena hal itu ia harus berpikir ulang, apakah tetap melanjutkan rencana awalnya atau membatalkan rencanannya untuk pergi ke kampung halamannya. 
Tiba-tiba ada bapak tak dikenal yang sudah berumur menawarinya untuk memberi tambahan uang agar bisa membeli tiket pulang itu.

“ dek, kenapa ga jadi beli tiket? ” tanya bapak yang sudah cukup berumur itu dengan ditemani laki-laki yang lebih muda dari bapak itu.
“ gapapa pak ” jawab mahasiswi itu terheran karena ia merasa tidak mengenal bapak itu.
“ kenapa? Uangnya kurang? Ko ga jadi beli tiket, sini saya tambahin kalau uangnya kurang ” ucap bapak itu menebak-nebak.
“ enggak pak, gapapa ko pak ” jawab mahasiswi itu dengan raut bingung dan kaget.
“ mahasiswa kan ? mahasiswa Brawijaya? ” tanya bapak itu lagi.
Mahasisiwi itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis “ bukan pak, saya mahasiswa UIN ” lanjutnya.
“ iya, mau pulang kan ? ayo saya tambahin uangnya kalo kurang ” kekeh bapak itu karena tahu bahwa ia akan satu tujuan dengan mahasiswi itu.
“ iya pak, gausah pak. Terimakasih, saya masih ada kok pak.” Jawab mahasiswi itu dengan kekeh pula. Ia merasa bahwa bapak tua yang ada dihapannya itu benar-benar ikhlas memberi bantuan, namun bukannya ia tidak mau menerima bantuan dari bapak itu, namun ia hanya perlu berpikir ulang karena harga tiket yang 4x lipat dari harga biasannya.
“ yasudah kalau gamau, saya udah nawarin ya ” ucap bapak itu akhirnya. Dan berlalu dari hadapan mahasiswi itu.
“ iya, terimakasih pak. ” mahasiswi itu merasa tidak enak hati karena menolak bantuan dari bapak tua itu, namun ia juga merasa tidak enak hati apabila menerima bantuan dari orang yang tak dikenalnya. 
Mahasiswi itu masih tidak menyangka bahwa ia bertemu dengan orang yang mau memberi bantuan dengan ikhlas dan tanpa pamrih di kota yang cukup padat penduduk itu. Karena ia terlalu sering menemui orang yang acuh tak acuh dan bersikap bodo amat terhadap sekitarnya. Dan ia merasa senang karena dipertemukan secara tak sengaja dengan bapak tua yang baik itu.
Setelah lama berfikir, akhirnya mahasiswa itu memutuskan untuk tetap pergi ke kampung halamannya dengan tetap membeli tiket yang hargannya 4x lipat dari harga tiket kereta api lokal jarak dekat pada umumnya, untuk memecahkan celengan rindunya terhadap sang keluarga. 

“ Untuk pulang yang menyatakan pergi, Rindu yang membawannya kembali.
Pulang ke kota yang penuh kenangan, untuk melihat senyum yang mampu memudarkan kepenatan. ”


Malang, 23 Agustus 2019 



Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar